Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 24: Presdir Atmajaya Sentosa


__ADS_3

"Lelet banget jadi orang! Sengaja, ya?"


Cheryl kembali menghela napas. Ia sengaja menaiki tangga darurat untuk menikmati sedikit waktunya setelah membuang sampah ke area belakang perusahaan.


Tidak disangka Dinda sudah menunggunya di tangga darurat lantai 4. Entah wanita itu bisa membaca pikirannya atau memang sengaja mengikutinya seperti orang kurang kerjaan.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Cheryl.


"Ya, mengawasimu kerja, lah!" ketus Dinda. "Orang baru sepertimu kalau tidak diperhatikan pasti akan seenaknya."


Rasanya Cheryl ingin menjambak rambut wanita itu lalu membenturkan kepalanya ke tembok. Baru kali ini kesabarannya benar-benar diuji.


"Toh aku sudah selesai. Aku mau naik dulu kembali ke ruangan!" Cheryl menyerobot Dinda dan berjalan cepat menaiki anak tangga terakhir ke lantai lima.


"Heh! Tunggu!"


"Auw!"


Sebelum sempat Cheryl keluar dari pintu, rambutnya telah ditarik oleh Dinda. "Sumpah, ya! Baru kali ini ada karyawan sangat menyebalkan sepertimu!" maki Dinda. Matanya melotot penuh kemarahan.


Cheryl menahan agar tangan wanita itu tidak terlalu menarik kuat tambutnya. "Lalu aku harus bagaimana? Keluar dari pekerjaan ini agar kamu senang? Memangnya ini perusahaanmu?"


"Kamu .... "


Dinda mendorong kuat tubuh Cheryl sampai keluar pintu darurat. Untung saja seseorang tiba-tiba lewat dan menahan tubuhnya.


Dinda panik mengetahui di sana ada orang yang lewat. Sementara, Cheryl terkejut melihat wajah orang yang menolongnya.


"Cheryl, kenapa kamu di sini?" tanya Arsen keheraman.


Lelaki itu tak begitu paham dengan apa yang terjadi. Namun, ia meyakini ada yang tidak beres dengan kedua wanita itu.


"Em, Pak Direktur, maaf, kami tadi hanya sedang bercanda," kata Dinda.


Ia begitu khawatir mendapati direktur keuangan ada di sana. Ia takut kena marah jika ketahuan merundung karyawan lain.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arsen lagi seraya membantu Cheryl berdiri.


Cheryl mengangguk.


"Em, saya mau kembali ke tempat kerja dulu. Cheryl, apa kamu mau ikut?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Cheryl akan tetap di sini!" sahut Arsen dengan wajah tegasnya menatap tak suka kepada Dinda.


"Oh, baiklah, kalau begitu, saya permisi," pamit Dinda.


Wanita itu pergi dengan perasaan resah. Ia tidak menyangka jika Direktur Arsen mengenal Cheryl.


"Ikut keruanganku!"


Arsen menarik tangan Cheryl agar ikut bersamanya. Saat sekertarisnya hendak menghampiri untuk membahas pekerjaan, Arsen memberi isyarat agar sang sekertaris tak mengganggunya. Ia membaw Cheryl masuk ke dalam ruangannya.


Cheryl disuruh duduk, sementara ia berdiri memandangi pacarnya sembari melipat tangan di dadanya.


"Jadi, sekarang jelaskan padaku apa ini?" tanya Arsen. Ia sama sekali tidak diberi tahu jika Cheryl bekerja di perusahaan yang sama dengannya.


"Aku diterima bekerja di sini," jawab Cheryl.


"Sudah berapa lama?" telisik Arsen lebih jauh.


"Baru dua minggu."


"Sudah dua minggu dan tidak memberi tahuku?" Arsen tidak percaya sang kekasih melakukan hal itu kepadanya.


Cheryl menjawab dengan nada datar. Ia seakan malas bertemu Arsen. Kalau saja lelaki itu mau membawanya pergi, ia juga tidak perlu bekerja di sana. Keputusan Arsen membuatnya malu di hadapan Janu.


"Ya, tapi setidaknya beritahu aku kalau kamu juga bekerja di sini." Janu mendekat dan duduk di sebelah kekasihnya. Ia meraih tangan halus itu dan menciumnya. "Kalau tahu kamu ada di sini, aku akan mengajakmu makan siang bersama dan mengantarku pulang," ucapnya.


Cheryl menarik tangannya. "Jangan lupa kalau statusku masih istri orang. Nanti kamu akan kena masalah jika kelihatan dekat denganku.


Arsen merasa tak sabar. Ia meraih tengkuk Cheryl dan menarik wajah wanita itu mendekat padanya. Ia memagut lembut bibir wanita yang ia cintai dengan ciuman yang mendalam.


Cheryl berusaha menahan tubuh kekasihnya. Namun, Arsen terkesan sangat menuntut untuk terus berciuman dengannya.


Klek!


Terdengar suara pintu dibuka. Aktivitas mereka terhenti. Keduanya sama-sama membenahi penampilan yang lumayan berantakan.


"Sepertinya aku mengganggu waktu kesenangan seseorang," seloroh seorang wanita paruh baya yang baru masuk ke ruangan itu.


Arsen bergegas menghampiri wanita tersebut dengan tingkah yang sopan. Lisia, sekertarisnya, terlihat menunduk merasa bersalah tak sempat memberi tahu.


"Maafkan saya, Ibu Presdir. Silakan duduk," kata Arsen mempersilakan.

__ADS_1


Wanita itu adalah Thea Rudianto, pemegang kekuasaan tertinggi di PT Atmajaya Sentosa. Di usianya yang hampir kepala lima itu, ia masih terlihat cantik dan bugar. Ia menghabiskan waktunya untuk berkarir hingga tidak berpikir untuk menikah sampai saat ini.


Cheryl beranjak dari tempatnya. Sekilas ia tersenyum dan memberikan sapaan dengan anggukkan kepala kepada Thea. Ia memilih keluar dari ruangan itu dari pada mengganggu pekerjaan Arsen.


"Nanti aku temui lagi, ya!" lirih Arsen ketika berpapasan dengan Cheryl.


Arsen mengajak Thea duduk bersamanya. Sang sekertaris berdiri di sana bersiap-siap jika dimintai tolong oleh mereka.


"Siapa itu tadi?" tanya Thea.


"Kekasih saya," jawab Arsen malu-malu.


"Oh ...." Thea mangguk-mangguk. "Sepertinya menyenangkan menjadi muda. Tapi, aku harap kamu bisa menempatkan diri ketika berada di kantor. Kamu bisa melakukannya di tempat lain seperti hotel misalnya," sindirnya.


Arsen merasa sedikit malu. Apalagi ditegur oleh wanita yang seumuran dengan ibunya.


"Jadi, apa yang ingin Anda bahas dengan saya?" tanya Arsen mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru saja menyelesaikan pertemuan dengan pihak Minasa Persada. Mereka yang akan menjadi pemasok bahan baku perusahaan kita. Aku ingin kamu menganalisis kembali kondisi keuangan perusahaan dengan kerjasama kali ini. Apa kira-kira memang menguntungkan kerjasama yang akan dilakukan atau sebaiknya kita mencari perusahaan lain," kata Thea.


"Ah, baik, bu. Nanti saya dan tim akan berdiskusi kembali."


"Ibumu apa kabar?" tanya Thea.


Wanita itu menanyakan kabar ibunya karena hubungan mereka sangat baik. Arsen sendiri bisa masuk ke perusahaan tidak bisa dipungkiri atas kedekatan ibunya dengan Thea.


"Ibu saya baik, Beliau baru kembali dari luar kota."


"Oh, begitu? Sampaikan salamku padanya. Aku harap dia bisa meluangkan waktu untuk bermain golf bersama."


"Nanti akan saya sampaikan kepada ibu saya."


***


Hai, terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa mampir ke karya teman author, dijamin ceritanya seru. 😘


Judul: Mencuri Istri Tetangga


Author: El Banjari


__ADS_1


__ADS_2