Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 82: Keputusan


__ADS_3

Pesta pernikahan segera dilangsungkan. Sederet tamu undangan yang berasal dari kalangan pengusaha dan pejabat telah berdatangan memenuhi sebuah area gedung yang disewa untuk melangsungkan pernikahan antara Janu dan Ariana.


Janu berdiri di depan cermin merapikan jasnya. Meskipun hatinya terasa berat untuk menjalani hari ini, ia meneguhkan hati untuk tetap mengikuti rencana yang telah lama disusun.


Pikirannya dipenuhi dengan Cheryl, istrinya. Ia meninggalkan wanita itu bersama Thor di rumah. Ia telah meminta istrinya agar tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berjanji suatu ketika akan kembali seutuhnya untuk Cheryl.


"Sudah, hentikan kegilaanmu sekarang juga!"


Kenzo masuk ke ruang persiapan Janu dengan raut wajah kesal. Ia tidak habis pikir adiknya tetap saja kekeh untuk melangsungkan pernikahan itu.


Janu seperti tak ingin mendengar nasihat dari siapapun. Ia tetap sibuk membenarkan penampilannya yang telah tampan itu.


"Janu!" bentak Kenzo.


"Sudahlah, Kak. Aku bisa mengatasi semuanya. Cheryl juga bisa memahami kondisiku," kilahnya.


"Hah! Kamu pikir apa yang Cheryl katakan itu berasal dari hatinya? Wanita itu paling bisa menyembunyikan perasaannya. Kamu tidak bisa membayangkan kalau istrimu sedang menangis sendirian di dalam kamarnya sekarang? Mana ada wanita yang rela suaminya menikahi wanita lain? Dasar bodoh!"


Janu terdiam. Ia sudah berjanji untuk tidak membuat Cheryl sedih. Namun, ia tak bisa mundur lagi. Ia berharap wanita itu bisa bertahan sedikit lagi sampai ia menyelesaikan semuanya.


"Tuan Janu, acaranya segera dimulai. Anda diminta untuk keluar."


Seorang staf dari wedding organizer melongok dari arah pintu memberikan informasi tersebut. Janu disuruh bersiap-siap.


"Ya, sebentar lagi aku keluar," ucap Janu.


Ia memeriksa dandanannya sekali lagi. Setelah mantap, ia berbalik menuju pintu meninggalkan kakaknya.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Kenzo seraya menahan tangan Janu.


"Kak, biarkan aku memutuskan hal ini sendiri," ucap Janu.


Kenzo menghela napas. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Baca ini! Terserah kamu mau melanjutkan pernikahan atau membatalkannya," katanya. Ia lantas pergi meninggalkan Janu.


Janu membuka kertas yang diberikan oleh kakaknya. Selembar kertas berisi hasil pemeriksaan dokter kandungan tentang kehamilan Cheryl. Di dalamnya tersemat juga hasil USG yang menampilkan gambar janin yang tengah tumbuh dalam rahim istrinya.


Janu tertegun. Cheryl bahkan tak mau memberi tahu kabar kehamilan itu. Ia merasa seperti lelaki bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kondisinistrinya. Ia menghujat dirinya sendiri yang tega meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil demi intuk menikahi wanita lain.


Janu memasukkan lembaran kertas itu ke dalam saku jasnya. Ia membuang bunga yang tersemat di bajunya. Janu berubah pikiran, ia tak ingin menikah. Ia ingin pulang ke rumah dan menemui istrinya sekarang juga.


Dengan langkah memburu, ia meninggalkan ruangan dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan tempat berlangsungnya acara.


"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Finn heran saat melihat atasannya berjalan tergesa-gesa.


Janu tidak menjawab. Finn terpaksa ikut membuntuti di belakang.


"Sudah aku duga kamu kemungkinan akan berubah pikiran," kata Silvia. "Tapi, aku tidak akan membiarkan pernikahan ini batal. Kembalilah ke dalam!" perintahnya.


"Aku tidak mau!" tegas Janu.


Ia memaksa maju namun dihalangi oleh bodyguard Silvia.


Silvia menyeringai. "Mungkin kamu butuh sedikit penyemangat untuk masuk kembali ke dalam tempat acara," katanya.


Ia melakukan panggilan video dengan anak buahnya yang ada di rumah.

__ADS_1


"Arahkan kamera kepada mereka!" perintah Silvia.


Ia memperlihatkan video anak buahnya yang tengah menahan Cheryl. Tanganya diikat pada sisi ranjang. Sementara, Thor dan dua anak buahnya yang lain dalam kondisi babak belur tergeletak di dekat Cheryl.


"Bang sat! Berani kamu menyentuh istriku!" bentak Janu dengan penuh amarah. Ia sangat ingin mencekik wanita itu, namun, para bodyguard menghalangi.


"Kamu sudah berjanji tidak akan menyentuhnya! Aku sudah memenuhi kemauanmu!" gerutu Janu.


"Ya, aku masih memegang janjiku. Dia masih baik-baik saja. Akan kupastikan dia tidak terluka sedikitpun. Dengan syarat ... Kamu selesaikan prosesi pernikahannya. Para tamu sudah menunggumu."


Janu tak bisa berkutik. Silvia telah memegang kelemahannya.


"Kembali ke dalam dan wanita itu akan baik-baik saja. Kalau kamu berani menentangku, aku pastikan dia akan mati."


Ancaman Silvia membuat Janu tak berdaya. Ia menepis tangan-tangan para bodyguard yang menahannya. Terpaksa ia kembali berbalik menuju tempat berlangsungnya acara.


"Tuan ...." Finn masih setia membuntuti dari belakang.


"Cheryl sedang hamil, Finn. Kalau aku tidak melakukan pernikahan ini, aku akan kehilangan dua nyawa sekaligus," kata Janu dengan nada sedikit bergetar.


Finn terkejut. Ia sama sekali tidak tahu jika istri atasannya tengah hamil. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.


"Kembali ke rumah dan pastikan kondisi istriku baik-baik saja," ucapnya.


"Bagaimana dengan Anda?" tanya Finn cemas.


"Ini bukan saatnya mencemaskanku. Pokoknya, selamatkan istriku!" perintahnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Janu dan Finn berpisah untuk melakukan tugas masing-masing. Sepertinya Janu masih harus menahan kesabaran untuk bisa bersatu dengan Cheryl. Ingin rasanya ia membunuh Silvia yang telah menyusahkan hidupnya. Namun, ia selalu mengingat bahwa seburuk apapun, Silvia tetap ibu kandung dari kakaknya.


__ADS_2