
"Kak, terima kasih atas kepercayaanmu. Sekarang perusahaan ini telah kembali pada keluarga kita,"
Janu terlihat bangga bisa duduk di ruang kerja ayahnya yang dulu. Meskipun mendapatkan perusahaan itu tidak bisa mengembalikan kedua orang tuanya, setidaknya ia bisa membuktikan perjuangannya untuk mempertahankan aset milik keluarga.
Kenzo memeluk adiknya. Ia turut bangga dengan pencapaian yang diperoleh Janu.
"Kak, seperti janjiku, aku akan menyerahkan perusahaan ini kepadamu." Janu menyodorkan sebuah map yang perlu mereka tanda tangani untuk proses pengalihan kepemilikan.
"Kamu ini sedang apa? Perusahaan Daddy tetap milikmu!" Kenzo tak mau menerima pemberian adiknya. Ia bahkan terlihat marah dengan perbuatan Kenzo.
"Kak, kamu sudah melepaskan perusahaanmu di sana demi aku. Biarkan aku menggantikannya." Janu merasa tidak enak hati. Ia yang telah merayu kakaknya demi melancarkan rencana itu.
"Kalau kamu memang ingin menggantikannya, urus saja perusahaan ini dengan baik. Aku sudah cukup bahagia mendengarnya."
Baik Janu dan Kenzo tak ada yang serakah ingin menguasai. Mereka bahkan saling lempar untuk menentukan siapa yang paling berhak memimpin perusahaan.
"Kamu anak tertua dari keluarga kita, Kak. Secara tradisi memang Kakak yang lebih berhak menjabatnya." Janu tetap berkeras agar kakaknya mau di sana. Ia memang tak pernah berambisi menguasai apapun. Tujuannya telah tercapai untuk menguak pembunuh kedua orang tuanya.
Kenzo terdiam. Ia memandang ke arah Janu dengan seksama. "Sebenarnya ada yang ingin aku ungkapkan sejak dulu." Kenzo kembali menjeda ucapannya. "Aku bukan kakakmu," katanya.
Jani tercengang. Beberapa detik kemudian, ia tertawa. "Candaan macam apa lagi yang mau Kak Kenzo buat? Sudahlah, jangan mengada-ada."
"Aku serius." Kenzo menunjukkan raut kesungguhannya dan membuat Janu takut.
"Meskipun kita beda ibu, karena kita punya ayah yang sama, maka kita berdua tetap disebut sebagai saudara."
"Aku juga bukan anak kandung Daddy." celetuk Kenzo.
"Kamu tidak boleh seperti itu, Kak!" bentak Janu. Ia baru sebentar merasa bahagia telah mendapatkan perusahaan itu dan Kenzo membuatnya pusing berpikir.
"Buka pikiranmu untuk bisa menerima ceritaku." Kenzo meminta Janu agar duduk dengan tenang. "Kamu pasti sudah paham siapa sosok ibu kandungku. Dia lebih dulu mengandungku sebelum menikah dengan Daddy kita. Aku tidak memiliki darah keluarga Atmaja."
Memiliki orang tua seperti Bara dan Retha merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Mereka yang tidak membeda-bedakan keberadaan antara ia dan adiknya, membuat Kenzo tumbuh di lingkungan yang hangat. Bahkan, keluarga besar Atmaja, sangat menyayangi dirinya.
__ADS_1
Ia telah lama tahu siapa ayah kandungnya, tepatnya saat SMP ayah kandungnya sendiri pernah menemuinya. Kenzo hanya pura-pura tidak tahu karena ia ingi selamanya menjadi bagian keluarga Atmaja.
Ketika peristiwa itu terjadi, ia merasa sangat sedih. Orang-orang yang begitu baik kepadanya dihabisi di depan mata. Hanya tersisa seorang adik yang sangat disayanginya. Terpaksa demi menyelamatkan diri, ia membawa adiknya pergi ke tempat ibunya.
"Ah, sudahlah! Aku tidak mau mendengarkan bualan Kakak! Dulu Kakak bilang juga orang tua kita menemukanku di selokan!" Janu terlihat marah.
Kenzo senyum-senyum sendiri. Saat mereka kecil, ia memang suka membuat adiknya menangis. Ia sering mengatakan jika Janu anak yang ditemukan di pinggir jalan.
"Mengurus perusahaan ini terlalu berlebihan untukku, Janu. Kalaupun Mommy minta yang aneh padamu, tak perlu dituruti. Aku yang akan menasehati Mommy." Kenzo menepuk pundak Janu dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
Janu termenung di tempatnya. Ia tidak mengerti apa tujuan kakaknya menceritakan hal semacam itu. Sekalipun ia tahu, ia tak akan bisa membenci kakaknya sendiri.
"Tuan ...."
Finn masuk ke ruangan setelah Kenzo keluar. Janu menoleh kepadanya.
"Ada apa?"
Janu menyandarkan punggungnya pada sofa. Inilah berita yang ia nanti-nantikan selama ini.
"Apa perlu kami serang malam ini? Atau Anda akan membocorkannya kepada polisi?" tanya Finn.
"Jangan sekarang. Lakukan dengan perlahan, buat senormal mungkin jangan sampai mereka sadar kita sedang menghancurkan mereka sedikit demi sedikit."
Janu menunjukkan senyum jahatnya. Ia tidak sabar melihat mereka kerepotan dengan apa yang telah ia lakukan.
***
Silvia menghela napas panjang saat keluar dari dalam bandara. Senyumnya terkembang menggambarkan kebahagiaan hati setelah sekian lama akhirnya bisa kembali ke tanah kelahirannya.
Ia merupakan wanita yang lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri di atas segala-galanya. Sebelum meninggalkan Amerika, ia telah menyelesaikan perceraiannya dengan Damian.
Menurutnya, lelaki itu sudah tidak berguna bagi dirinya. Damian telah dijatuhi hukuman penjara yang lebih lama dari tuntutan jaksa. Ia tidak mau tetap tinggal di sana hanya untuk menunggu seorang tahanan.
__ADS_1
Apalagi Damian sudah kehilangan segala-galanya, baik bisnis maupun anak buahnya. Kelompok mafia yang awalnya dibentuk Damian telah bubar begitu saja. Silvia paling anti dengan kehidupan penuh derita.
"Selamat datang, Nyonya," sambut salah seorang mantan anak buah Damian.
Silvia mengulaskan senyum. "Terima kasih sudah menjemputku, Black. Sekarang, antarkan aku ke rumah Janu!" perintahnya.
"Baik, Nyonya."
Black membawakan koper milik Silvia ke dalam mobilnya. Ia membukakan pintu mempersilakan wanita itu masuk ke mobil.
"Apa Janu melakukan tugasnya dengan baik?" tanya Silvia sembari bersandar santai di kursi mobil. Perjalanan yang cukup panjang membuatnya sedikit lelah.
"Lebih baik dari yang Anda harapkan, Nyonya," jawab Black sembari fokus dengan kemudinya.
Silvia tersenyum lebar. "Benarkah? Dia memang anak yang bisa diharapkan." ia merasa senang karena bisa kembali tinggal di negaranya dengan kekayaan yang akan ia dapatkan dari Janu.
"Perusahaan milik mantan suami Anda sudah bisa diambil alih. Tuan Muda juga telah membuat posisi Nyonya Thea Rudianto dalam kondisi yang sulit."
"Oh, itu sangat menyenangkan. Aku tidak sabar melihat Thea menangisi kehidupannya." Silvia merasa bahagia jika bisa menyaksikan kehancuran Thea. Wanita itu pernah menghinanya dengan keji sebelum ia pergi ke luar negeri. Rasa sakit hatinya tak akan semudah itu hilang.
"Meskipun aku sedikit berterima kasih terhadap Thea karena sudah menghabisi seluruh keluarga Bara, tapi aku juga meminta maaf padanya. Aku juga ingin membunuhnya," kata Silvia sembari memandangi kuku-kuku cantiknya yang belum lama dipasangi nail art.
"Saya akan membunuhnya untuk Anda, Nyonya," ucap Black.
Silvia kembali tersenyum. "Terima kasih, Black. Kamu memang pengawalku yang paling bisa diandalkan. Mamu tidak mengatakan kepulanganku pada Janu dan Kenzo, kan?"
"Tidak, Nyonya. Saya menjemput Anda tanpa sepengetahuan mereka."
"Itu bagus sekali."
Tanpa sepengetahuan Janu pula, Black ternyata masih setia kepada Silvia. Meskipun ia bekerja untuk Janu seperti rekannya yang lain, sebenarnya ia ikut Janu untuk menuruti kemauan Silvia. Wanita itu tidak sepenuhnya mempercayai Janu.
Silvia mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Hiruk pikuk kendaraan kota sudah sangat ia rindukan.
__ADS_1