Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 9: Kembalinya Ingatan


__ADS_3

Cheryl mengerjap-ngerjapkan mata. Kepalanya masih terasa berat. Saat melihat ke sekeliling, hanya ada ruangan yang didominasi warna putih. Perlahan penglihatannya semakin melebar. Ia menyadari bahwa kini tengah berada di rumah sakit.


Ingatan sebelum ia berada di sana tergambar jelas di otaknya. Anehnya, ingatannya terdahulu juga kembali. Kepalanya semakin sakit saat ingatan-ingatan itu berbaur menjadi satu.


Akibat dirinya terjatuh ke sungai ia sembuh dari amnesia. Kini, ia tahu dirinya yang sebenarnya.


"Kamu sudah sadar?"


Janu dengan penampilan rapi memasuki ruang perawatannya. Cheryl membuang muka.


"Sayang, aku sangat mengkhawatirkanmu." Janu mengecup kening Cheryl. Saat ia hendak memeluk, wanita itu mendorong tubuhnya.


"Dasar pembunuh!" kata Cheryl dengan raut amarahnya.


Janu tertegun. Ia memijit keningnya sendiri. Ia merasa istrinya masih kesal karena tidak sengaja didorongnya sampai jatuh ke sungai.


"Sayang, maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mendorongmu. Aku sampai panik dan ikut terjun untuk menyelamatkanmu."


Cheryl menepis tangan Janu yang berusaha menyentuhnya.


"Kamu pasti masih salah paham dengan wanita yang waktu itu kamu lihat. Kita tidak ada hubungan apapun." Janu berusaha membaiki istrinya.


Cheryl masih diam membisu. Ia ingin sekali mengumpat Janu dengan segala kekuatannya. Sengaja ia tahan dan berpura-pura masih amnesia.


Ia takut jika Janu tahu ingatannya telah kembali, lelaki itu akan memperlakukannya lebih buruk dari saat ini.


Rasa dendam yang terpendam di hatinya begitu besar. Ia bersumpah akan membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya.


"Percayalah, wanita itu bukan siapa-siapa untukku."


"Kalau memang bukan siapa-siapa, kenapa kamu menyebutku sebagai orang gila?" hinaan Janu kepadanya masih ia ingat.


"Ah, itu ...." Janu hampir bingung menjelaskannya. "Aku sedang kesal karena melihatmu di sana. Kamu tidak patuh untuk tetap berada di rumah."


Cheryl menyeringai. "Kesal karena melihatku atau kesal karena wanita itu tahu kalau aku istrimu?" sindirnya.


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sepertinya kamu butuh waktu lebih banyak untuk istirahat." Janu berbalik badan dan bergegas pergi dari sana.


Cheryl menoleh ke arah pintu. Sebelum tertutup, jelas terlihat ada yang menjaga di depan sana. Ia lupa jika Janu pasti tidak akan membiarkannya sendiri.


***


"Tuan, ada informasi dari dokter yang menangani Nona Cheryl," kata Fin.

__ADS_1


Janu menutup layar tablet yang sedari tadi diperhatikannya. Ia memutar kursinya menghadap Fin. "Katakan, apa yang dokter bilang."


"Nona Cheryl sepertinya sudah mendapatkan kembali ingatannya."


Perkataan Fin membuat Janu memikirkannya. Sikap Cheryl kemarin yang terlihat lebih kaku dari biasanya. "Bagaimana keadaannya?"


"Menurut dokter, kondisi Nona sudah membaik dan bisa pulang."


"Kalau begitu, kita jemput dia sekarang."


"Baik, Tuan."


Keduanya berjalan keluar dari ruangan menuju ke area parkir di depan gedung kantor. Fin mengemudi di bagian depan, sementara Janu duduk di belakang.


"Apa urusan di kota sebelah sudah kamu selesaikan?" tanya Janu.


"Sudah, Tuan. PT Minasa Persada sudah beralih kepemilikan atas nama Anda."


Janu menyunggingkan senyuman. Setelah perjuangan selama beberapa bulan, akhirnya perusahaan tersebut menjadi miliknya. Menguasai perusahaan milik keluarga Cheryl menjadi langkah awalnya merebut kembali PT Atmajaya Sentosa.


"Tuan Kenzo beberapa waktu lalu menanyakan tentang Anda," kata Fin.


"Kakakku kenapa?"


"Beliau menanyakan tentang kepulangan Anda."


"Kalau dia menghubungi lagi, katakan saja aku akan pulang setelah urusanku selesai," pintanya.


"Baik, Tuan."


Janu sengaja mengabaikan setiap pesan dan panggilan yang berasal dari kakaknya. Ia ingin mencapai tujuannya kali ini dengan kemampuannya sendiri.


Nasib yang dialami Cheryl juga pernah Janu alami. Seluruh keluarganya dihabisi oleh Mr. X. Jika dia dan kakaknya tidak diajak bersembunyi oleh seorang pelayan rumah, mungkin ia juga sudah ikut mati bersama keluarganya. Dari tragedi mengerikan itu, hanya dia, kakaknya, dan satu pelayan rumahnya yang selamat.


Awalnya Janu dan Kenzo hendak ikut dengan Trini, pelayan yang bersedia merawat mereka. Namun, ketika tanpa sengaja mereka mendengar rencana Trini untuk menyerahkan mereka kepada seseorang demi imbalan uang, Kenzo mengajak Janu kabur.


Usia Janu saat itu masih 10 tahun dan kakaknya 15 tahun. Mereka yang masih kecil sudah tidak mempercayai orang lain. Bertahan di sana juga beresiko.


Kenzo hanya mengetahui satu nomor yang bisa dihubungi, yaitu ibu kandungnya, Silvia. Keduanya masih berhubungan baik meskipun Kenzo lebih memilih tinggal bersama ayahnya.


Setelah Kenzo menghubunginya, Silvia datang menjemput putranya. Ia sangat senang akhirnya Kenzo mau bersamanya. Namun, ia juga kurang senang saat Kenzo memintanya membawa serta Janu. Sejak saat itu, mereka tinggal di luar negeri.


"Tuan ... Tuan ...."

__ADS_1


Panggilan Fin membuyarkan lamunan Janu. Ternyata mereka telah sampai di rumah sakit. Mereka segera turun dari mobil dan bergegas menuju ruangan Cheryl.


Janu sangat penasaran dengan respon istrinya nanti. Apakah wanita itu akan kembali ingin melampiaskan hasrat membunuhnya atau justru kabur lagi.


Klek!


Pintu terbuka. Tampak Cheryl telah memakai pakaian rapi tengah duduk di sofa. Alat infus yang terpasang di tangan sudah terlepas.


Tatapan wanita itu kembali sama seperti saat pertama mereka bertemu. Tatapan penuh kebencian dan dendam yang terpendam.


"Aku kira kamu sudah kabur lagi," sindir Janu.


"Apa itu yang membuatmu begitu tergesa-gesa untuk datang ke sini? Di luar pengawalmu cukup banyak. Kamu masih takut aku kabur?" ucap Cheryl dengan ekspresi datar.


Janu menyunggingkan senyum. Ia merasa bodoh sendiri. Kemarin, nada bicara itu juga sudah ia dengar. Janu kira kemarahan Cheryl karena kejadian di restoran waktu itu. Ternyata, wanita itu telah mendapatkan kembali ingatannya.


"Syukurlah, aku tidak perlu repot mencarimu. Kalau begitu, kita pulang sekarang."


"Ceraikan aku!"


Ucapan Cheryl membuat Janu terdiam sejenak. "Aku tidak akan menceraikanmu."


"Hahaha ...." Cheryl tertawa. "Kamu tidak malu sudah menikahi wanita yang sedang kehilangan ingatan? Selain kejam, ternyata orang sepertimu pengecut dan licik!" ia memberikan tatapan tajam kepada Janu.


"Kamu benar. Aku memang orang seperti itu. Makanya aku tidak mau menceraikanmu ataupun melepaskanmu." Janu mulai menunjukkan nada dinginnya.


"Aku bisa mengadukan ini kepada polisi kalau kamu sudah merampas kebebasanku. Aku juga akan menghubungi pengacara dari pihak keluargaku untuk menuntutmu."


"Lakukan! Lakukan saja! Semakin kamu berusaha melawan, kamu yang akan semakin menderita." bukannya menuruti kemauan Cheryl, Janu semakin menantang keberanian wanita itu.


"Kamu pikir aku akan membiarkanmu menyiksaku? Lebih baik aku mati!" ucap Cheryl.


Wanita itu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah jendela ruangannya.


Janu yang melihat memiliki firasat buruk. Ia mengambil langkah seribu menghampiri Cheryl. Fin ikut panik melihatnya.


Istrinya sungguh gila. Kalau saja ia terlambat memegangi, wanita itu sudah terjun ke bawah.


"Lepaskan!" Cheryl berusaha melepaskan diri dari Janu.


"Kamu sudah gila? Aku susah payah menyelamatkanmu dan sekarang kamu mau mati?" bentak Janu emosi.


"Siapa yang menyuruhmu menolongku? Mati lebih baik dari pada kamu siksa!"

__ADS_1


 


 


__ADS_2