
Kendra menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskan perlahan berharap perasaan tidak nyaman yang beberapa hari belakangan ini ia rasakan berkurang setidaknya sedikit saja. Dia bukan menyalahkan Moana, bukan pula ingin bersikap dingin seperti sekarang ini, hanya saja menyaksikan apa yang terjadi kepada Ana, lalu sekarang Ana akan di bawa pergi oleh Jordan membuatnya seperti malas melakukan apapun, atau bahkan berinteraksi kepada Moana selaku istrinya sendiri.
Moana, gadis yang ia nikahi beberapa waktu lalu memang jelas sudah melakukan apa yang bisa dia lakukan, hatinya yang baik benar-benar dirasa tulus oleh Kendra. Mungkin ini terdengar aneh, tapi setelah menikah dengan Moana, Kendra justru sama sekali tidak memikirkan perceraian, jadi ucapan Moana barusan cukup membuatnya terkejut hingga tak tahu harus bagiamana menanggapinya.
" Kak, kalau memang menerima ku sebagai istri begitu sulit untuk mu, aku tidak apa-apa kok kalau di ceraikan. Tapi setidaknya bicara denganku dulu, kalau ada yang salah aku akan coba memperbaikinya, kalau masih saja tidak sesuai dengan keinginan mu aku bisa apa selain menerima keputusan mu. "
Kendra bangkit dari duduknya, dia berjalan menghampiri Moana, meraih dan memegang pundaknya. Tatapannya yang dalam kini terarah kepada Moana yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.
" Tidak ada hubungannya denganmu, berhentilah berpikir yang macam-macam. "
" Lalu kenapa kakak diam saja beberapa hari terakhir ini? "
" Karena setelah apa yang terjadi kepada putriku, sekarang aku harus merelakan putriku yang sedari lahir bersamaku, aku hanya sedang berpikir bagaimana aku akan menjalani hari-hari ku? Bukankah biasanya aku akan sering melihat Ana? Aku benar-benar terllau mencintai dia sampai sekalipun tidak pernah memikirkan kalau suatu hari putriku akan jatuh cinta dan hidup bersama prianya. Aku hanya sedih putriku jauh dariku, tapi aku juga bahagia karena putriku bahagia. Lalu aku harus bagaimana? "
Moana terdiam, sungguh dia menyesal sudah mengatakan omong kosong tadi. Untuk menenangkan Kendra, Moana memeluk Kendra dan mengusap punggungnya dengan lembut. Tidak tahu apakah itu akan berguna atau tidak, intinya dia yang tidak memiliki pengalaman dengan lelaki hanya bisa melakukan apa yang di inginkan oleh hatinya.
" Kak, sekarang kita bisa memikirkan anak lagi kan? Selain nanti anak akan bertambah, cucu juga akan punya kan? Aku tidak mengatakan punya anak lagi untuk menggantikan Ana di rumah ini, tapi punya adik untuk Ana juga bukan salah kan? "
Kendra menekan salivanya, benar-benar aneh sekali karena ucapan Moana benar-benar membuatnya gugup. Anak? Sudah lama sejak dia menikahi Soraya dulu dia tidak terlalu banyak berharap karena Soraya sepertinya tidak menginginkan anak, jujur saja dia juga ingin punya banyak anak, hanya saja dia takut Ana tidak akan setuju karena cintanya akan terbagi secara otomatis kan?
" Kak, Ana memang masih sembilan belas tahun, tapi dia itu sangat dewasa cara berpikirnya, dia pasti tidak akan keberatan kalau kakak punya anak lagi. Kalau tidak percaya nanti kita coba tanya saja saat dia kembali ke rumah. "
__ADS_1
Kendra mengangguk saja, benar-benar tidak mengira kalau Moana yang begitu muda itu malah memikirkan anak untuk dia, padahal Soraya dulu diam-diam menggunakan pencegah kehamilan karena tidak menginginkan anak darinya. Yah, bagaimanapun Moana dan Soraya adalah orang yang berbeda karakter, apalagi cara berpikir meksipun mereka adalah saudari kandung.
***
Rigo mengusap kepala Lisa dengan lembut, wanita itu kini berada di dalam pelukannya karena sudah jam untuk Lisa tidur. Sebenarnya hancur hati pria itu, tapi bisa apa dia kalau Tuhan lah penentu jalan kehidupan? Perlahan dia mencoba sebaik mungkin mengendalikan diri, dia tidak ingin terlihat sedih, dia tidak bisa menunjukan betapa dia sangat kecewa dan ingin mengeluh setiap waktu.
Tapi Lisa sudah kembali padanya, meski tubuhnya sangat kurus, bahkan rambutnya juga lumayan banyak yang rontok, setidaknya dia masih punya sedikit waktu untuk menjaga dan menunjukan betapa dia mencintai Lisa dalam keadaan apapun. Bukan menyumpahi untuk istrinya meninggal, hanya saja bahkan Dokter terbaik yang pernah menangani kasus penyakit seperti yang di derita Lisa sudah mengatakan jika kemungkinan untuk di sembuh sangat kecil, penyakit yang di derita Lisa sudah masuk ke dalam stadium empat akhir. Sebuah mukjizat sebenarnya Lisa bisa bertahan sampai detik ini padahal jelas dia kesakitan setiap detik, setiap hembusan nafas dan denyut nadinya. Mungkin Tuhan begitu sayang sepasang manusia ini hingga masih memberikan kesempatan bagi mereka berdua untuk saling menunjukan cinta satu sama lain setelah drama gila beberapa waktu lalu.
" Sayang..... " Panggil Lisa dengan suara yang begitu pelan.
" Iya? "
" Wanita yang waktu itu, apa kau sudah menemuinya? "
" Belum ada waktu, lain kali akan menemuinya, aku janji. "
Lisa mencengkram kain baju yang di gunakan oleh Rigo. Sakit, saat ini dia benar-benar merasakan sakit tapi tidak ingin mengatakannya kepada Rigo karena dia tahu Rigo justru akan kesakitan juga melihatnya nanti.
" Mari kita temui bersama? " Lisa mencoba mengalihkan pikirannya agar tak terlalu merasai sakit di sekujur tubuhnya.
" Nanti saja ya? Aku janji akan menemuinya, tapi kau dengar apa yang Dokter katakan kan? Sebulan ini kau harus benar-benar berada di dalam pengawasan Dokter, tida boleh sembarangan keluar ruangan karena debu dan polusi bisa mengakibatkan sesak nafas parah untukmu. "
__ADS_1
Lisa mengigit bibir bawahnya, sungguh dia sedih sekali dengan semua yang terjadi ini. Dulu dia memang membenci Tuhan yang sudah memberikan penyakit semacam ini, tapi seiring berjalannya waktu Lisa mulai bisa menerima dengan ikhlas dan rela, bahkan sampai menceritakan tentang wanita yang dengan kata kasarnya sudah di tiduri suami yang ia cintai pun dia sudah tidak merasakan sakit di hatinya.
" Bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan wanita itu, sayang? "
" Aku akan menerima saja hukuman yang mati dia berikan. "
Lisa terdiam sebentar.
" Bagaimana kalau kalian menikah saja? "
" Jangan gila, aku masih punya istri kan?" Ucap Rigo dengan nada pelan.
Tapi aku tida bisa bertahan lebih lama, Rigo. Kalau bukan untuk melihatmu bahagia dengan wanita yang lain, aku pasti sudah meninggal jauh hari.
" Nanti pasti akan menemuinya, sabar ya? "
***
Tiga Minggu kemudian.
Soraya duduk terdiam di atas closed kamar mandinya. Dia memandangi alat penguji kehamilan yang menunjukkan dua garis di sana. Sekarang bagaimana dia akan bereaksi? Dokter padahal sudah mengatakan jika dia akan sulit hamil, tapi bagaimana bisa dia hamil sekarang? Haruskah dia menganggap ini sebuah keajaiban? Ataukah dia seharusnya malu karena hamil tanpa suami?
__ADS_1
Bersambung.