
"Kenapa mereka menargetkan keluargaku? Ada masalah apa dengan ayahku?" tanya Janu.
Trini kembali terdiam. Ia tak ingin berbicara lebih jauh tentang kejadian itu.
"Bi, aku telah memerintahkan anak buahku untuk mengamankan keluargamu. Mereka ada di tempat yang aman. Tentunya Bibi tahu kan, kalau aku masih punya sisi baik? Asalkan Bibi mau bekerjasama denganku, aku janji tidak akan mengganggu mereka. Bahkan aku akan melindungi mereka. Tapi, kalau Bibi sekali lagi menghinaku, jangan salahkan jika aku tega membunuh mereka," ancam Janu.
Trini tetap terdiam dan hampir membuat kesabaran Janu hilang.
"Baiklah, tanpa informasi dari Bibi aku juga tetap bisa mencari tahu sendiri. Tapi, jangan salahkan apa yang nanti akan aku perbuat."
"Tunggu, Den!" cegah Trini saat Janu hendak meninggalkannya.
"Ini ada kaitannya dengan proyek Tuan Bara saat itu di luar kota. Saya tidak terlalu paham, tapi ada kaitannya dengan Keluarga Rudianto."
Janu tertegun. Ia mengepalkan jemarinya menyadari bahwa kematian keluarganya berkaitan dengan orang yang memegang perusahaan ayahnya saat ini.
***
"Kamu dari mana?" tanya Cheryl saat ia menyantap sarapannya.
Janu baru saja kembali bersama Thor. Mereka membawa seorang wanita paruh baya ke rumah itu.
"Aku ada sedikit urusan," kata Janu seraya ikut duduk di ruang makan. "Oh, iya. Aku membawa Bi Trini, dia akan menjadi pelayan baru di rumah ini," ucap Janu.
Trini menundukkan sedikit kepalanya menyapa Cheryl. Hal yang sama juga Cheryl lakukan untuk membalas keramahan wanita itu.
"Bi Trini bisa ikuti Thor. Dia akan menunjukkan tempat tinggal Bibi di belakang," kata Janu.
__ADS_1
Mereka meninggalkan ruang makan. Hanya ada Janu dan Cheryl di ruang makan.
"Apa kondisimu sudah lebih baik?" tanya Janu.
Cheryl mengangguk. "Aku berharap bisa menangkap kedua orang jahat itu. Aku ingin membunuh mereka."
Cheryl memotong-motong steak yang ada di atas piringnya dengan penuh emosi. Ia melampiaskan kemarahannya pada makanannya sendiri.
"Kamu tidak cocok berkata kasar seperti itu, Sayang. Biar aku yang membereskan semuanya."
"Ah, iya. Aku tidak mau lagi bekerja di kantor. Aku mau mengundurkan diri," ucap Cheryl seraya meneguk jus jeruknya.
Janu mengembangkan senyum. "Kenapa, Sayang? Kamu takut bertemu mantan?" sindirnya.
"Tidak. Aku hanya merasa lelah saja bekerja. Aku ingin menenangkan diri."
"Eh? Apa yang kamu lakukan?"
Cheryl terkejut. Janu tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan menggendongnya di pundak.
"Kamu mau ngapain?"
Janu tak menjawab. Ia membawa istrinya itu naik ke lantai atas menapaki satu persatu anak tangga.
"Janu .... Turunkan aku!" teriak Cheryl.
Janu menepuk pantatnya.
__ADS_1
"Ah! Singkirkan tanganmu!"
Bukannya menurut, Janu justru kembali meepuk-nepuk bagian empuk itu. Bahkan sesekali dengan jahilnya ia memberikan rema san kecil.
Bruk!
Cheryl diturunkan di atas ranjang. Ia melihat kembali sisi liar dari tatapan lelaki itu. Lelaki itu menyeringai kepadanya. Tangannya hendak dijulurkan membelai wajahnya namun ia tepis.
"Sayang, kamu tidak memakai cincin pernikahan kita, ya?" Janu memegangi tangan istrinya dan memperhatikan jemari-jemari kecil itu.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak pakai? Apa itu jadi masalah untukmu?" Cheryl memberikan tatapan sinis pada sosok lelaki di hadapannya.
Janu tetap menyunggingkan senyumannya. Bahkan senyuman itu membuatnya seakan seperti psikopat licik.
"Tentu itu jadi masalah buatku. Aku tidak mau kamu didekati atau disentuh lelaki lain. Makanya mulai sekarang kamu bilang saja kalau kamu sudah menikah," ucapnya.
Cheryl tidak habis pikir dengan kemauan lelaki itu. Janu sendiri yang dulu bahkan tidak mau bertemu dengannya. Sekarang lelaki itu malah ingin bersikap posesif padanya.
"Pergi dari kamarku! Aku sedang malas berdebat denganmu!" usir Cheryl.
Cheril tercengang. 'Ini orang kenapa deh? Dia sendiri kan yang dulu minta pisah kamar? Kenapa sekarang jadi nempel-nempel terus begini?' gumamnya.
Tanpa meminta ijin, Janu secara agresif menarik celana milik Cheryl sampai terlepas.
"Jangan gila, ya! Ini sudah pagi, Janu!"
Cheryl berusaha lari dari atas ranjang, namun Janu menghentikannya.
__ADS_1
"Ini lebih menyenangkan dari yang aku kira," ujar Janu.