Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 83: Memikul Tanggung Jawab


__ADS_3

"Kenapa masih di sini?"


Kenzo kembali menghentikan langkah Janu. Ia tidak mengira adiknya yang bodoh itu akan kembali ke tempat acara. Padahal, sebelumnya ia lihat Janu hampir pergi menemui Cheryl.


"Aku mau masuk, aku mau menikah dengan Ariana," kata Janu.


Plak!


Kenzo menampar keras pipi adiknya, berharap Janu bisa sadar. "Pulang! Istrimu sedang hamil di di rumah sendirian!" perintahnya.


"Kak!" Janu tak tahu lagi harus mengatakan apa pada kakaknya. Ia tengah panik dan tak bisa berpikir panjang. Di dalam pikirannya hanya fokus pada keselamatan anak dan istrinya.


Drrt!


Tiba-tiba ponsel Janu bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Silvia. Wanita itu kembali mengirimkan foto istrinya.


Cepat masuk!


Hanya kalimat singkat namun membuat Janu cukup tertekan.


"Mommy menahan Cheryl?" Kenzo membulatkan mata melihat isi pesan yang ada di ponsel Janu.


"Sudah tahu kan sekarang kalau aku tetap harus menikah," ujar Janu dengan tubuh yang kelihatan lemas.


"Tidak, pokoknya kamu tidak boleh menikah." Kenzo sangat melarang keputusan adiknya. Dia lebih membertakan keadaan Cheryl dari pernikahan itu.


"Aku mempertaruhkan nyawa anak dan istriku, Kak! Kamu jangan gila melarangku masuk!" bentak Janu.

__ADS_1


"Sudahlah, turuti saja aku. Kamu pulang dan temui istrimu."


"Kak ...." Janu merengek.


"Percayalah, aku juga sudah menempatkan anak buahku untuk melindungi Cheryl. Usaha Mommy tidak akan berhasil," saran Kenzo.


"Ini bukan sekedar urusan pernikahan, tapi juga berkaitan dengan bisnis dan politik."


"Aku akan mengatasinya!" kata Kenzo dengan tegas. "Sekarang, aku adalah pemilik Atmajaya Sentosa. Biarkan aku yang mencari solusi untuk perusahaan kita."


Janu menatap mata kakaknya. Ia seperti bisa mempercayai perkataannya. Meskipun tidak tega melimpahkan beban itu kepada kakaknya, namun mengingat kondisi Cheryl yang sedang hamil, ia memutuskan untuk pergi.


Ia berlari sekuat tenaga menuju ke area parkir untuk mengambil mobilnya. Sementara, Kenzo memerintahkan pengawalnya untuk memastikan adiknya bisa selamat dan keluar dari tempat itu. Ia juga merayu anak buah ibunya agar melonggarkan pengawasan dan membiarkan Janu pergi.


Kenzo melangkahkan kaki dengan berani memasuki ruangan yang dikhususkan untuk kedua keluarga mempelai. Awalnya mereka terlihat senang mengira Janu telah datang. Namun, ternyata yang datang adalah Kenzo.


"Kenzo, dimana Janu?" tanya Silvia dengan raut wajah cemas. Ia bahkan sudah mengancam anak angkatnya dengan keselamatan Cheryl. Namun, Janu sepertinya tetap membangkang.


Kenzo menatap sendu ke arah Ariana. Wanita itu sangat kasihan, pasti Ariana sudah sangat menantikan pernikahannya. Namun, Cheryl lebih membutuhkan Janu karena adik iparnya itu sedang hamil.


"Untuk keluarga Ariana, sebelumnya saya meminta maaf dan sangat menyesal atas apa yang terjadi."


Pihak keluarga Ariana sudah sangat resah saat mendengar Kenzo mengatakan hal semacam itu. Ariana turut tak bersemangat.


"Adik saya tidak bisa menikah dengan Ariana," kata Kenzo.


Orang tua Ariana langsung terlihat marah, begitu pula dengan Silvia.

__ADS_1


"Kalian mau mempermainkan keluarga kami? Kurang ajar sekali Janu!" umpat Pak Handoko.


Ibu Handoko menarik tangan Ariana agar duduk bersamanya di sofa. Ia memeluk putrinya yang tengah menangis karena sang calon suami tak datang.


"Sebenarnya Janu telah menikah dan istrinya tengah hamil. Dia tidak bisa menikahi Ariana," kata Kenzo.


Semua dibuat kembali syok dengan kenyataan itu, terutama Ariana.


"Memang Janu benar-benar baji ngan! Aku akan menghajarnya tanpa ampun!" Pak Hamdoko mengepalkan tangannya. Ia tak akan membiarkan siapapun menyakiti putri kesayangan ya.


"Bagaimana ini? Tamu di luar sangat banyak dan mereka pasti telah lama menunggu," ujar Ibu Handoko seraya terus menenangkan Ariana.


"Janu bukan hanya membatalkan pernikahan ini. Dia juga ingin membuat citra buruk keluarga kita di mata rekan-rekan bisnisnya."


"Saya akan mengambil tanggung jawab ini," sahut Kenzo.


"Apa?" mereka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Kenzo ucapnkan.


"Aku bersedia menggantika Janu untuk menikahi Ariana," katanya dengan yakin. "Kalaupun nanti saya dan Ariana harus berpisah, setidaknya nama kalian tetap terjaga jika pernikahan tetap dilaksanakan," kata Kenzo.


Silvia memijit kepalanya yang mau pecah. Ia susah payah meminta bantuan anak buahnya di rumahnya, namun tidak ada keinginan untuk meminta-minta.


Ia sudah mencoba menghubungi anak buahnya, namun tak ada yang mau mengangkatnya.


"Ariana, bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Handoko kepada putrinya. Bagaimanapun juga, ia tak mau egois dan memaksa putrinya.


"Sayang, ini demi menutupi aib dari luar. Terima saja keputusan kami, ya ...." Ibu Handoko turut menasihati agar putranya tagmhu bahwa itu adalah perbuatan yanvg salah.

__ADS_1


Ariana telah terduduk lesu. Rasanya baru pagi tadi ia tersenyum dan tertawa bahagia karena akan menikah. Di detik-detik terakhir, ternyata Janu meninggalkannya.


"Baiklah, Ma. Aku mau menikah dengan Kak Kenzo," ucap Ariana.


__ADS_2