
Selepas anak dan istrinya pergi, Yohan mengambil sisa-sisa barang berharga yang masih tertinggal. Terutama di kamar putranya, ada banyak koleksi jam tangan bernilai miliyaran yang tidak dibawa. Ia memasukkannya ke dalam koper beserta surat-surat berharga yang lain.
Yohan bergerak cepat. Ia yakin pihak keluarga Thea akan segera mendatangi rumahnya.
"Ini kamu amankan di Kota X. Sementara, kamu berada di sana saja. Setelah kondisi aman, serahkan kembali barang-barang ini padaku!" perintah Yohan kepada salah satu anak buahnya.
"Baik, Bos."
Setelah mengurusi hartanya, Yohan menaiki mobil lain yang dikendarai anak buahnya yang lain. "Kita ke mampir ke markas lebih dulu memberi tahu anak buah yang lain. Mungkin aku tidak akan kembali dalam waktu yang lama," ucap Yohan.
"Baik, Bos."
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Janu dan rombongannya telah mendekati posisi markas Kalong Merah. Letaknya tersembunyi di pelosok hutan. Tempat itu menjadi basis kekuatan Kalong Merah dan menyimpan banyak barang-barang ilegal.
"Persiapkan senjata kalian!" perintah Janu.
Berbagai macam senjata laras panjang dan laras pendek keluar dari peti yang tersimpan di mobil. Masing-masing dari mereka membawa senjata untuk menghabisi musuh sekaligus melindungi diri.
Janu memasang masker yang sempat terlepas dari wajahnya. Anggota yang lain turut mengenakan penutup wajah agar tak mudah dikenali.
"Dimana kita akan turun, Tuan? Kita sembunyikan mobil agak jauh atau kita meringsek masuk paksa ke dalam?" tanya Finn.
"Tabrak saja gerbangnya!"
Seperti yang Janu minta, mobil jeep iring-iringan itu menambah kecepatan saat semakin mendekati geebang markas. Dua orang penjaga yang berdiri di depan pagar ditabrak begitu saja tanpa aba-aba.
Kondisi langsung memanas. Suara tembakan berderu menyemarakkan keheningan malam di tengah hutan. Mereka saling beradu tembakan.
Kalong Merah tak memiliki persiapan yabg cukup. Ia tidak menyangka akan ada tamu tak diundang yang datang. Sebagian berusaha bertahan, sebagian memilih mundur dan sembunyi di dalam bangunan. Mereka berusaha mengulur waktu agar bisa menghubungi bos yang tak berada di tempat.
"Hati-hati, Tuan. Tetap berada di belakang saya."
Finn mengacungkan senjatanya melindungi Janu. Ia memasang sikap waspada terhadap sekeliling. Satupun musuh tak ia berikan kesempatan untuk melukai atasannya.
__ADS_1
Kerjasama yang solid dari kelompok Janu mampu memukul mundur komplotan Kalong Merah. Banyak dari musuh yang berhasil mereka tembak mati. Tak perlu waktu lama, mereka berhasil masuk ke dalam bangunan itu.
Seperti dugaan mereka, di dalam bangunan itu banyak ditemukan gundukan ganja kering yang belum sempat dikemas. Ada pula gudang senjata di sana. Perlawanan kian menyusut, pertanda yang masih bertahan di antara mereka tersisa sedikit.
"Apa kita perlu mengangkut barang-barang yang ada di sini?" tanya Finn.
"Tidak perlu. Kita tidak membutuhkannya. Cari Yohan sampai ketemu, aku ingin menembak kepalanya!" perintah Janu.
"Baik, Tuan."
Satu per satu anggota Kalong Merah yang tersisa langsung mereka tembak mati. Sekalipun memohon ampun, mereka tak peduli. Janu dan anak buahnya tak punya belas kasihan saat menghabisi mereka. Darah berceceran membasahi lantai ruangan.
"Tuan, sepertinya Yohan tidak ada di sini," kata Finn setelah mengecek ke berbagai tempat. "Tapi, di ruang bawah tanah sel penjara. Sekitar belasan orang ada di sana."
"Bebaskan mereka semua!" perintah Janu.
Janu berjalan sendirian ke arah belakang menyisir area yang mungkin belum terjamah. Ia yakin akan menemukan Yohan di sana. Uruasan balas dendamnya tak akan selesai tanpa melihat sendiri kematian lelaki itu di tangannya.
Klak!
Janu mengarahkan pistol ke arah seseorang yang ia temukan bersembunyi di sudut dinding. Orang tersebut terlihat gemetar dan ketakutan.
Janu memperhatikan secara seksama orang tersebut. Memang, ia mengenakan jaket salah satu aplikasi jasa pengantaran makanan.
"Kamu pikir bisa menipuku? Mana ada pengantar makanan di tengah hutan seperti ini." Janu semakin menempelkan senjatanya ke kepala lelaki itu.
"Sumpah, Pak! Saya memang terjerat pinjaman online yang mereka miliki. Karena tidak mampu membayar, hari ini saya diseret ke sini. Katanya mereka ingin mengambil ginjal saya untuk dijual karena tidak kuat membayar hutang."
Mendengar cerita tersebut membuat Janu luluh. Ia pernah dalam kondisi tak berdaya seperti lelaki itu, bahkan salah satu ginjalnya sudah benar-benar diambil."
"Apa kamu tahu dimana Yohan berada?" tanya Janu.
"Kalau tidai salah, lelaki itu pergi ke tempat Presdir perusahaan. Saya kurang paham perusahaan yang mana."
Di benak Janu langsung terbersit nama Thea Rudianto. Ia menjauhkan senjatanya dari lelaki itu.
__ADS_1
"Pergilah!" perintah Janu.
Lelaki itu langsung berlari pergi meninggalkan Janu.
"Tuan, Yohan baru saja datang bersama anak buahnya. Mereka ada di halaman depan.
Janu bergegas menuju halaman depan bersama Finn. Tampak Yohan tengah bersiap dengan senjatanya dan didampingi oleh lima orang anak buahnya.
"Siapa kalian? Berani-beraninya membuat kekacauan di tempatku?" tanya Yohan.
Janu maju ke depan. Ia membuka maskernya dan membuat mata Yohan melebar.
"Aku putra orang yang telah kamu bunuh," kata Janu.
"Hahaha ... Menyesal aku tidak membunuhmu sekalian malam itu. Apa kamu berencana untuk menyusul kelurgamu?" tanya Yohan sembari mengacungkan pistolnya.
Hal yang sama Janu lakukan. Ia mengambil pistol dari dalam saku dan ditodongkan ke arah Yohan.
Anak buah Janu yang lain keluar dari dalam rumah membuat Yohan menyadari bahwa jumlah mereka tak sepadan. Artinya, anak buahnya telah mati oleh mereka.
"Kurang ajar!" teriak Yohan seraya melestkan aatu tembakan.
Finn sangat gesit mendorong Janu menghindari tembakan itu. Tubuh mereka jatuh bersamaan. Suara tembakan kembali bersahutan. Jumlah Yohan yang sedikit membuat mereka mudah dilumpuhkan. Hujan tembakan menghabisi Yohan dan kelompoknya.
Setelah mereka tak berdaya, suasana kembali hening. Janu mendekati tubuh Yohan yang tengah sekarat. Lelaki itu masih bisa tersenyum di ambang kematiannya.
"Aku memang akan mati. Tapi, anak keturunanku akan bertahan dan terus menghantui kehidupanmu."
Dor!
Janu menembak kepaka Yohan sampai darah dan otaknya muncrat keluar. Seketika Yohan langsung menemui ajalnya.
"Kenapa setelah membunuhnya aku tetap merasa sedih?" gumam Janu yang menjadi terlihat linglung setelah berhasil membunuh orang yang telah membantai keluarganya. Ia sama sekali tak merasa menang atau bahagia. Ia justru semakin terngiang-ngiang kenangan pahit di masa lalu.
"Tuan, kita harus segera pergi. Ada informasi yang mengatakan jika Ibu Thea tengah kritis di rumah sakit," kata Finn.
__ADS_1
"Kenapa dengan wanita itu?" tanya Janu heran.
"Menurut informasi, lehernya terkena pecahan kaca dan tengah sekarat. Ibu Thea sempat terlibat pertengkaran dengan lelaki ini."