Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 80: Mencoba Bertahan


__ADS_3

Janu baru saja melangkahkan kakinya memasuki rumah. Kenzo sudah berdiri di samping pilar sembari melipat tangannya di dada. Seolah sang kakak tengah menunggu kepulangannya.


Ada banyak urusan sampai ia harus pulang larut malam. Mulau dari mengurusi pernikahan sampai menyelesaikan masalah kantor.


"Sudah selesai urusannya?" tanya Kenzo.


"Ya. Aku telah mempercepat prosesnya. Akhir pekan ini ada acara serah terima kepengurusan perusahaan kepadamu. Jadi, datanglah ke acara perusahaan nanti," jawab Janu sembari melepaskan dasi yang melilit di lehernya.


"Bukan itu yang ingin aku tanyakan. Ini tentang persiapan pernikahanmu."


Mendengar topik pembicaraan seperti itu membuat Janu tak mau berbicara dengan kakaknya. Ia memilih untuk melewati sang kakak dan menaiki anak tangga.


"Cheryl menangis!" ucap Kenzo.


Janu menghentikan langkahnya.


"Thor sudah mengatakan apa yang terjadi di butik. Apa ini yang kamu harapkan?" tanya Kenzo.


"Berhentilah kalau kamu memang menyukai Cheryl. Kasihan dia," ujar Kenzo.


Bukannya menanggapi, Janu justru memilih untuk melanjutkan langkahnya ke kamar atas. Ia membuka pintu kamarnya. Cheryl tampak telah tertidur di ranjang.


Janu meneruskan langkah menuju kamar mandi. Dihabiskan waktunya selama beberapa menit untuk membasahi tubuhnya dengan kucuran air shower sembari menenangkan pikirannya.


Otaknya seakan mau meledak saat digunakan untuk memikirkan tekanan yang datang kepadanya. Ia tak bisa melepaskan Cheryl, namun ia juga tak bisa serta merta membatalkan pernikahannya dengan Ariana. Jauh sebelum menikahi Cheryl, pernikahannya dengan Ariana telah lebih dulu dibahas.


Usai menyegarkan tubuh, Janu mengenakan kimono tidurnya. Ia kembali ke dalam kamar. Cheryl masih tertidur dengan tenang di atas ranjangnya.


Perlahan ia menaiki ranjang berusaha tak membuat gerakan berlebihan yang bisa mengganggu tidur istrinya. Ia mendekap perlahan tubuh Cheryl dari belakang. Kehangatan yang ia rasakan seolah membuatnya tak rela untuk kehilangannya.

__ADS_1


"Maafkan aku," lirihnya sembari mulai memejamkam mata.


Tanpa sepengetahuan Janu, ternyata Cheryl masih terjaga. Air matanya menetes kala mendapatkan dekapan dari lelaki itu.


***


"Sedang apa, Cher?" tanya Kenzo. Ia menghampiri Cheryl yang tengah melamun di samping kolam ikan.


Cheryl menoleh. "Oh, Kak Kenzo ... Aku sedang memberi mereka makanan," ucapnya.


"Kamu sudah makan juga apa belum? Ikan saja kamu kasih makan, perutmu sendiri juga perlu diisi," ujar Kenzo seraya duduk di samping Cheryl.


Cheryl hanya tersenyum. "Aku sudah sarapan tadi pagi. Ini lagi suntuk saja, pengangguran, dari pada bosan lebih baik kasih makan ikan."


"Nih! Makan camilan ini. Enak banget ternyata yang namanya sale pisang." Kenzo menyodorkan camilan yang dibawanya dari dapur.


"Janu sudah keterlaluan padamu memang. Kenapa kamu masih bertahan? Kalau tidak suka, pergilah! Tinggalkan anak pengecut itu!" Kenzo mengumpat adiknya sendiri.


Cheryl juga ingin membenci Kenzo seperti pertama kali mereka bertemu. Namun, setelah mengenal lelaki itu, ia tak bisa membencinya. Ia yakin Janu punya alasan tersendiri meskipun tak berterus terang kepadanya.


"Selama Janu tidak mengusirku, aku akan tetap di sini, Kak," ucap Cheryl dengan nada sendu.


"Cheryl, Cheryl ... Kamu boleh jatuh cinta, tapi jangan jadi bodoh seperti dia! Janu itu plin-plan, tidak pantas untuk kamu tunggu," ujar Kenzo.


Cheryl terdiam. Apapun yang kakak iparnya katakan, tak mengubah sedikitpun pandangannya terhadap Janu.


Sebagai anak yang bernasib sama, ia bisa memahami sulitnya menjadi Janu. Penderitaannya tak seberapa jika dibandingkan dengan kesulitan hidup yang suaminya alami selama belasan tahun. Bahkan sampai saat ini suaminya masih bertahan.


"Ah! Kitty ... Kemarilah!" Kenzo memanggil seekor kucing peliharaan pelayan yang sering berkeliaran di taman.

__ADS_1


Kucing itu cepat akrab dengan orang. Ketika dipanggil namanya, ia seakan tahu dan berjalan mendekat. Kenzo menggendong kucing itu dengan gemasnya.


"Aku khawatir kamu tidak akan bertahan dengan kondisi seperti ini. Janu benar-benar akan menikah dengan Ariana," kata Kenzo sembari menimang-nimang kucing itu di pundaknya.


"Kalau aku tidak kuat, nanti aku minta bantuan Kakak untuk pergi dari rumah ini," ucap Cheryl.


"Kabur sekarang saja bagaimana?" usul Kenzo.


"Em ... Bagaimana ya? Kalau kabur sekarang ... Rasanya ... Hoek! Hoek!"


Irene langsung berlari mencari tempat untuk memuntahkan isi perutnya. Entah mengapa perutnya terasa tak enak dan mual. Kenzo yang panik turut berlari menyusul Cheryl dan membantu menepuk ringan punggung Cheryl.


"Hoek! Hoek!"


Cheryl kembali memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas dan tak ada daya. Untung saja Kenzo cepat menangkapnya.


"Apa kamu keracunan makanan, ya? Kita ke dokter saja!" kata Kenzo.


Ia membawa Cheryl dalam gendongannya seraya berlari menuju ke arah depan. Sopir rumah yang biasanya ada di pos depan sedang tidak ada. Terpaksa Kenzo membawa Cheryl sendiri dengan mobilnya.


Wajah Cheryl terlihat pucat dan badannya lemas. Ia menjadi semakin panik memacu kendaraannya lebih cepat. Apalagi Cheryl sesekali masih merasa mual seperti ingin muntah.


Sesampainya di rumah sakit, petugas IGD langsung menyambut kedatangan mereka. Cheryl dipindahkan ke atas ranjang pasien dan digelandang masuk IGD. Kenzo membuntutinya dari belakang.


"Apa keluhannya?" tanya salah seorang petugas IGD.


"Tadi dia muntah-muntah setelah makan sale pisang. Sepertinya ia keracunan makanan," jawab Kenzo.


Dokter jaga segera hadir setelah dipanggil perawat. Dokter wanita itu mulai memeriksa tubuh Cheryl yang kelihatan lemah itu.

__ADS_1


__ADS_2