
"Kenapa kamu masuk, Finn?" geram Janu.
Ia terlihat marah melihat anak buahnya yang masuk secara mendadak ke ruangannya. Padahal, ia sudah memberi tahu bodyguard di luar untuk tidak mengijinkan siapapun masuk dan mengganggunya.
Finn terlihat panik. Ia sadar telah mengganggu kesenangan atasannya. "Maaf, Tuan. Keluarga Nona Ariana telah menunggu Anda. Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
Di depan memang ada dua penjaga yang sempat melarangnya masuk. Namun, ia merupakan tangan kanan Janu sehingga mereka juga takut padanya. Finn tidak mengira di dalam ada istri atasannya.
"Kalau begitu, aku pamit pulang. Sepertinya kamu akan sibuk hari ini," ucap Cheryl. Ia menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari Janu.
"Jangan pergi!" cegah Janu sembari memegangi erat tangan istrinya.
"Finn sudah bilang kamu ditunggu tunanganmu dan keluarga, Janu! Biarkan aku pergi!" Cheryl berusaha berkelit. Janu tetap tak mau melepaskannya.
"Keluarlah! Katakan pada mereka aku akan datang dalam satu jam. Jangan sampai ada yang berani masuk ruanganku!" titah Janu.
"Tapi, Tuan ...." Finn hendak protes.
Waktu satu jam bukanlah waktu yang singkat. Ia bingung harus memberikan alasan apa kepada keluarga Ariana. Mereka pasti akan murka dan dia yang akan kena getahnya.
"Ah!" Cheryl menjerit saat Janu mengangkat tubuhnya ke atas pundak. "Janu, turunkan aku!"
Tanpa sungkan Janu memperlihatkan hal itu di depan Finn. Sebagai orang yang waras, Finn mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Aku masih belum makan, Finn. Aku lapar. Terserah kamu mau membuat alasan apa pada mereka. Aku mau makan!" ucap Janu.
"Ah, baiklah, Tuan. Saya akan keluar sekarang."
Finn sangat paham dengan maksud atasannya. Ia bergegas keluar dari ruangan itu sebelum Janu bertambah murka.
__ADS_1
"Janu! Turunkan aku! Aku mau pulang" teriak Cheryl.
"Nanti, setelah aku memakan makananku," kata Janu.
Lelaki itu membawa istrinya masuk ke dalam kamar yang disediakan sebagai tempat istirahatnya. Ada sebuah kasur yang nyaman di dalam sana beserta kamar mandi. Tak lupa Janu mengunci pintu ruangan itu rapat-rapat.
"Aduh!" Cheryl kembali mengaduh saat Janu menurunkannya di atas ranjang.
Ia lihat suaminya mulai melepaskan dasi dan sabuknya. Cheryl beringsut mundur.
"Tunanganmu sudah datang, apa kamu tidak ingin menemuinya? Bagaimana kalau dia tahu kamu sedang bercinta dengan wanita lain? Dia pasti akan langsung meninggalkanmu."
Janu menyeringai. "Kamu pikir aku peduli dengan itu? Aku hanya mempedulikanmu, istriku," ucapnya dengan nada menggoda.
Tanpa ragu Janu melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.
Cheryl gagal fokus melihat pahatan dada bidangnya yang sesaat membuatnya terkagum-kagum. Ia juga bisa melihat jelas milik suaminya yang sejak tadi tercetak jelas di balik celana. Ia heran apakah setiap lelaki sama seperti Janu yang akan menggila saat kelelakian mereka terbangun.
"Kamu sudah mendengar sendiri jika waktu kita hanya satu jam. Jadi, cepat putuskan apakah aku yang harus memakanmu atau kamu yang akan memakanku, Sayang?"
"Tidak ada yang bisa aku pilih, aku tak menginginkan keduanya." Cheryl membuang muka.
Janu semakin terpancing dengan penolakan yang istrinya berikan. "Seharusnya kamu bahagia suamimu ini memanggilmu datang karena ingin bercinta. Apa kamu berharap aku akan meniduri sembarang wanita untuk melampiaskan hasrat? Kamu mau aku melakukannya dengan wanita yang bukan istriku, hm?"
Cheryl merasa resah dengan ucapan Janu. Meskipun ia benci dengan pemaksaan yang suaminya lakukan, membayangkan Janu bercinta dengan wanita lain membuatnya merasa tidak rela.
"Lakukanlah! Aku mau segera pulang," ucap Cheryl dengan malu-malu.
Janu mengembangkan senyumannya. Ia merasa menang kali ini. Dengan semangat ia mendaratkan bibirnya di atas bibir sang istri. Tangannya secara lincah melepaskan satu per satu kancing kemeja yang wanita itu kenakan.
__ADS_1
Istrinya terlihat pasrah tanpa perlawanan. Bahkan saat tangannya mengelus dua bukit lembut itu, hanya suara erotis yang keluar dari bibir sang istri.
Perlahan ciumannya menurun menelusuri lekukan leher jenjang yang masih tersisa aroma sabun. Ia mengisap dengan nikmat salah satu puncak bukit yang lembut itu. Suara erangan sang istri menambah semangatnya untuk menelusuri setiap jengkal bagian tubuh yang membuatnya candu.
Cheryl hanya bisa pasrah terbaring di atas ranjangnya. Setiap sentuhan yang Janu lakukan membuatnya menggila. Ia baru mengerti ternyata sentuhan lawan jenis begitu memabukkan dan menjadi candu. Membuatnya lupa akan kebencian dan kekesalan terhadap lelaki tipe pemaksa yang setiap hari tinggal bersamanya.
Kedua tangan Cheryl mer emas kuat sprei yang ada di bawahnya. Lengkuhannya terdengar keras memenuhi seluruh ruangan saat Janu melesakkan miliknya dalam sekali sentakan. Butiran air mata menetes begitu saja di sudut matanya.
Janu memberikan pelukan, menyalurkan cinta yang ada dari dalam hatinya. Tak bosan ia belai lembut memanjakan istrinya. Seolah ia ingin mengungkapkan betapa berharganya wanita itu untuknya.
Kenikmatan yang ia rasakan di dalam tubuh istrinya hampir membuatnya gila. Ia menahan diri agar tidak melampaui batas. Selain untuk kesenangannya, ia ingin sang istri merasa nyaman saat bersamanya.
"Aku gerakkan boleh?" ijin Janu.
Cheryl dengan wajahnya yang memerah malu hanya mampu mengangguk pelan seraya menyembunyikan wajahnya dalam dekapan sang suami.
Ekspresi wajah polos itu semakin menambah gairah Janu. Ia menyesal kenapa tidak lebih awal membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
Sejak pertama kali melihat Cheryl di diskotik saat itu mengenakan pakaian yang sangat minim, ia sudah membayangkan betapa indah tubuhnya. Bahkan beberapa kali ia memimpikan bercinta dengannya. Namun, rasa dendam menutupi gejolak hasratnya yang membara.
Setelah mengetahui keluarga mereka hanya korban, Janu semakin tak ingin melepaskan Cheryl. Ia yakin wanita itu telah menjadi takdir baginya. Sekalipun Cheryl ingin berpisah darinya, ia tak akan melepaskannya.
"Sayang, berbaliklah!" pinta Janu dengan nada yang halus.
Cheryl yang baru saja mendapatkan pelepasan menuruti kemauan suaminya. Janu memeluknya dari belakang seraya memasuki miliknya kembali. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berteriak dan mengerang. Kesenangan itu seakan terus berulang dan hampir membuatnya kelelahan.
Keduanya terbaring lemas setelah sama-sama terpuaskan. Cheryl sampai tertidur karena dibuat pelepasan beberapa kali sampai kelelahan.
Janu puas memandangi istrinya yang menggemaskan terbaring di sisinya. Ia berharap momen bahagia seperti hari ini akan terus berulang di hari berikutnya.
__ADS_1
Janu terkesiap menatap jam yang terpasang di dinding kamar itu. Ia hampir lupa untuk menemui Ariana dan keluarganya.
Ia segera mengenakan kembali pakaiannya. Sebelum pergi, ia menyelimuti tubuh polos istrinya dan memberikan kecupan manis di pipi. "Istirahatlah, Sayang. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali," ucapnya.