
Cheryl mengendap-endap keluar dari kamarnya saat tengah malam. Susasana rumah terlihat sepi, pertanda para penjaga dan pelayan telah tertidur. Ia berjalan pelan menuju ke ruang kerja Janu yang terletak di lantai bawah.
Saat masuk ke dalam, ia menyalakan lampu. Ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku. Meskipun jarang terpakai, tempatnya sangat rapi dan bersih.
Cheryl mulai mencari-cari di sekitaran meja keeja Janu. Ia berpikir mungkin saja lelaki itu menyembunyikan surat-surat berharga harta peninggalan kedua orang tuanya di sana. Namun, hanya ada berkas-berkas laporan yang berhubungan dengan perusahaan.
Ia beralih mencari ke tempat lain, menyisir area rak buku. Kebanyakan yang terpajang di sana buku-buku tentang dunia bisnis dan sedikit tentang dunia medis.
Bruk!
Sebuah buku tanpa sengaja tersenggol dan jatuh. Ternyata itu album foto. Cheryl membawanya ke meja kerja Janu. Ia duduk di sana sembari membukanya.
Halaman pertama dihiasi dengan foto Janu saat masih bayi bersama Bara dan Retha. Di halaman-halaman selanjutnya, ada foto keluarga besar Janu. Rasanya menyedihkan membayangkan keluarga sebanyak itu meninggal dalam waktu bersamaan.
Motif pembunuhannya seperti hampir sama dengan apa yang menimpa dirinya. Mereka juga sama-sama selamat dari maut.
Ia terpaku sejenak saat memandangi sebuah foto di sana. Tampak ada dia dan Janu dengan orang tua masing-masing berforo bersama sambil tersenyum.
Tanpa sadar air mata Cheryl menetes. Ia merindukan kedua orang tuanya.
Sembari mengusap air mata, ia membuka lembaran foto berikutnya. Masih ada momen-momen kebersamaan keluarganya dengan Janu. Itu semakin meyakinkan dirinya bahwa tidak mungkin keluarga mereka saling bermusuhan dan saling bunuh. Janu tidak mungkin pelaku pembantaian keluarganya.
***
Plak!
Terdengar suara tamparan keras menyasar pipi Janu. Raut wajah Silvia sangat murka melihat kehadiran anak yang dianggapnya sangat kurang ajar.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu begitu lama kembali? Puas mengetahui ayahmu masuk penjara, hah!"
Janu hanya terdiam menerima murka Silvia. Ia sebenarnya sudah tidak ingin.
"Sudah, Mom. Kenapa malah jadi menyalahkan Janu? Apa hubungannya semua ini dengan dia? Mommy ada-ada saja!"
Kenzo berusaha menenangkan ibunya. Ia memang tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar Dimitri terlibat kasus penyelundupan narkoba saja ia sangat syok. Ia kira ayah tirinya pengusaha biasa seperti pengusaha lainnya.
Silvia terdiam. Ia tak melanjutkan kata-katanya mengingat di sana ada Kenzo, anak kandung kesayanganya. Matanya menatap tajam mengintimidasi Janu.
Akibat Dimitri tersandung kasus, perusahaan yang kini tengah dikelola oleh Kenzo terancam terkena imbasnya. Para investor mulai melepaskan diri satu per satu. Ia tidak ingin putranya menjadi anak yang gagal.
"Kenzo, bisa kamu keluar sebentar dari sini? Mommy ingin berbicara berdua dengan Janu," pinta Silvia.
Kenzo mencoba memahami. Ia tak mau membuat perdebatan semakin panjang. Ia memilih keluar dan membiarkan keduanya berbicara di kamar Janu.
"Aku sudah mengambil alih Minata Persada," ucap Janu.
"Beri aku waktu lagi untuk bisa menguasai Atmajaya Sentosa. Berkat bantuan Pak Handoko."
Silvia menyunggingkan senyum. "Jadi, kamu masih menjaga hubungan baik dengan keluarga Ariana?"
Janu mengangguk.
"Itu bagus. Kalau bisa, percepat saja pernikahan kalian. Akan sangat menguntungkan untuk keluarga kita dan keluarga mereka." Silvia tampak senang dengan perkembangan rencananya yang berjalan dengan baik.
"Lalu, bagaimana dengan Daddy?" tanya Janu.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu peduli dengannya. Dia akan baik-baik saja di dalam sana. Hanya saja, memang perlu yang menggantikannya memimpin kelompok kita." Silvia berbicara dengan nada yang sangat lirih. Sekalipun ada yang berusaha menguping, ia tak ingin ada yang mendengarnya, terutama Kenzo.
Silvia sangat bahagia ketika Kenzo menghubunginya dan mengatakan ingin tinggal bersama dengannya setelah keluarga besar dibunuh oleh orang yang hingga saat ini belum diketahui. Ia akhirnya bisa tinggal bersama anak yang dilahirkannya sendiri, menebus kesalahan yang dulu pernah dilakukan dengan meninggalkan Kenzo.
Ia membesarkan Kenzo dengan penuh kasih sayang dan kebaikan. Memberi suasana harmonis di dalam rumah. Dimitri juga menyayangi Kenzo seperti putranya sendiri. Meskipun orang jahat, ia tidak pernah menunjukkan sisi jahatnya itu di depan Kenzo. Bahkan identitas Kenzo disembunyikan agar tidak menjadi incaran musuh-musuh Dimitri dan Silvia.
Kenzo menikmati kehidupannya dengan damai. Apa saja keinginannya dipenuhi. Berbeda dengan Janu yang harus bersiap menghadapi bahaya dengan tugas-tugas yang orang tua angkatnya berikan. Sampai ia relakan sebelah ginjalnya agar mereka tetap mau merawat dirinya.
"Aku tidak akan bertanya kamu mau melakukannya atau tidak. Jawabannya hanya ada satu, kamu harus mau!" paksa Silvia.
"Aku mengerti."
Janu tidak mengelak. Tidak mungkin Silvia menyuruh kakaknya untuk berhubungan dengan bahaya.
"Selesaikan semua pekerjaan yang Dimitri tinggalkan dengan baik. Kamu ada misi menyelundupkan senjata ke daerah konflik. Aku rasa kamu juga sudah paham apa yang aku maksud. Benar begitu?" tanya Silvia memastikan.
Janu mengangguk.
"Selain itu, kamu juga harus mengantarkan pil ekstasi ke pelanggan dengan selamat."
"Akan aku lakukan semuanya dengan baik, Mommy tidak perlu khawatir," kata Janu dengan nada datar.
Silvia tersenyum senang. Ia memeluk tubuh anak angkatnya dengan lembut. "Kamu memang seorang adik yang baik untuk Kenzo," katanya.
Terkadang hati Janu terasa sakit. Ia tidak tahu kenapa kehidupannya sangat berat untuk dijalani. Ia ingin menjadi seperti anak normal lainnya yang disayangi keluarganya.
***
__ADS_1
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤