
"Michan! Kamu bawa berkas-berkas lama ini ke gudang, ya! Susun yang tapi sesuai tempatnya!" perintah ketua timnya.
"Baik, Pak."
Michan mengangkat kardus berisi berkas-berkas lama yang ada di divisinya untuk disimpan dalam gudang supaya tidak memenuhi ruangan.
Sepanjang perjalanan menuju gudang penyimpanan, pikirannya terus dipenuhi oleh nama Yohan yang disebutkan oleh orang-orang mencurigakan kemarin.
"Yohan siapa, ya?" gumamnya.
Sruk! Brak! Dug!
Karena tidak lihat-lihat jalan, Michan jatuh terpeleset saat menginjak lantai yang licin.
"Aduh!" pekiknya. Seluruh barang bawaannya jatuh dan berserakan.
"Ah, Kok Bu Michan lewat sini? Baru aku pel lantainya ...." Tobi segera berlari menghampiri Michan dan membantunya berdiri.
"Kamu kalau mengepel beri tanda peringatan dong! Bahaya banget kan, kalau ada orang lewat!" omel Michan.
"Tuh, sudah ada di sana."
Tobi menunjuk pada papan peringatan yang diletakkannya di ujung lorong. Ternyata Michan sendiri yang tadi tidak melihatnya.
"Hah! Kurang besar itu!" protes Michan. Ia memegangi pa ntatnya yang sakit.
Tobi berjongkok membantu Michan memunguti kembali kertas-kertas yang berserakan dan dimasukkan ke dalam kardus.
"Mau dibawa kemana ini, Bu Michan?" tanya Tobi.
"Mau dibawa ke gudang."
"Biar saya saja yang bantu, Bu Michan kembali ke ruangan." Tobi berniat baik ingin membantu Michan.
"Tidak usah. Ini harus disimpan di tempat yang sesuai. Nanti kamu tidak tahu. Biar aku saja yang melakukannya."
"Ya sudah, biar saya antar sampai pintu gudang."
Tobi membantu membawakan kardus yang lumayan berat itu. Sementara, Michan berjalan di belakangnya.
"Perlu saya temani, Bu?" tanya Tobi.
"Tidak usah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Terima kasih sudah membantu. Janga lupa keringkan lantainya, aku tidak mau terjatuh lagi!"
Michan mengambil kardus itu dari tangan Tobi dan membawanya masuk ke dalam gudang. Ia mulai menatanya sesuai jenis arsip dan tahun pembuatannya. Di tempat itu terdapat banyak dokumen perusahaan entah sejak tahun kapan.
"Kenapa mereka kemarin masuk ke sini, ya? Apa yang sebenarnya mereka cari?" Michan mulai bertanya-tanya. Ia sangat penasaran dengan lelaki bernama Yohan.
__ADS_1
Michan mulai berkeliling mencari jika ada keanehan di sana. Tetapi, tempat itu sepertinya tidak acak-acakan, masih rapi seperti terakhir kali ia datangi kemarin.
Bruk!
Tanpa sengaja ia mentuhkan sebuah buku tebal. Michan memicingkan mata melihat judul di buku itu.
"Laporan keuangan PT Atmajaya Sentosa?" gumamnya heran. Sungguh aneh melihat laporan perusahaan lain di perusahaannya.
Saat melihat ke lantai, di bagian sudut dekat rak ia melihat seperti ada yang aneh. Ia ketuk-ketuk bagian lantai di sudut itu, seperti ada ruangan di bawahnya.
Michan menggeser pemberat yang ada di atasnya, ada gagang untuk membuka bagian itu. Ketika dibuka, benar saja terdapat lubang berbentuk kotak. Di dalam sana terdapat map plastik yang berisi berkas-berkas.
Saking penasarannya, Michan mengangkat benda itu dari dalam sana. "Salinan kerjasama PT Atmajaya Sentosa?"
Lagi-lagi ia menemukan sekumpulan dokumen yang sepertinya tak ada kaitan dengan perusahaan itu. "Kenapa ada di sini sih?" gumamnya heran.
"Apa aku bawa saja, ya? Siapa tahu ini penting. Aku jadi penasaran." Michan memasukkan barang-barang itu ke bekas kardus yang tadi ia bawa dari ruangannya.
Ia menutup kembali bagian yang tadi dibuka dan meletakkan pemberat di atasnya sehingga tidak akan ada yang tahu kalau tempat itu merupakan tempat rahasia.
Ketika ia hendak keluar dari ruangan, kakinya menendang sesuatu. Saat dilihat, ternyata sebuah ponsel.
"Siapa lagi yang menjatuhkan ponsel di sini?"
Ia memungut ponsel dan membukanya. Tidak diamankan dengan kata sandi. Ia membuka galeri untuk mengecek siapa pemiliknya.
"Ah! Astaga!"
Baru saja ia melihat gambar-gambar seram dalam ponsel tersebut, seperti foto orang yang telah mati terbunuh dalam kondisi mengenaskan.
"Apa itu tadi ...." bibir Michan rasanya masih gemetar.
"Dasar bodoh! Yang benar saja kamu tadi menjatuhkannya dimana? Masa di gudang ini?"
"Aku yakin begitu. Kita coba cari dulu."
"Hah ... kita belum menemukan apa yang kita cari malah kamu menambah masalah! Sialan!"
Belum hilang rasa terkejut Michan, terdengar suara orang mendekat ke arah gudang. Buru-buru ia membereskan barang yang akan dibawanya ke dalam kardus termasuk ponsel yang baru ditemukannya. Ia bergegas bersembunyi di sudut dekat pintu masuk sembari meringkuk.
"Kalau ketahuan, kita bisa mati!"
Ternyata dua lelaki yang datang merupakan orang yang sama dengan kemarin. Michan membungkam mulutnya sendiri. Ia yakin kedua orang itu pasti orang yang jahat.
Keduanya memasuki gudang dan mulai berkeliling mencari sesuatu.
"Dimana kira-kira? Sepertinya tidak ada!"
__ADS_1
"Belum juga dicari, coba cari dengan teliti!"
"Bagaimana kalau aku coba telepon ponselnya."
Drrtt .... Drrtt ....
Michan kaget. Ponsel di kardusnya bergetar. Ia ikut gemetar mengetahui kedua orang itu benar-benar penjahat.
"Aku harus lari dari sini!" lirih Michan.
Secara perlahan ia mulai keluar dari balik pintu.
"Hey, siapa itu?"
Mendengar salah seorang dari mereka menyadari keberadaannya, Michan langsung berlari ke luar gudang.
"Itu ada orang yang tahu! Kejar!" seru orang itu.
Michan berlari sekuat tenaga membawa kardus yang cukup berat di tangannya. Ia menoleh ke belakang sekilas, dua orang itu mengejarnya.
Untung saja lantai yang Tobi pel sudah tidak licin, ia tak terpeleset kali ini.
Michan sengaja memilih jalur berbeda dari ruangannya. Ia berusaha mengalihkan perhatian mereka agar identitasnya tidak diketahui.
Kondisi tepat jam kerja membuat koridor terlihat sepi. Jika ada yang melihat orang berlari, mereka hanya akan berpikir ada karyawan yang sedang iseng.
Michan sudah kebingungan hendak bersembunyi dimana. Orang itu pasti memiliki kenalan orang dalam dan nyawanya terancam.
Sedang buntu berpikir, Michan melihat ruangan CEO. Tidak boleh sembarang orang masuk ke sana.
"Maaf Pak Janu, saya numpang sembunyi!" ucapnya seraya masuk ke ruangan itu. Ia bergegas menuju bawah meja dan bersembunyi di sana.
Michan mengatur napasnya. Ia tidak boleh ketahuan. Kalau mau selamat.
"Kemana dia pergi? Dia perempuan, kan?"
Terdengar suara orang dari arah pintu. Ia berharap kedua orang yang mengejarnya tidak masuk ke sana. Identitasnya sebagai perempuan sudah terbongkar.
"Matilah aku ...." pekik Michan.
"Apa dia masuk ke dalam? Bagaimana kalau kita cek."
"Aku rasa tidak. Ruangan ini sangat terlarang untuk dimasuki sembarangan orang. Kita bisa dipenjara kalau nekad."
"Hey! Kalian sedang apa di sana? Tidak boleh mendekati area ruang CEO!"
"Oh, maaf, Pak. Kami salah ruangan."
__ADS_1
Sepertinya sekuriti penjaga telah menyadari keberadaan mereja. Michan sementara bisa bernapas lega karena mereka akhirnya pergi dari depan pintu ruangan tempatnya bersembunyi.
"Apa aku membawa sesuatu yang berbahaya? Oh Ya Tuhan ... Bagaimana ini?" Michan merasa khawatir sendiri. Ia tidak bermaksud untuk ikut campur urusan mereka lebih jauh. Ia hanya tidak sengaja melihat gambar-gambar menyeramkan di ponsel itu.