
Cheryl merasa cemas dengan sendirinya. Ia mengkhawatirkan kondisi Janu yang harus terluka karenanya.
"Bagaimana cara dia makan nanti? Apa dia bisa menggunakan tangan kirinya?" gumamnya.
Cheryl keluar dari kamar menatap kamar Janu yang masih tertutup. Dari arah tangga tiba-tiba datang seorang pelayan membawa nampan berisi makanan.
"Apa itu untuk Tuan?" tanyanya.
"Benar, Nyonya. Hari ini Tuan tidak berangkat ke kantor karena kondisinya yang kurang sehat," kata pelayan tersebut.
Cheryl menjadi tidak enak hati mendengarnya. Gara-gara dia, Janu yang biasanya berangkat pagi pulang pagi kini hanya berada di dalam kamar.
"Em, biar aku saja yang membawakan." Cheryl mengambil nampan itu dari pelayan rumah.
"Tapi, Nyonya ... Ini sudah tugas saya," tolak sang pelayan.
"Tidak apa-apa, ini kemauanku sendiri."
Cheryl memaksa membawa nampan itu ke kamar Janu. Ketika pintu dibuka, ruangan terlihat kosong. Sepertinya Janu masih berada di kamar mandi. Cheryl meletakan nampan yang di bawanya di atas meja.
"Ah! Sialan!"
Terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. Cheryl bergegas menghampiri Janu di dalam kamar mandi.
"Ada apa?"
Cheryl mematung di depan pintu melihat Janu yang tidak mengenakan baju tepat berdiri menghadapnya. Pandangan mereka saling bertemu.
Cheryl terlalu fokus pada tubuh maskulin Janu yang tampak mengagumkan terpampang nyata di hadapannya.
"Kenapa kamu ada di kamarku?" tanya Janu heran.
Cheryl langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya terlihat memerah. Ia takut ketahuan sempat terkesima melihat tubuh lelaki itu.
'Bodoh! Kenapa kamu terpana dengan psikopat seperti dia? Dia itu pembunuh!' gerutu Cheryl pada dirinya sendiri dalam hati.
"Halo? Apa kamu mendengarku?" Janu heran wanita itu malah terdiam di ambang pintu kamar mandi.
"Ah, maafkan aku. Tadi aku membawakan sarapan untukmu. Mendengar suara teriakan di kamar mandi, aku jadi panik. Aku kira kamu kenapa-napa."
Janu menyeringai. Wanita yang merepotkan itu ternyata tengah mengkhawatirkannya. "Aku kesulitan mencukur bulu di wajahku. Apa kamu mau membantuku?" tanyanya.
__ADS_1
Cheryl yang masih malu semakin merasa tidak nyaman ketika diminta melakukan sesuatu. "Aku tidak pernah melakukannya."
"Kemarilah! Akan aku beri tahu caranya," pinta Janu.
Cheryl seakan tak bisa menolak. Ia akhirnya mau berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Janu duduk di tepian bathtube agar wajahnya bisa dijangkau oleh Cheryl. Ia sangat menikmati setiap tingkah aneh wanita itu ketika digoda. Bahkan hanya dengan tatapan matanya, wanita itu tampak malu-malu di hadapannya.
"Oleskan krim cukurnya di area rahangku secara merata. Tidak perlu banyak-banyak." Janu memberikan instruksinya.
Cheryl melakukan apa yang Janu minta. Berada pada jarak yang dekat dengan lelaki itu membuat jantungnya berdebar-debar. Apalagi matanya tak bisa diajak kompromi, selalu melirik ke tubuh Janu.
'Sepertinya aku semakin gila karena kebanyakan menonton drama romansa,' gumamnya.
Ia banyak menonton drama tentang wanita yang bertemu dengan lelaki arogan, mafia kejam, atau CEO dingin. Di kehidupan nyatanya saat ini, ia seakan mengalami apa yang didirasakan tokoh fiksi dalam drama.
"Kenapa malah melamun? Aku takut kamu salah mencukur," tegur Janu.
Cheryl kembali mendapatkan kesadarannya. Ia hampir saja mencukur hidung Janu. "Ah, maafkan aku."
Cheryl segera menyelesaikan mencukur wajah Janu hingga bersih. Setelah itu, ia membantu lelaki itu mengenakan pakaiannya dan menyantap sarapan.
"Apa ... Aku juga harus menyuapimu?" tanya Cheryl.
Janu menikmati setiap suapan yang Cheryl berikan. Entah mengapa pagi ini menjadi sarapan terenak yang pernah ia nikmati. Siapa sangka wanita yang selama ini dianggap sebagai beban bisa membuat perasaan seorang Janu terasa nyaman.
Pikiran lelaki itu setiap hari hanya dipenuhi oleh keinginan balas dendam. Ia tidak bisa membiarkan orang yang membunuh keluarganya hidup tenang dan bahagia. Gara-gara mereka, ia mengalami masa-masa yang berat.
Selama ikut dengan Silvia, ia kerap mendapat penyiksaan. Ibu kandung Kenzo itu selalu mengingatkan bahwa ibu kandungnya seorang wanita murahan dan pelakor. Ia sering dipukuli setiap kali Silvia merasa emosi terhadapnya.
Janu tak pernah melawan. Ia tahu tak ada tempat yang lebih baik selain bersama Silvia. Ia bertahan hidup tinggal di sana dengan segala penyiksaan yang ada. Hingga ia menjadi kebal dengan rasa sakit juga tak punya rasa belas kasihan seperti cara Silvia mendidiknya.
Kenzo tentu saja tidak tahu bagaimana dirinya diperlakukan oleh silvia. Wanita itu sengaja menyuruh Kenzo tinggal di apartemen dekat kampus dengan alasan agar bisa mandiri. Padahal, tujuan sebenarnya ia ingin menyiksa Janu sepuasnya.
Meskipun demikian, ia tetap tinggal bersama bertahan untuk tinggal bersama Silvia. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan di sana tempat teraman baginya. Apalagi Damian, suami Silvia merupakan mafia yang pekerjaannya berjualan narkoba dan menyelundupkan senjata. Tidak sembarangan orang bisa menyentuh keluarga itu.
"Kamu ... Menangis? Apa lukanya memburuk? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?"
Perkataan Cheryl menyadarkan Janu dari lamunannya. Ia mengusap buliran air mata yang menetes dari sudut matanya. Mengingat masa lalu tanpa sadar membuatnya menangis.
"Hahaha ... Tidak apa-apa. Mungkin karena terlalu lama menatapmu sampai keluar air mataku," kilah Janu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Ia tak mau terlihat lemah di mata orang. Kata Damian, pem-bully hanya mencari orang yang pantas di-bully, yaitu orang yang lemah.
"Kadang aku heran," gumam Cheryl.
"Kenapa?" tanya Janu penasaran.
"Aku berpikir kalau kamu bukan orang jahat."
Janu terdiam sejenak. "Hahaha ...." ia tertawa saat menyadari ada hal yang lucu. "Mungkin karena kamu mulai menyukai aku?" godanya.
Cheryl merasa menyesal dengan perkataannya. Lelaki itu membuatnya menjadi bahan lelucon. "Coba katakan dengan jelas, apa memang kamu yang telah membunuh seluruh keluargaku?" tanyanya dengan nada serius.
Janu juga menatap wanita itu dalam-dalam. "Apa kamu akan percaya dengan ucapanku?"
Cheryl terdiam.
"Suatu saat kamu akan tahu sendiri. Tapi, aku memperingatkanmu hati-hati dengan lelaki bernama Arsen itu."
"Apa katamu?" Cheryl tidak terima nama kekasihnya dibawa-bawa.
"Selain tidak etis seorang istri menemui mantan pacarnya, juga karena dia kelihatan berbahaya."
Perasaan Cheryl yang awalnya mulai melunak karena Janu menolongnya, kini kembali berubah menjadi kekesalan. "Bukan dia yang berbahaya, tapi kamu! Jangan sembarangan menjelek-jelekkan orang. Aku sudah mengenalnya selama 7 tahun lebih dan dia tidak seperti yang kamu ucapkan!"
"Benarkah?" Janu terlihat mengejek pendapat Cheryl. "Mungkin itu karena kamu terlalu bodoh," ledeknya.
Brak!
Cheryl menggebrak meja. Ia merasa menyesal sudah kasihan kepada lelaki jahat itu. "Lanjutkan makanmu sendiri!" bentaknya seraya pergi meninggalkan kamar Janu.
Janu hanya tertawa kecil melihat tingkah Cheryl. Saat ini, ia memang belum bisa memberikan bukti apa-apa untuk meluruskan kesalahpahaman di antara keduanya.
***
❤️❤️❤️ PROMOSI ❤️❤️❤️
Hai ... Jangan lupa mampir ke novel karya teman author juga, ya!
Judul: Cinta Berselimut Luka
Author: Nazwa Talita
__ADS_1