
"Sepertinya hari ini kamu lebih cocok jika memakai dress warna hitam," ucap Janu.
Cheryl sudah merasa ada yang aneh sejak ia berangkat dari rumah. Janu memintanya memakai pakaian berwarna gelap, padahal ia sedang ingin mengenakan pakaian berwarna merah muda yang bermotif bunga-bunga. Ia terpaksa menurut karena berdebat dengan Janu akan membuang waktunya sia-sia.
Janu juga memakai pakaian berwarna gelap senada dengan dirinya, begitu pula dengan Finn yang bertugas sebagai sopir mereka.
"Ini bukan arah ke apartemen Michan," protes Cheryl. Ia sangat paham rute menuju apartemen temannya itu.
"Michan sedang tidak ada di apartemennya. Kita akan menemuimya di tempat lain," kata Janu.
"Hahaha ... Kamu seperti lebih mengenalnya dari pada aku. Awas kalau nanti kamu bohong!" ancam Cheryl.
Mobil terus melaju membelah hiruk pikuk kota metropolitan. Sesampainya di depan sebuah bangunan krematorium, Finn menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti di sini? Kita mau menghadiri pemakaman siapa?" tanya Cheryl bingung.
"Turunlah dulu!" Janu mengulurkan tangannya meraih tangan Cheryl agar keluar dari mobil. Ia memeluk pinggang sang istri yang masih merasa kesakitan saat bergerak.
Cheryl masih berpikiran positif. Mungkin Janu hendak mengajaknya menghadiri pemakaman salah satu relasi bisnisnya sebelum menemui Michan.
Ada banyak orang yang memenuhi bangunan krematorium itu. Semuanya mengenakan pakaian yang sama berwarna hitam.
Cheryl berusaha berjalan normal di samping Janu. Lelaki itu tak berbicara apapun kepadanya.
"Cheryl, kamu datang juga? Lama tidak bertemu." Hardan, salah seorang teman kuliahnya tiba-tiba datang menyapanya.
Cheryl tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang ia kenal di sana.
"Apa ... Ini suamimu?" tanya Hardan.
Janu melayangkan tatapan tajam yang provokatif menunjukkan ketidaksukaannya ada lelaki lain yang mendekati istrinya.
"Ah, iya, dia suamiku," kata Cheryl. Ia tak bisa mengelak.
"Aku tidak tahu kalau kamu akhirnya putus dengan yang dulu. Tapi, selamat, ya! Aku juga tidak bisa lama-lama di sini. Aku turut berduka cita, Cheryl. Sampai bertemu kapan-kapan!"
Hardan langsung pergi begitu mengatakan kalimat yang membuat Cheryl bingung. Ia heran kenapa Hardan justru mengucapkan bela sungkawa kepadanya.
__ADS_1
"Ayo kita ke dalam," ajak Janu.
Cheryl mengangguk. Mereka meneruskan langkah menuju ke ruang persemayaman jenazah.
Mata Cheryl terus mengarah melihat ke sekeliling. Anehnya, banyak wajah-wajah yang tidak asing baginya. Beberapa ia tahu sebagai teman kuliahnya dulu yang hadir di sana.
Langkah kaki Cheryl terasa semakin berat saat melihat susunan karangan bunga mawar putih yang ditengahnya terpasang foto yang besar. Wanita dalam foto itu sangat mirip dengan Michan.
Ia menatap ke arah Janu. "Itu ... Bukan Michan kan yang meninggal?" tanyanya.
Hatinya seakan bergemuruh. Ia takut jika firasatnya benar terjadi.
Janu tak bisa berkata-kata. Ia hanya terdiam saat mendengar pertanyaan itu.
Cheryl berusaha menegarkan hati. Ia berharap itu tidak terjadi. Namun, akhirnya ia menemukan sosok orang tua Michan yang berdiri di dekat peti mati. Di dekat peti mati itu juga lagi-lagi ada foto Michan tengah tersenyum padanya.
"Om ... Tante ...." Cheryl menyapa orang tua Michan dengan nada bergetar.
"Cheryl ... Michan ... Michan meninggal .... Huhuhu ...."
Cheryl yang baru saja mengetahui berita kematian teman baiknya tak kuasa menahan air mata. Ia ikut menangis sesenggukkan bersama orang tua Michan.
Ibu Michan memceritakan bagaimana putrinya bisa meninggal. Ia masih belum percaya jika putrinya dibunuh orang. Selama ini Michan tak pernah memiliki masalah apapun dengan siapapun.
"Aku akan membunuh orang yang membuat Michan meninggal. Dia orang paling biadab di dunia ini!" umpat ibu Michan.
Cheryl menangis sesenggukkan dengan kematian Michan. Janu ada di sampingnya, memberikan tempat bersandar.
Mereka melihat peti mati Micha dimasukkan ke dalam tungku kremasi sesuai dengan tata cara pemakaman keyakinan yang Michan anut. Jasad Michan akan dibakar dan abunya disimpan untuk mengenang kematiannya.
"Cheryl!" panggil Arsen.
Tidak disangka Cheryl juga akan bertemu dengan lelaki itu di sana. Masih belum hilang rasa marah dan kecewanya terhadap Arsen akibat kejadian semalam.
"Janu, kita pergi saja, aku tak ingin bertemu dengannya," kata Cheryl dengan nada malas.
Janu mengembangkan senyum mendengar ucapan istrinya. Ia mengajak Cheryl berjalan ke arah parkiran tempat Finn menunggu mereka.
__ADS_1
"Cheryl! Jangan pergi! Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu!" paksa Arsen.
Janu menghalau agar lelaki itu tak menyentuh istrinya. "Dia tidak ingin bertemu denganmu, menyingkirlah!" perintah Janu.
"Kamu jangan ikut campur! Ini urusan pribadiku dengan Cheryl!" Arsen tidak terima dihalang-halangi oleh Janu.
Cheryl menahan Janu yang hendak maju menghajar Arsen untuknya. "Jangan membuat keributan di rumah duka," pintanya.
"Cheryl, kejadian semalam tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku benar-benar tidak sadar melakukannya. Dokter Diana telah melakukan cara yang licik padaku, percayalah ... Jangan menghindariku." Arsen terlihat seperti orang yang putus asam ia tak ingin kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu, itu tak penting bagiku." Saat ini Cheryl masih sangat berduka. Ia tak ingin membahas masalah yang sangat tidak layak diperbincangkan di sana.
"Cheryl ... Pertimbangkan lagi hal ini. Kita bukan sekedar saling kenal sehari dua hari. Kita sudah tujuh tahun pacaran, apa aku pernah melukai perasaanku? Kenapa kamu tega memutuskan hubungan ini hanya karena satu hari melihat kekhilafan yang bahkan aku tidak menyadarinya?"
Arsen berlutut di hadapan Cheryl. Orang-orang yang lewat memandang ke arah mereka. "Kumohon, maafkan aku ...."
Janu tak ingin istrinya berubah pikiran. Semalam hubungan mereka sudah menunjukkan perkembangan. Ia tidak rela jika istrinya berpaling kepada lelaki itu.
Janu menggendong tubuh Cheryl secara tiba-tiba, membuat sang istri terkejut. "Kamu tidak boleh lupa kalau aku suamimu," katanya.
Janu segera membawa istrinya pergi menuju parkiran.
Arsen tak bisa melakukan apa-apa selain menyaksikan Cheryl dibawa pergi suaminya.
Di dalam mobil Cheryl masih tampak bersedih. Janu memberikan pelukannya sebagai tempat istrinya bersandar. Ia tahu istrinya masih bersedih dengan apa yang menimpa Michan.
"Janu, kamu sudah tahu duluan ya, kalau Michan meninggal?" tanya Cheryl.
Janu terdiam.
"Kenapa tidak memberi tahuku sejak awal? Kamu bahkan sepertinya tidak berniat memberitahukan kepadaku," protes Cheryl.
"Aku memang tidak berniat mengatakannya. Aku tidak ingin melihatmu sedih seperti sekarang," kilah Janu.
"Kemarin kami masih bertelepon dan hari ini seharusnya hari ini kami bertemu, huhuhu ..." Cheryl menyembunyikan wajahnya di dada Janu. Ia kembali menangis.
Janu hanya bisa mengusap punggung istrinya agar tidak terlalu bersedih. Entah mengapa ia jadi tidak tega setiap kali melihat air mata menetes dari mata wanita itu.
__ADS_1