Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 43: Menyesal


__ADS_3

Tubuh Cheryl gemetar melihat adegan tak senonoh tepat di hadapannya. Darah di dalam tubuhnya seakan naik ke ubun-ubun dan hampir membuat kepalanya meledak. Ia merasa kecewa bercampur marah. Lelaki yang sangat dipercaya tega memberikan pengkhianatan besar baginya.


Beberapa kali ia memiliki pemikiran buruk bahwa ada hubungan tidak wajar di antara keduanya. Namun, rasa cinta yang besar kepada Arsen membuatnya percaya bahwa lelaki itu tak akan mengkhianatinya. Apalagi hubungan mereka telah berjalan cukup lama.


Segala mimpi dan harapannya langsung sirna seketika dihancurkan situasi yang terjadi saat ini. Padahal, ia sudah sangat senang membawa surat-surat berharga itu agar bisa bersama Arsen. Semuanya hanya sia-sia belaka.


Ia hanya bisa mematung sembari menitihkan air mata. Lidahnya terasa kelu untuk memaki-maki kekasihnya. Rasanya ia ingin menjerit dan menangis sepuasnya.


"Cheryl, dengarkan aku dulu, ini hanya salah paham," kata Arsen.


Dalam kondisi sehina itu, Arsen berusaha meluruskan semuanya. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya.


Tak kuat lebih lama di sana, Cheryl berbalik dan pergi dari sana.


"Cheryl!" seru Arsen.


"Arsen, kita selesaikan sesi terapi ini dulu!"


Diana menahan Arsen agar tidak beranjak dari tempatnya. Ia merasa sangat ingin dipuaskan. Kehadiran Cheryl benar-benar mengganggu kesenangannya.


"Kenapa kita bisa melakukan hal seperti ini?" tanya Arsen dengan nada meninggi. Ia merasa hidupnya telah berakhir dipergoki kekasihnya sendiri ketika melakukan hal yang sangat tidak pantas.


"Ini sudah terlanjur, Arsen. Kita tuntaskan dulu, baru kamu bisa meluapkan kemarahan atau kekesalanmu," bujuk Diana.


Arsen tak mau mendengar kemauan Diana. Ia tetap bangkit dari atas tubuh wanita itu melepaskan miliknya yang entah mengapa ada di sana.


Dengan tergesa-gesa ia menyambar sebuah bathrobe dan mengenakannya sambil berlari mengejar Cheryl.


"Cheryl, tunggu!" seru Arsen yang terpaksa keluar dari kamar apartemennya seperti orang gila.

__ADS_1


Cheryl terus berjalan sambil menangis sesenggukkan. Ia menggeret koper yang dibawanya.


"Cheryl, dengarkan aku dulu," bujuk Arsen yang akhirnya mampu menahan Cheryl sebelum masuk ke dalam lift.


Cheryl menepis tangan lelaki itu. Ia merasa jijik disentuh olehnya.


"Cheryl, aku bersumpah, aku tidak sadar bisa melakukan hal itu dengan Dokter Diana. Tolong, maafkan aku ...."


Arsen bersimpuh sembari menangis di hadapan Cheryl. "Aku pasti sudah gila ... Kenapa aku bisa melakukannya. Maafkan aku ...."


Kata-kata Arsen terdengar penuh penyesalan. Namun, Cheryl sudah tak bisa lagi memberikan maaf maupun pengampunannya. Ia bahkan masih tak bisa berbicara karena terlalu syok.


"Aku janji tidak akan bertemu dengan wanita itu selamanya, Cheryl ... Ampuni aku ... Kumohon ...."


Arsen terus meminta pengampunan dari kekasihnya. Ia tak tahu lagi harus melakukan pembelaan apa. Cheryl sudah terlanjur melihatnya sendiri betapa memalukan dirinya itu.


"Aku tidak bisa ... Aku tidak bisa ...," kata Cheryl dengan menahan rasa sesak di dadanya.


Sebelum pintu lift tertutup, keduanya saling bertemu pandang. Mereka terlihat sama-sama terluka dan menderita. Arsen tak bisa lagi menghentikan langkah Cheryl.


Pintu lift akhirnya tertutup. Arsen menangis tersedu-sedu seperti orang gila di depan lift. Beberapa orang yang kebetulan lewat melihatnya dengan tatapan aneh. Apalagi Arsen keluar hanya mengenakan bathrobe.


Setelah puas menangis beberapa saat, Arsen kembali bangkit dan berjalan menuju apartemennya. Ia lihat Diana masih berada di sana telah mengenakan pakaian lengkap. Sementara, Arsen tampak tak bersemangat seperti orang yang ingin mati.


"Arsen, kamu tidak boleh seperti ini. Aku bisa menjelaskannya." Diana meraih lengan Arsen. Ia merasa khawatir dengan lelaki itu.


Plak!


Arsen memberikan tamparan keras pada pipi Diana.

__ADS_1


Tamparan itu terasa sangat menyakitkan hingga pipi Diana memerah. Diana memegangi pipinya yang sakit.


"Apa yang kamu lakukan sudah sangat keterlaluan!" bentak Arsen. Ia sangat emosi mengetahui dokter yang dipercaya mampu berbuat seperti itu kepadanya.


"Ini demi kebaikanmu, seharusnya kamu berterima kasih padaku. Aku rela melakukan hal sejauh itu demi kesembuhanmu!" kilah Diana. "Kamu merasakannya sendiri, kan, kondisimu jauh lebih baik setelah kita rutin melakukan terapi. Bahkan orang tuamu juga tetap mempertahankan aku, satu-satunya dokter yang mampu membuatmu lebih baik," lanjutnya.


"Omong kosong!" bentak Arsen.


Rasanya ia ingin mati saja saat ini. Kekasihnya pasti sudah tidak akan bisa memaafkannya sekalipun ia bersujud sembari membentur-benturkan kepalanya ke lantai. Kesalahannya sangat fatal.


"Kalau dia memang mencintaimu, dia tidak akan membencimu hanya karena satu masalah seperti ini!" ucap Dokter Diana.


"Apa kamu bisa diam?" bentak Arsen. "Kamu sudah berhasil menghancurkan hidupku dan tidak merasa bersalah sama sekali?" tanyanya dengan bibir bergetar menahan amarah.


"Kamu tahu, kan ... Aku tidak pernah berniat seperti itu." Diana berusaha berkelit. "Aku melakukan demi kebaikanmu semata."


"Pergi dari sini sekarang," pinta Arsen.


"Arsen, cobalah pikirkan dengan tenang," bujuk Diana.


"Pergi dari sini sekarang juga!" bentak Arsen.


Brak! Prang!


Arsen mulai mengamuk. Ia membanting sebuah guci pajangan hingga pecah berkeping-keping.


Diana terkejut melihat kemarahan Arsen yang kembali muncul. Lelaki itu mengamuk dan merusak segala benda yang bisa diraihnya.


Buru-buru Diana kabur keluar dari apartemen Arsen. Ia tidak mau menjadi sasaran amukan Arsen.

__ADS_1


"Pak, penghuni kamar XXX sepertinya sedang mengamuk. Tolong bawa beberapa orang untuk mengamankannya. Aku takut dia akan bunuh diri," kata Diana kepada salah seorang petugas keamanan.


Diana tahu penyakit Arsen kembali kambuh. Lelaki itu bisa saja mencoba melukai dirinya sendiri seperti dulu. Arsen pernah ingin mengiris pergelangan tangannya sendiri.


__ADS_2