Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 7: Suamiku Selingkuh


__ADS_3

"Mulai sekarang, jangan biarkan dia keluar dari rumah ini!"


Sejak kata-kata itu keluar dari mulut Janu, Cheryl tidak bisa lagi keluar rumah. Waktu itu menjadi pertama dan terakhir kalinya ia bisa jalan-jalan di luar.


Kehidupan yang membosankan terulang kembali. Ia hanya bisa menghabiskan waktu di mansion bersama dengan para pelayan dan penjaga yang mengabaikan keberadaannya.


"Sebenarnya Janu kenapa, sih? Katanya mau melindungiku tapi perlakuannya seolah menganggap orang seperti tahanan."


Cheryl bergumam sembari memandang suasana taman belakang dari balik jendela kamar. Sejak ia berusaha kabur, Janu menempatkan lebih banyak penjaga di sana.


"Kabur dengan cara apa lagi, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Saat pikirannya sedang buntu, melintas seorang pelayan dari arah pintu belakang yang mendorong gerobak sampah. Biasanya memang ada seorang pelayan yang bertugas membuang sampah rumah tangga untuk dibuang ke belakang.


Cheryl memiliki ide cemerlang. Segera ia keluar dari dalam kamar menuju ke lantai atas. Ketika berpapasan dengan beberapa pelayan, ia berpura-pura menyibukkan diri di dapur mencari makanan. Saat mereka tidak mengawasi, ia menuju ke tempat laundry pekerja di mana di sana terdapat banyak seragam pelayan yang baru selesai di cuci.


Keluar dengan mengenakan seragam pelayan dan memakai masker, Cheryl berpura-pura sebagai salah satu pelayan yang membawa keranjang sampah.


"Kamu mau membuang sampah ke belakang?" tanya salah seorang pelayan yang berpapasan dengannya.


Cheryl hanya mengangguk.


"Ambil sekalian sampah yang ada di dekat sana!" perintahnya sembari menunjuk ke arah bangunan tempat tinggal para pelayan.


Cheryl bergegas menuju tempat yang dimaksud. Ia mengambil keranjang sampah di sana dan membawanya dengan tangan yang lain.


Ketika melewati penjaga, ia sedikit gugup. Namun, ternyata mereka tidak mengenalinya. Dengan mudah ia membuka pintu belakang dan akhirnya bisa keluar dengan selamat.


Ia tinggalkan dua keranjang sampah yang dibawanya dan menanggalkan baju pelayan yang dikenakannya. Ia buang ke semak-semak agar tidak ketahuan.


Cheryl berjalan memasuki hutan agar menjauh dari mansion itu. Setelah cukup jauh dari sana, ia berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan yang datang. Dengan bekal uang secukupnya, ia nekad keluar rumah.


"Hah! Aku harus kemana dan melakukan apa?" Cheryl menggaruk kepalanya sendiri setelah turun dari taksi.


Krucuk! Krucuk!


Perutnya berbunyi nyaring. Ia lupa belum makan sebelum keluar dari rumah Janu.

__ADS_1


"Makan dulu, ah!" serunya.


Ia melangkahkan kaki dengan riang masuk ke dalam restoran. Dengan penampilannya yang cukup berantakan mengenakan sandal jepit, ia menjadi pusat perhatian. Namun, karena lapar ia mengabaikan perasaan tidak nyamannya.


"Kamu mau makan di sini?" tanya salah seorang pelayan yang menghampirinya seakan memandangnya dengan keraguan. Raut wajah pelayan itu seolah jijik kepadanya.


"Iya, saya mau makan," kata Cheryl.


"Harga makanan di sini cukup mahal. Kalau mau yang murah, cari di daerah sekitaran pasar."


Ucapan pelayan itu sangat tidak enak didengar. Memang, Cheryl tidak memiliki banyak uang. Namun, ia tidak ingin harga dirinya diinjak-injak.


"Kira-kira segini cukup untuk makan di sini?" Cheryl memperlihatkan lembaran uang merah yang dibawanya dari rumah Janu. "Kalau masih kurang, aku punya cincin yang bagus ini." ia juga menunjukkan cincin pernikahannya yang bertahtakan berlian.


Sekejap pelayan itu langsung ciut nyali. "Silakan pilih pesanan Anda. Ini daftar menu restoran kami."


Pelayan itu merasa tidak enak hati telah memperlakukan pelanggannya dengan kurang sopan. Ia memberikan daftar menu kepada Cheryl dan menunggu wanita itu melihat-lihat buku menunya.


"Aku pesan yang ini, ini, ini, dan .... Ini!" ucap Cheryl sembari menunjuk gambar makanan yang diinginkannya. Sementara, sang pelayan restoran mencatat apa yang dimaunya.


"Baik, silakan tunggu sebentar, kami akan segera membawakan pesanan Anda." pelayan tersebut pamit undur diri.


Tak berapa lama, pesanan Cheryl diantarkan. Meja yang semula kosong kini telah dipenuhi dengan makanan dan minuman yang dipesannya. Tanpa menunggu lebih lama, ia mencicipi setiap menu yang tampilannya terlihat menggugah selera.


"Hmm, enak!" pujinya. Ternyata apa yang disajikan tidak jauh dari ekspektasinya.


"Sayang, kita mau duduk di mana?"


Kehadiran sosok pasangan pria dan wanita yang baru saja masuk ke restoran membuat Cheryl berhenti memakan makanannya. Lelaki yang bersama wanita cantik itu merupakan suaminya sendiri. Merasa sebagai seorang istri yang selama ini terus dikurung dan diperlakukan tidak baik di rumah, ia kesal melihat suaminya memperlakukan wanita lain dengan cara yang istimewa.


Ia membuntuti keduanya yang hendak masuk ke ruangan khusus di restoran itu.


"Suamiku," sapanya.


Sontak wanita bernama Ariana dan Janu menoleh ke belakang. Janu tampak terkejut melihat keberadaan Cheryl di sana.


"Sayang, dia siapa?" tanya Ariana penasaran. Ia heran ada orang yang memanggil pacarnya dengan sebutan suami.

__ADS_1


"Sepertinya dia salah satu orang gila yang baru lepas dari Rumah Sakit Jiwa," ucap Janu.


Cheryl kesal dengan perkataan Janu. "Apa karena wanita ini aku dikurung terus di rumah? Kamu sudah punya istri tapi masih memelihara pelacvr seperti dia?"


Meskipun tengah amnesia, namun jiwa bar-bar Cheryl tetap muncul. Ia paling tidak suka kalah atau tersaingi oleh orang lain. Apalagi ia merasa kalau Janu memang suaminya. Tidak ada yang boleh memiliki suaminya selain dirinya.


"Apa?" Ariana sangat kaget dengan ucapan kasar Cheryl.


"Ariana, tunggu di dalam. Aku akan menyelesaikan urusanku secepatnya dengan wanita gila ini!" tegas Janu dengan tatapan kemarahannya.


"Kalian sudah ketahuan selingkuh tapi malah menuduhku gila? Kamu yang tidak waras!" bantah Cheryl.


Tidak ingin mendengar pekataan Cheryl yang aneh-aneh, Janu menarik kasar tangan wanita itu agar pergi menjauh dari Ariana.


"Lepaskan aku! Kalau aku istrimu, kenapa kamu tega memperlakukan aku dengan kasar seperti ini!" Cheryl berusaha melawan.


Janu terus membawa Cheryl keluar restoran. Tiba di tepi jembatan yang agak sepi, baru ia mau melepaskannya. "Kenapa pergi tidak meminta izin dariku?" tanyanya.


"Hah? Izin? Memangnya kamu akan mengizinkan kalau aku bilang?" Cheryl ingin tertawa.


"Pulang sekarang!" perintah Janu.


"Kenapa? Malu sudah ketahuan pelacvr itu kqlau sebenarnya kamu sudah menikah?"


Plak!


Janu menampar kasar pipi Cheryl. "Aku akan menghukummu agar jera. Kamu kira aku tidak akan tega menyakitimu?" ancamnya.


"Kalau kamu memang tidak menyukaiku, kenapa kamu kenikahiku? Kenapa kamu tidak menikahi pelacvr itu saja?" Cheryl memegangi pipinya yang sakit.


"Sekali lagi kamu menyebut dia seperti itu, aku akan menambah hukumanmu!" ancamnya lagi.


"Lakukan saja! Aku akan memberitahu dia kalau aku adalah istrimu!" Cheryl balik mengancam Janu.


Merasa khawatir dengan ancaman itu, Janu hilang kendali. Ia tanpa sengaja mendorong tubuh Cheryl dengan kuat hingga wanita itu hilang keseimbangan.


"Ah!" teriak Cheryl yang terjatuh ke dalam sungai.

__ADS_1


Janu tidak bermaksud mencelakai Cheryl. Lelaki itu panik. Ia ikut menceburkan diri ke dalam sungai dan mengejar tubuh Cheryl yang terbawa arus.


__ADS_2