Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 74: Balas Dendam


__ADS_3

"Apa semua sudah siap?" tanya Janu.


"Sudah, Tuan. Semua telah menunggu Anda," jawab Finn.


Janu segera memasang sarung tangannya. Tak lupa ia mengenakan masker hitam dan topinya. Malam ini ia akan membawa seluruh anak buahnya menyerang markas Kalong Merah.


"Tuan." Finn menyerahkan sebuah pistol kepada Janu.


"Kita berangkat sekarang!" perintah Janu.


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan rumah rahasia menjumpai anak buah yang telah bersiap di halaman. Ada empat mobil jeeb yang akan mengangkut mereka.


Janu dan Finn menaiki mobil paling depan. Iring-iringan mobil mereka melewati jalanan hutan yang sepi.


"Kamu sudah memberi tahu Thor agar menjaga istriku di rumah, kan?" tanya Janu.


"Sudah, Tuan. Saya juga menempatkan dua orang bodyguard wanita untuk menjaga Nyonya Cheryl."


"Baguslah kalau begitu."


Setidaknya Janu bisa sedikit lega meninggalkan Cheryl di rumah bersama Silvia. Kalau sampai wanita itu menyentuh istrinya, ia bersumpah tidak akan melepaskannya. Malam ini ia akan fokus membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah menghabisi keluarganya.


"Apakah mereka akan mengetahui pergerakan kita?"


"Sepertinya tidak, Tuan. Kita sudah cukup membuat mereka sibuk berurusan dengan polisi. Ada banyak anggota mereka yang tertangkap. Barang selundupan mereka juga disita polisi dalam jumlah yang besar. Saya rasa merema sedang dalam kondisi yang memusingkan."


"Jangan biarkan satupun dari mereka selamat. Habisi mereka tanpa sisa dan tak berjejak seperti yang pernah mereka lakukan!" pinta Janu.


"Akan kami laksanakan."


Tiba-tiba mata Janu terlihat sendu. Lelaki itu kembali terngiang momen saat satu per satu anggota keluarganya dibunuh. Darahnya berdesir dam hasrat untuk balas dendam sudah tak tertahankan lagi.


Kalong Merah merupakan tameng yang dimiliki Thea Rudianto. Keduanya punya ikatan yang erat dan tak terpisahkan. Ia ingin memutus ikatan itu lalu perlahan melihat kehancuran otak pembunuhan keluarganya.


"Setelah ini, aku ingin kamu bubarkan kelompok kita, Finn. Berikan seluruh anggota kita modal agar bisa menjalani hidup dengan normal. Apapun yang akan terjadi malam ini, aku ucapkan terima kasih kepadamu dan orang-orang yang masih berada di pihakku sampai akhir," kata Janu.

__ADS_1


"Apa yang Anda bicarakan? Anda sudah banyak berkorban untuk kami dan tiba gilirannya kami yang membalas kebaikan Anda."


Finn tidak suka ketika bosnya berbicara seolah malam itu akan menjadi malam terakhir mereka. Ia sangat menghormati Janu karena hutang budi terhadap bosnya itu sangatlah besar, bahkan tak terbayarkan dengan nyawa.


Janu mengulaskan senyum. "Hidup seperti ini tidaklah menyenangkan. Bukankah kamu dan yang lain juga bermimpi untuk hidup normal seperti orang lain? Menikah, punya anak, dan hidup bahagia."


Janu membayangkan kehidupannya yang tenang dengan Cheryl. Ia ingin terlepas dari segala permasalahannya yang ada selama ini. Cukuplah penderitaan selama bertahun-tahun yang dialaminya. Ia ingin membangun keluarga kecil yang bahagia tanpa diusik orang-orang jahat lagi.


"Saya tidak memiliki bayangan ke sana, Tuan. Saya hanya ingin bekerja selamanya untuk Anda," ucap Finn.


"Apa yang kamu katakan, Finn? Kamu juga harus menikah dan punya anak sendiri. Aku bisa menjaga keluargaku sendiri." Janu terkekeh mendengar ucapan anak buahnya.


"Saya tidak ingin menikah, Tuan. Saya sudah tua."


"Hahaha ...." Janu kembali tertawa. "Usiamu baru 40 tahun, itu belum tua sama sekali. Aku yakin banyak wanita yang mau denganmu. Jangan pesimis begitu."


***


"Apa tidak bisa kamu datang besok pagi saja menemuiku? Kamu sangat mengganggu waktu istirahatku!" kesal Thea.


"Kenapa kalian memaksa datang ke tempatku?" Thea duduk di sofa ruang tengah dengan anggunnya. Ia memberi kode pada Yohan agar duduk bersamanya.


"Kamu sudah lupa dengan janjimu? Kenapa sampai banyak anak buahku yang tertangkap? Apa pekerjaanmu akhir-akhir ini?" kesal Yohan.


Ia telah memiliki perjanjian untuk saling melindungi satu sama lain. Ia butuh dukungan Thea agar bisnis haramnya berjalan lancar. Thea memiliki relasi sejumlah orang dalam yang mampu menyamarkan bisnis Yohan hingga tak pernah tersentuh.


Akan tetapi, dalam waktu yang berdekatan selama beberapa minggu terakhir, seluruh usaha penyelundupannya gagal. Bukan hanya anak buah Yohan yang tertangkap, tapi juga barang dagangannya yang bernilai milyaran ikut disita. Bisnisnya benar-benar tengah merugi dalam waktu singkat.


"Tentu saja aku sudah mengeluarkan banyak biaya untuk melindungi bisnismu selama ini. Aku juga tidak tahu kenapa anak buahmu tertangkap. Mungkin mereka yang terlalu bodoh sampai tertangkap polisi. Jangan menyalahkanku."


Prang!


Yohan membanting secara kasar vas bunga yang ada di meja sampai pecah berkeping-keping. Tatapan matanya nyalang terarah pada Thea.


"Berani-beraninya kamu membuat keributan di rumahku!" bentak Thea.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak berani? Posisi kita sama, aku bukan anak buahmu, Nyonya!" kilah Yohan. "Kalau bukan dengan bantuan tanganku, Anda tidak akan berada pada pencapaian saat ini!"


Thea mengeratkan giginya. Baru kali ini orang yang dimanfaatkannya membuat ia kesal. Thea agak menyesal tidak langsung menyingkirkan Yohan sebelum membuatnya repot seperti saat ini.


"Lalu, apa maumu?" tanya Thea.


"Ganti kerugian yang aku alami dan bebaskan seluruh anak buahku!"


Permintaan Yohan sangat berat. Barang bukti yang ditemukan polisi jumlahnya besar, tidak mungkin mereka dilepaskan dengan mudahnya.


"Kamu juga tahu sendiri aku tidak akan bisa melakukannya. Tapi, kalau membuat hukuman mereka dipersingkap, mungkin aku masih bisa mengusahakannya. Kita tunggu sampai kasus mereka mereda," kata Thea.


"Hahaha ... Menunggumu merealisasikan janji sepertinya hanya akan membuang-buang waktuku. Kamu pikir aku bodoh? Bahkan sekarang sudah hampir satu tahun dan kamu belum bisa mengalihkan perusahaan Hendry ke tanganku!" protes Yohan.


"Itu salahmu juga yang tidak membunuh putri tunggal mereka. Dan kamu juga telah membuat kebodohan, membiarkan anak-anak Bara hidup dan akhirnya merebut perusahaanku!" Thea ikut murka. Ia mengungkit kegagalan yang dilakukan Yohan.


"Kamu kira aku juga tidak dalam kesulitan? Polisi akan segera mencariku, mencecarku untuk menjelaskan dugaan manipulasi di perusahaan. Jangan pikir kamu saja yang sulit saat ini!"


Yohan tak peduli. "Itu urusanmu. Aku hanya ingin menuntut, penuhi janjimu karena aku sudah melaksanakan tugasku, Nyonya!"


"Kelakuanmu semakin lama semakin membuatku muak. Berani sekali kamu memerintahku? Pergi dari rumahku sekarang!" bentak Thea.


Yohan tidak terima dengan perlakuan Thea. Ia mendekat ke arah wanita itu dan mencekik lehernya. "Kamu berani mengusirku? Hah! Kamu pikir kamu siapa!" Yohan seperti hilang kesadaran. Matanya memancarkan amarah yang mendalam. Ia ingin membunuh wanita di hadapannya.


"Lepaskan tanganmu!" perintah Thea.


"Tidak akan! Lebih baik aku juga membunuhmu, dasar wanita ular!" maki Yohan.


Anak buah Thea turut maju berusaha menjauhkan Yohan dari Nyonya mereka. Namun, anak buah Yohan yang ikut tidak terima juga maju dan berusaha menghalangi mereka.


Di rumah Thea terjadi perkelahian hebat antara anak buah Yohan dan Thea.


Yohan terus berusaha mencekik Thea. Salah seorang anak buah Thea berhasil membantu melepaskan Thea.


Thea berusaha lari menjauh dari Yohan yang tampak ingin melampiaskan kemarahaannya. Sayangnya, Yohan berhasil menangkap kakinya. Tubuh Thea yang tidak seimbang membuatnya ternatuh.

__ADS_1


Leher Thea tepat mengenai pecahan kaca vas bunga yang Yohan banting. Seketika darah segar mengucur dari leher Thea. Semua berhenti berkelahi dan panik melihat keadaan Thea.


__ADS_2