
"Jadi, apa saja yang kamu lakukan selama enam bulan di sana?" tanya Silvia sembari mengupas buah jeruk yang ada di hadapannya dengan anggun.
"Ada banyak hal yang sudah aku lakukan. Termasuk memastikan pengiriman narkotika dengan aman."
Kepulangan Janu tidak bisa dilepaskan dari misi pengamanan untuk penyelundupan obat terlarang itu ke sana. Selain itu, ia juga ditugaskan mendirikan perusahaan secara diam-diam di sana dengan uang yang diperoleh dari hasil pekerjaan haram itu.
Silvia memang selalu mengutarakan niatnya untuk kembali ke sana. Dulu ia terpaksa pergi ke luar negeri karena tidak memiliki muka lagi setelah dicampakan Bara. Mendengar keluarga mantan suaminya meninggal, ia sangat bahagia. Namun, setiap kali melihat Janu membuatnya sakit hati. Wajahnya sekilas mengingatkan kepada Retha, wanita yang telah berhasil mengalihakan cinta Bara darinya.
"Apa sesulit itu masuk ke Atmajaya Sentosa?" tanya Silvia.
"Mereka sangat ketat memilah pihak investor yang masuk. Kalau ada kaitannya dengan pemilik Atmajaya sebelumnya, sudah pasti akan ditolak."
Silvia menyeringai. Ia bisa membaca niat busuk Thea, musuh bebuyutannya sejak SMA.
"Dengan bantuan Pak Handoko aku bisa mendapatkan sedikit saham di sana. Itupun lewat saham titipan."
"Bukannya tidak ada yang mengenalimu? Aku sudah mengganti identitasmu," kata Silvia heran.
"Sementara belum ada yang tahu. Tapi, karena aku belum memiliki nama, mereka tidak akan meliriknya."
"Aku dengar pemilik perusahaan yang sekarang kamu pegang itu juga dibunuh orang seperti keluargamu?" tanya Silvia.
"Benar. Mereka juga dibunuh."
"Hahaha ...." Silvia tertawa. "Aku tidak menyangka kumpulan orang-orang baik itu akhirnya bernasib sama. Ayah dan ibumu sudah menerima karmanya karena kejahatan yang mereka lalukan terhadapku."
Janu mengepalkan tangannya. Ia tidak rela orang tuanya dianggap sebagai orang jahat.
__ADS_1
"Kelakuan ibumu sungguh seperti pelacvr. Dia tega merayu lelaki yang sudah memiliki anak dan istri. Kalau bukan karena ibumu, hidupku dan Kenzo tidak akan mengalami kesengsaraan."
"Kenapa Mommy sangat menginginkan perusahaan ayahku?" Janu sengaja memotong perkataan Silvia dengan pertanyaannya. Ia tidak tahan mendengar ibunya dihina.
"Itu sudah menjadi hak Kenzo. Aku menginginkannya untuk putra kesayanganku. Kamu tidak keberatan kan, untuk merebutnya?" tanya Silvia.
Wanita itu seolah ingin menegaskan bahwa di matanya hanya ada satu anak, yaitu Kenzo. Janu berusaha untuk tidak sakit hati.
"Apa jangan-jangan kamu juga menginginkannya?" telisik Silvia.
"Tidak. Aku tidak menginginkannya," kilah Janu.
"Itu bagus. Kamu harus tahu diri selama belasan tahun sudah aku besarkan dengan baik. Ibumu juga sudah merusak hidup Kenzo, kamu yang harus bertanggung jawab."
"Mommy tidak perlu mengingatkannya lagi. Aku sudah tahu dan pasti akan aku lakukan dengan baik," ucap Janu.
Hinaan Thea saat itu masih ia ingat dengan jelas. Ia juga ingin Thea merasakan hal yang lebih parah darinya.
"Akan aku ceritakan andil Thea dalam kehancuran keluargamu," kata Silvia.
"Wanita itu pernah menculik ibumu dan hampir membunuhnya karena ayahmu menjebloskan ayah Thea ke penjara. Dia sangat dendam kepada ayahmu. Aku dengar dia juga sudah mati, ternyata masih hidup. Entah bagaimana ia bisa menduduki Atmajaya Sentosa secara tiba-tiba."
"Jadi, kamu bisa membalaskan dendam kematian kelaurgamu padanya dan aku bisa melihat putraku memimpin di Atmajaya Sentosa."
"Apa memang dia yang sudah membunuh seluruh keluargaku?" tanya Janu.
"Orang yang punya dendam paling besar terhadap ayahmu adalah Thea. Kemungkinan besar kalau itu dia."
__ADS_1
Janu mengingat kembali wajah Thea yang pernah ia jumpai dalam rapat. Secara sekilas cara bicara wanita itu sangat tertata yang menunjukkan tingkat pendidikan tinggi. Ia tidak bisa mempercayai jika dibalik wajah yang tenang itu merupakan otak pembunuhan sadis.
Silvia menikmati jeruknya sembari mengamati ekspresi wajah Janu yang penuh dengan kebencian. Ia tersenyum kecil. Ia begitu senang bisa mengendalikan anak itu dengan baik.
Silvia tak perlu bersusah payah melakukan sesuatu. Janu akan secara sukarela melakukan apa yang ia perintahkan.
"Apa kamu mengajak Finn?" tanya Silvia.
"Iya, aku mengajaknya."
"Baguslah! Kamu bisa melakukan tugas Daddy bersama dengannya. Kamu tidak boleh kembali sebelum semua terselesaikan di sini!" tegas Silvia.
Janu menghela napas. Niatnya tak ingin berlama-lama di sana. Baru beberapa hari pergi saja pikirannya penuh oleh Cheryl. Entah mengapa berada di dekat wanita itu membuat perasaannya sedikit tenang. Mungkin karena mereka sama-sama sebatang kara.
"Bagaimana dengan perusahaan Kakak?" tanya Janu.
"Sangat kacau! Apalagi setelah Damian tertangkap. Apa kamu mau membantunya? Aku tidak tega melihatnya kesusahan."
"Iya, nanti akan aku bantu," kata Janu.
Bisnis yang Kenzo lakukan merupakan bisnis sehat yang sangat bergantung pada jumlah investornya. Sementara, bisnis dan perusahaan yang dikelola Dimitri dan Janu hanya kedok untuk menutupi perputaran bisnis haram mereka.
"Kamu juga harus berusaha keras mengembalikan Atmajaya Sentosa kepada Kenzo. Itu sudah jadi hak Kenzo."
***
❤❤❤ PROMOSI ❤❤❤
__ADS_1