
Perasaan Janu bergemuruh selama membuka dokumen-dokumen yang ia temukan di bawah mejanya. Di sana tercatat dengan jelas bahwa banyak kejanggalan yang terjadi saat perusahaan diambil alih oleh Thea Rudianto.
"Tuan, apa mungkin ini bukti yang pernah diceritakan Nyonya Cheryl?" tanya Finn.
Janu mengerutkan dahi. "Maksudmu apa?" ia sendiri tidak paham.
"Nyonya pernah bercerita bahwa temannya yang meninggal saat itu melihat foto mengerikan dari pelaku. Dia juga mengatakan telah menemukan dokumen aneh dari gudang kantor ini."
Janu kembali mengingatnya. Michan memang pernah bekerja di kantornya. Kemungkinan memang benar teman istrinya itu yang telah menaruh kardus itu di sana.
"Saya rasa ini ponsel milik pelaku yang sedang dicari-cari. Makanya Nona Michan mereka bunuh," ujar Finn.
"Lalu, bagaimana dia bisa masuk ke ruanganku?" tanya Janu.
Ruangannya selalu dijaga ketat oleh bodyguard. Bahkan selama ia pergi, ia meminta ruangannya tetap dijaga.
"CCTV ruangan ini mungkin bisa menjelaskannya, Tuan."
Finn segera menghubungi Thor. Ia meminta Thor untuk datang ke kantor dan mengambilkan rekaman ruangan Janu selama beberapa hari sebelum kematian Michan.
Dulu, ia pernah memeriksa CCTV luar di area sekitar gudang dan lantai tempat Michan berada. Namun, kebanyakan CCTV mengalami error saat dicek. Finn sudah tahu kalau ada yang mempermainkan sistem keamanan di perusahaan itu.
"Mereka benar-benar biadab, Finn!"
Janu menutup wajah dengan kedua tangannya. Mereka begitu tega mengabadikan wajah ayah dan ibunya yang telah mereka bantai. Trauma masa lalu yang pernah dialami seakan terulang kembali. Dengan jelas ia menyaksikan keluarganya sendiri dibunuh di depan mata.
__ADS_1
Kondisi Janu terpihat semakin parah. Finn mengambilkan obat yang ada di laci meja. Padahal sudah cukup lama atasannya itu bisa hidup tenang tanpa mengkonsumsi obat. Sepertinya Janu mengalami tekanan yang berat.
***
Cheryl terlihat resah di kamarnya. Sejak tadi ia hanya modar-mandir menantikan kepulangan Janu. Nomor ponsel lelaki itu juga tidak bisa dihubungi. Padahal, hari sudah sangat larut malam. Janu sama sekali tak menghubunginya.
Klak!
Pintu kamar terbuka. Saat Janu masuk, Cheryl langsung memeluknya.
Tangisan Cheryl langsung meledak saat ia merasa menemukan tempat ternyaman untuk berkeluh kesah.
"Janu .... Huhuhu ...." ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
Janu hanya berdiri mematung. Ia baru pulang dari kantor dan langsung dipeluk oleh wanita yang biasanya selalu mengajaknya bertengkar. Padahal, kondisi jiwanya juga tidak cukup stabil. Namun, melihat Cheryl menangis ia merasa perlu menenangkannya.
Janu membawa Cheryl ke atas ranjang. Wanita itu terus bergelayut manja padanya sembari menangis. Ia hanya bisa memberi tepukan lembut untuk menenangkannya.
"Ibu Presdir yang sudah membunuh orang tua kita," ucap Cheryl lirih.
Janu terkejut mendengar penuturan istrinya. "Dari mana kamu tahu?"
"Aku mendengarkannya sendiri."
Cheryl menceritakan bagaimana ia bisa tahu akan hal itu. Dari ketidaksengajaannya menguping dan melihat kedua wanita itu ternyata bersekongkol untuk menghancurkan keluarga mereka.
__ADS_1
"Aku merasa sangat bodoh! Bisa-bisanya aku menjalin hubungan dengan mereka. Mereka sangat jahat. Huhuhu ...."
Cheryl sampai mer emas kemeja Janu. Ia merasa sakit hati setiap kali mengingat percakapan dua wanita itu.
"Tenanglah, aku juga tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Kita akan mengambil kembali apa yang menjadi hak kita berdua."
Cheryl menatap wajah Janu dengan sendu. Ada rasa bersalah pada lelaki itu karena pernah menuduhnya sebagai pembunuh. Bahkan, sebenarnya Janu telah banyak memberikan pertolongan padanya. Namun, ia terlalu ngeyel untuk melakukan sesuatu semaunya sendiri.
Janu mengulaskan senyum. Ia mengusap lembut rambut panjang Cheryl. Jarang sekali mereka bisa aku seperti hari ini.
"Aku sudah menemukan bukti yang Michan sembunyikan waktu itu. Aku akan memastikan pelaku pembunuhan Michan segera mendapatkan hukumannya yang layak," ucapnya.
Cheryl terlihat sedikit lega. Ia mengharapkan juga keadilan bagi temannya yang sudah disakiti orang tanpa sebab.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengusut pembunuh orang tua kita?" tanya Cheryl.
"Percayalah padaku. Meskipun selama ini aku terlihat diam, sebenarnya aku juga terus memikirkan tentang hal itu. Jangan bertindak gegabah dan tetap pura-pura tidak tahu. Mereka tidak boleh curiga padamu. Apa kamu mengerti?" tanya Janu.
Cheryl mengangguk. Ia kembali memeluk tubuh suaminya. Sepertinya ia kini baru menyadari bahwa rempat ternyaman yang ia miliki untuk bisa berbagi keluh kesahh hanya Janu, suaminya.
"Janu, maafkan aku," ucapnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?" Janu tertawa kecil. Tidak biasanya wanita itu mau mengakui kesalahannya.
"Aku pernah menuduhmu sebagai pembunuh," katanya.
__ADS_1
"Aku juga sama. Maafkan aku dulu pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang ayahmu."