Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 53: Tugas Khusus


__ADS_3

Cheryl terbaring lemas di atas ranjangnya. Tubuhnya seakan tak berdaya setelah semalaman digempur habis oleh suaminya. Ia merasa Janu memiliki hasrat yang berlebihan terhadapnya.


Lelaki yang awalnya dingin dan angkuh itu, yang semula tidak mau disentuh tiba-tiba menjadi lelaki yang agresif. Entah sudah berapa banyak benih yang Janu tanamkan di dalam dirinya. Semalaman hingga pagi, suaminya telah mengulangnya sampai empat kali. Bahkan ketika ia mulai tertidur, lelaki itu dengan santainya memasuki dirinya dan membuatnya bangun.


Sekujur tubuhnya terasa pegal. Ada banyak bekas gigitan mesra yang menghiasi tubunnya. Untung saja Janu tak melakukannya di area yang terbuka seperti leher.


Cheryl menyalakan televisi, memencet-mencet tombol remot untuk mencari saluran televisi yang menarik. Kebanyakan menyajikan berita gosip yang tak disukainya. Ia lebih memilih menonton kartun Spongebob.


Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk datang dari Janu yang masih berada di kantor.


"Halo?" sapanya.


"Kamu dimana, Sayang?" mada bicara Janu terdengar merdu.


"Aku di kamar. Kamu sendiri kan yang melarangku pergi-pergi?" kata Cheryl sekalian mengungkapkan kekesalannya.


"Apa kamu merasa bosan?" tanya Janu.


"Tentu saja! Siapa orang yang tidak jenuh kalau dikurung terus di rumah." Cheryl sampai memanyunkan bibirnya saat bicara.

__ADS_1


"Baiklah, supaya kamu tidak bosan, aku punya tugas khusus untukmu."


Cheryl tidak percaya dengan ucapan Janu. Ia merasa tugas itu bukannya mengobati kejenuhannya, tetapi justru menambah kepusingan baru.


"Tolong antarkan bekal makananku ke kantor."


"Apa? Bekal makanan?" Cheryl terkejut sekaligus terkekeh. "Sejak kapan kaku membawa bekal ke perusahaan?" bagi Cheryl, Janu terlihat seperti sedang melawak.


"Aku sudah menyuruh Bi Trini untuk membuatkan bekal. Kamu datanglah ke kantor bersama sopir. Sekarang juga! Aku menunggumu!"


Nada bicara Janu terdengar tegas dan menunjukkan kekuasaannya. Ia tak bisa menolak selain mengikuti kemauannya. Terpaksa dengan malas ia turun dari ranjang dan menuju ke ruang makan.


"Iya, Bi. Terima kasih."


Cheryl membawa bekal makanan itu ke depan. Di halaman sudah ada mobil yang siap mengantarnya ke kantor.


"Tuan bilang Anda ingin ke kantor, Nyonya?" tanya Pak Imron.


Cheryl menghela napas. "Ya, aku disuruh mengantarkan bekal makanan untuknya," jawabnya dengan malas.

__ADS_1


"Ini sangat tidak biasanya, Nyonya. Setahu saya Tuan tidak pernah membawa bekal ke kantor."


"Entahlah, Pak! Dia kalau sudah ada mau harus dituruti."


"Padahal saya sendiri juga bisa mengantarkannya ke kantor, Nyonya."


Cheryl mengarahkan pandangan ke kaca jendela melihat kendaraan-kendaraan yang lewat di sekitarnya. Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di halaman depan perusahaan.


Cheryl memandang perusahaan di hadapannya dengan penuh haru. Rasanya sudah sangat lama ia tak berkunjung ke sana. Perusahaan yang dulu dijalankan oleh ayahnya, kini beralih ke tangan suaminya.


Saat tiba di pintu depan, seorang satpam membukakan pintu untuknya dengan ramah. Begitu pula resepsionis yang berjaga di lobi menyapa namanya. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menundukkan sedikit kepala.


"Mari, Nyonya, saya akan antarkan Anda ke ruangan Tuan Janu."


Finn dengan ramah mengajak Cheryl menaiki private lift yang khusus bisa digunakan orang-orang tertentu.


Finn hanya mengantarkannya sampai depan pintu ruangan Janu. Ia mengetuk pintu itu sendiri. Ketika terdengar suara dari dalam yang mempersilakannya masuk, Cheryl baru berani membuka pintu.


Dilihatnya sosok Janu yang terlihat menawan tengah duduk di kursi yang biasa ayahnya tempati. Lelaki itu tersenyum menyambut kedatangannya.

__ADS_1


__ADS_2