Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 78: Menemani Vina


__ADS_3

"Jadi, kamu sudah mantap resign, ya" tanya Vina sembari mengaduk es capuccino miliknya.


"Ya, aku sudah mengajukan surat pengunduran diri dan sudah diterima."


Cheryl mengembangkan senyum. Siang ini ia bertemu dengan salah satu rekan kerjanya saat jam istirahat tiba. Vina terus menghubunginya karena Cheryl sudah tak lagi masuk kantor. Ia merasa perlu memberikan penjelasan agar Vina taj khawatir.


Sebenarnya Cheryl tak mau mengundurkan diri. Lebih tepatnya ia telah dipecat oleh pemilik baru PT Atmajaya Sentosa, Januar Atmaja, suaminya sendiri. Lelaki itu tidak menginginkan ia kembali ke kantor dengan alasan ada mantan kekasihnya di sana.


"Sayang banget, ya ... Baru aku dapat teman kerja yang asyik, kamu malah resign. Aku bareng siapa lagi nanti kerjanya," keluh Vina. Sudah dua kali tempat kerja di sampingnya keluar dari perusahaan.


"Masih ada Dinda, kan?" ledek Cheryl.


Vina memutar malas kedua bola matanya. "Mau membuat perang dunia, apa? Kalau bisa juga jangan sampai satu divisi dengannya. Lama-lama aku juga bisa stres bertemu dia terus!"


"Tenanglah ... Hendra juga masih bekerja di sana. Dia orang yang menyenangkan untuk dijadikan teman," ujar Cheryl.


"Iya, sih. Tapi, akhir-akhir ini juga sikapnya aneh, kelihatan suka menghindar. Ya, sejak pesta perusahaan aku rasa." Vina mencoba mengingat-ingat.


Cheryl juga ikut berpikir entah apa yang membuat lelaki itu berubah sikap. Saat masa-masa akhirnya di perusahaan, Hendra juga memang sangat jelas ingin menghindarinya.


"Oh, iya. Perusahaan akan kembali mengadakan acara, sayang banget kamu nggak bisa ikut lagi. Padahal kali ino acaranya gabung dengan beberapa perusahaan lain, bisa sekalian jadi ajang cari jodoh kalau cocok."


Cheryl hanya menyunggingkan senyum. Sekalipun ada acara semacam itu, ia yakin Janu akan kembali mengikutinya dan tidak membiarkannya dekat dengan lelaki lain. Bahkan saat pesta itu, Janu begitu keterlaluan hampir meminta bercinta dengannya.


"Aku sudah meminta ijin ke atasan untuk keluar selama dua jam. Rencananya mau menyewa gaun saja di butik. Kalau beli terus, aku bisa tekor. Kamu ada waktu nggak nemenin aku pilih-pilih baju yang bagus di butik?" tanya Vina.


"Boleh, aku juga tidak ada kerjaan lain," jawab Cheril.


"Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!" seru Vina dengan semangat.


Mereka meninggalkan kafe tempat keduanya minum menuju butik yang letaknya tak terlalu jauh dari sana. Vina mengajak Cheryl naik taksi untuk ke sana.


Cheryl melihat dari kaca spion, di belakang taksinya ada mobil milik Thor yang mengikuti. Janu benar-benar tak membiarkannya berkeliaran sendiri. Selalu ada pengawasan meskipun dari kejauhan.


Herannya, ia tak diperbolehkan bicara atau bertatap muka dengan Silvia meskipun mereka tinggal satu rumah. Janu melarangnya untuk sekedar menyapa atau dekat-dekat dengan wanita itu.

__ADS_1


"Ini butik langgananku, Cher! Koleksinya bagus-bagus dan harganya affordable, terjangkau untuk kita," ujar Vina ketika mereka telah sampai di sana.


"Vina, kamu sudah datang?" sapa seseorang saat melihat kehadiran mereka.


"Hai, San. Aku ijin dua jam ke atasan hari ini demi bisa ketemu kamu," ucap Vina.


Vina dan wanita tersebut saling berpelukan seolah mereka memang telah mengenal satu sama lain.


"Kamu datang dengan siapa?" tanya wanita bernama Santi saat menyadari keberadaan Cheryl di sana.


"Ini temanku, namanya Cheryl," kata Vina seraya memperkenalkan Cheryl.


"Oh, hai, Cheryl. Selamat datang di butikku, namaku Santi, teman Vina juga."


Santi dan Cheryl saling berjabat tangan. Mereka bertiga masuk ke dalam butik dan disambut dengan hangat oleh karyawan yang bekerja di sana.


Santi meminta salah satu staf untuk mengambilkan minuman dan camilan sebagai suguhan tamunya.


"Aku senang sekali kamu bisa mampir ke tempatku. Karena sama-sama sibuk kerja, kita hampir tak bisa bertemu," ucap Santi.


"Kenapa acara pesta perusahaan terus? Sekali-kali pesta pertunangan atau pernikahanmu sendiri, Vin!" ujar Santi.


"Hahaha ... Menghidupi diri sendiri saja masih ketar-ketir, bagaimana bisa aku memikirkan untuk menikah?"


"Cari yang kaya, biar suami yang kerja, kamu yang foya-foya," usul Santi.


"Nah, itu! Salah satu tujuanku rajin datang ke pesta, harapannya dapat satu yang bisa menampung beban kehidupan sepertiku. Hahaha ...."


Mereka terlihat tertawa dengan pembicaraan ringan yang dilakukan.


"Oh, iya, Vin. Aku minta maaf tidak bisa lama menemanimu. Soalnya sebentar lagi ada klien yang mau datang dan mencoba salah satu gaun pengantin di sini. Jadi, kamu pilih saja gaun pesta yang kamu mau. Nanti aku berikan diskon setengahnya," kata Santi.


"Kenapa tidak sewa gratis sekalian? Kita kan teman ...," rayu Vina.


"Ah, itu namanya kamu mau membuatku bangkrut, Vin!" Santi merengut.

__ADS_1


"Hahaha ... Aku bercanda. Selalu dapat potongan tiap sewa di sini, aku sudah sangat berterima kasih. Aku akan jadi pelanggan setiamu pokonya," ucap Vina.


"Jangan lupa promosikan butikku!"


"Siap!" Vina mengacungkan jempolnya.


"Sudah, sana! Kamu bisa lihat-luhat dulu gaunnya di sebelah sana. Aku mau siapa-siap bertemu klien," kata Santi.


"Oke, San. Semoga bisnismu makin lancar!"


"Amin."


Vina menarik tangan Cheryl agar ikut dengannya. Mereka memasuki ruangan yang dipenuhi koleksi gaun-gaun pesta elegan yang telah tersusun rapi berdasarkan urutan warnanya. Ada pula deretan kostum princess yang bisa digunakan untuk cosplay.


"Bantu aku pilihkan, kira-kira mana yang paling cocok?" tanya Vina yang kebingungan memilih satu dari ratusan gaun koleksi butik milik Santi.


"Kalau kamu ingin tampil mencolok dan menjadi perhatian orang-orang, pilih saja warna merah. Aku rasa sangat cocok untukmu," usul Cheryl.


"Merah, ya? Yang mana kira-kira yang cocok untukku?"


Cheryl lantas memilihkan salah satu gaun dari deretan warna merah yang tersedia. "Coba ini!" katanya.


"Oke, aku akan mencobanya. Kamu sekalian carikan aksesoris rambut yang cocok dengan gaun ini!" pinta Vina.


Vina lantas menerima gaun yang Cheryl pilihkan dan membawanya masuk ke dalam ruang ganti.


Cheryl beralih ke tempat aksesoris. Ada banyak hiasan kepala mulai dari yang berukuran besar hingga yang berukuran kecil dan sederhana. Ia tertarik memilihkan hiasan kepala berupa mutiara yang menurutnya akan cocok dengan Vina.


"Sayang, waktu pernikahan kita sangat mendadak aku rasa. Atau ini karena orang tua kita yang memang sengaja tak membahasnya bersama kita. Aku bahkan tak ada waktu untuk memikirkan tentang gaun pengantin."


"Kamu bisa memilihnya di sini. Apapun yang kamu pakai juga pasti akan terlihat bagus."


Cheryl tak sengaja mendengar percakapan dua orang pria dan wanita di sana. Ia tertegun sejenak karena merasa suara lelaki itu tak asing untuknya. Letak ia mengambil hiasan kepala berada di dekat area koleksi gaun pengantin.


"Tidak mungkin itu Janu, kan?" gumam Cheryl.

__ADS_1


__ADS_2