
"Apa aku taruh ini di sini dulu, ya? Mereka pasti masih ada di kantor ini."
Michan masih berpikir untuk keluar dari ruangan itu. Ia yakin orang yang tadi masih mengintainya.
"Pak Janu sudah satu bulan lebih juga belum kembali. Pasti masih lama, aku bisa menaruh ini selama beberapa hari nanti aku ambil lagi!"
Michan memantapkan keputusannya untuk menaruh kardus itu di bawah meja Janu. Ia rasa tak ada yang akan menemukannya. Sekalipun petugas kebersihan masuk, mereka tidak akan berani mengutak-atik benda itu karena Janu terkenal galak dan tegas.
Michan beralih ke arah cermin yang ada di sana. Ia melihat penampilannya sendiri. Jika ia tetap terlihat dengan penampilan yang sama, mereka akan mengenalinya.
Ia melepaskan sweater luaran yang menutupi kemeja. Ia tata kemeja itu dengan memasukkan ke dalam rok. Ia juga mengubah tatanan rambutnya yang semula dicepol menjadi digerai. Ia berusaha tampil beda dengan sebelumnya. Tak lupa ia melepaskan satu kancing kemeja atas agar kesan se ksi muncul.
"Huh! Seperti ini tidak akan dikenali, kan?" gumamnya pada diri sendiri. Ia yang biasa tampil casual kini terlihat lebih sensual. Untuk menambah kesan anggun dalam dirinya, ia menaikkan sedikit roknya.
"Sip! Pasti tidak ada yang kenal!" ucapnya percaya diri.
Sebelum pergi, ia menoleh ke arah barang yang ditinggalkannya di bawah meja. Kalau ada waktu dan tidak ada yang curiga, ia akan mengambilnya kembali.
Michan melihat sekeliling sebelum keluar dari ruangan itu. Ketika tampak sepi, baru ia keluar dan berjalan dengan tenang menuju ruang kerjanya.
Benar sesuai dugaannya, ia lihat orang yang sempat ditemui di gudang terlihat berada di sana namun tidak curiga dengan dirinya.
"Weh, Michan ... Habis ngapain, kok balik jadi se ksi begini," tegur Bagus, salah satu rekan kerjanya.
Lelaki itu tampak pangling melihat penampilan Michan yang jauh berbeda dari biasanya.
"Di gudang panas, Gus! Makanya aku mengucir rambut dan melepas sweater," kilah Michan.
"Panas apa panas? Jangan-jangan kamu baru bikin adegan panas," ledek Bagus.
__ADS_1
"Sialan! Amit-amit, ya!" Michan memukul lengan Bagus dengan kesal.
"Hahaha ... Bercanda, bercanda .... Kamu sudah ditunggu ketua tim tuh!" kata Bagus.
"Oke, makasih."
***
"Kak, aku masih menyarankan lebih baik kamu menjusl perusahaan ini. Aku rasa tidak akan ada bagusnya tetap bertahan," kata Janu setelah melihat laporan perkembangan perusahaan selama satu tahun terakhir yang Kenzo berikan.
Kenzo termenung. Teman-teman yang dulunya memberikan dukungan penuh satu persatu menghilang. Bahkan calon istrinya juga pergi meninggalkannya di saat ia terpuruk seperti ini.
"Kenapa, ya? Padahal Daddy seorang pengusaha sukses. Tapi, tidak sedikitpun bakatnya turun padaku," gumam Kenzo.
Sejak kecil ia selalu bercita-cita menjadi pengusaha seperti ayahnya. Bahkan, sebelum kejadian naas itu terjadi, Kenzo berniat ingin magang di perusahaan ayahnya saat masuk SMA.
"I don't know ... Mungkin seharusnya sejak awal kamu yang mengurus perusahaan ini," kata Kenzo.
Sebagai seorang kakak, ia mengakui jika adiknya lebih cerdas darinya. Ia memang berkuliah di universitas ternama dengan biaya orang tua. Sedangkan Janu, mampu berkuliah dengan beasiswa penuh sampai lulus S2.
"Kakak hanya belum menemukan lingkungan yang cocok saja. Kalau Kakak pulang dan mengurus Atmajaya Sentosa, aku rasa Kakak akan berkembang di sana."
"Hahaha ... Kenapa kamu kekeh menginginkanku pulang, Janu? Aku bahkan ingin melupakan semua yang pernah terjadi di sana," ucap Kenzo.
Kejadian saat itu menorehkan trauma yang sangat mendalam bagi Kenzo. Ia menyaksikan sendiri satu per satu keluarga yang menyayanginya mati di tangan orang jahat. Apalagi saat itu ia sudah remaja dan paham dengan apa yang terjadi. Ia sampai tak ingin lagi kembali ke sana.
"Aku harap Kakak bisa berubah pikiran," kata Janu. "Setelah ini aku akan langsung kembali ke tanah air," lanjutnya.
Kenzo mengerutkan dahi. "Kenapa?"
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus aku selesaikan di sana. Kalau memang Kak Kenzo sudah siap, pulanglah, akan aku tunggu di sana."
Kenzo tak menjawab. Ia benar-benar tak ingin kembali.
"Kakak belum pernah mengunjungi makam keluarga kita. Setidaknya, sampaikanlah salam perpisahan agar mereka bisa tenang mengetahui kita masih bisa hidup dengan baik," ucap Janu.
"Tuan, kita harus ke bandara sekarang," sahut Finn mengingat.
"Aku pamit, Kak," kata Janu.
Ia mendekati kakaknya dan memberikan pelukan. Kenzo hanya membalas pelukannya tanpa mengucapkan apapun.
Janu berjalan meninggalkan ruangan Kenzo diikuti Finn. Mereka bergegas ke basement parkir mengambil mobil dan menuju bandara.
"Apa dia sudah pergi ke tempat lelaki itu?" tanya Janu.
"Belum, Tuan. Menurut Thor, Nyonya telah menyewa hotel. Dia juga masih masuk kantor seperti biasa," jawab Finn sembari mengemudikan mobilnya.
"Itu artinya dia akan bertemu lelaki itu di kantor?"
"Menurut informasi, Pak Arsen sedang mengadakan perjalanan ke luar kota, Tuan. Saya rasa mereka belum bertemu."
Janu tetap berusaha untuk menghentikan istri nakalnya bertemu lelaki itu. Demi Cheryl, ia langsung memutuskan untuk pulang menempuh penerbangan panjang selama 16 jam.
"Minta Thor untuk tetap mengawasinya!" perintah Janu.
"Baik, Tuan."
Ia sangat resah jika Cheryl mengambil keputusan yang salah. Seandainya memang wanita itu tidak mau dengannya, ia tidak rela Cheryl memilih Arsen. Ia merasa ada yang tidak beres dengan lelaki itu.
__ADS_1