
Dua Minggu berlalu, selama dua Minggu itu juga Ana dan Jordan diam-diam bertemu karena Jordan yang masih tidak bisa makan kalau tidak ada Ana di dekatnya. Entah ini akan menjadi kebiasaan sampai kapan, yang jelas baik Jordan dan Ana tidak merasa keberatan dengan apa yang terjadi. Sepertinya ini akan berlangsung sangat lama, karena Jordan bukan hanya tersiksa dengan ganguan makannya saja, melainkan dia juga ketagihan mengusap perut Ana yang bahkan masih rata hingga kini.
Kendra bukannya tidak mengetahui akan hal itu, dia tentu saja tahu banyak hanya saja dia memilih diam saja dulu sembari melihat sampai di mana Jordan bisa menunjukan kelayakannya untuk terus bersama putrinya. Dia bukannya kehilangan kebencian atau kemarahannya terhadap Jordan, dia masih jelas merasakan itu. Tapi jika memang Ana bahagia dengan Jordan mau tidak mau dia juga harus menerima saja karena tidak punya pilihan lain selain membiarkan putrinya bahagia dengan pilihannya.
Hari ini adalah hari Moana akan menikah, Ana yang bangun kesiangan membuat Kendra juga harus datang agak siang karena tidak ingin mengganggu putrinya saat istirahat. Iya, dia tahu benar jam berapa Ana pulang semalam. Alasannya sih pergi dengan sahabatnya, tapi Kendra tahu jika Ana berbohong dan dia pergi bersama Kendra.
" Ayah, maaf ya gara-gara aku kita jadi terlambat datang ke pernikahan kak Moana. Ck! Kita jadi gagal menjadi saksi pernikahan mereka deh. " Ana menghela nafas, menggerutu dengan wajah penuh penyesalan.
" Tidak apa-apa, jangan begitu menyalahkan diri sendiri. Kalaupun kita tidak bisa menjadi saksi pernikahan mereka, tetap saja pernikahan berjalan dengan lancar kan? Pasti juga banyak yang sudah menjadi saksi, jadi tidak masalah karena yang paling penting kan kita tetap datang kesana. "
" Iya. "
Begitu sampai disana Kendra dan Ana mengeryit bingung karena ternyata suasananya ramai tak seperti seharusnya. Kendra dan Ana juga semakin kebingungan karena tempat mempelai seharunya duduk malah masih kosong.
Segera Kendra menggandeng tangan Ana untuk masuk dan mencari keberadaan Moana beserta keluarganya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa pesta pernikahan ini malah terlihat kacau?
Begitu mendapati keluarga Moana berada, ternyata Ibunya Moana dan Soraya tengah tak sadarkan diri. Moana yang terus mengusap kepala Ibunya sembari menangis membuat Kendra berpikir, mungkin saja Ibunya pingsan karena kelelahan jadi Moana menangis karena khawatir kepada Ibunya. Soraya nampak aneh, juga Ayah mereka juga terlihat tak biasa dengan ekspresi seperti syok berat.
" Ayah, ke kenapa semuanya aneh ya? " Tanya Ana, sebenarnya dia paling takut melihat orang tua Soraya dan Moana sakit atau pingsan seperti sekarang ini. Meskipun tidak ada hubungan darah dengannya, nyatanya orang tua Soraya dan Moana sangat baik padanya, mereka memperlakukan Ana seperti cucunya sendiri hingga membuat Ana menyayangi mereka tanpa syarat.
Kendra menoleh menatap Ana sebentar yang nampak takut hingga tangannya terasa gentar. Segera Kendra mengeratkan genggaman tangannya agar sang putri tak merasa sendiri dan takut.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, nak. Kau duduklah saja dulu biar Ayah yang tanya ada apa sebenarnya ya? " Ana mengangguk pasrah, dia mengikuti kemana langkah kaki Kendra membawanya hingga keluar ruangan. Kendra mengambil kursi, memberikan Ana air mineral untuk menghilangkan kagetnya.
" Ana, tunggulah disini ya? Jangan kemanapun dan tunggulah Ayah kembali ya? "
Ana mengangguk, dia terus memandangi punggung Ayahnya yang semakin menjauh dengan harapan bahwa semua pasti akan baik-baik saja, dia berharap tidak terjadi apapun kepada sepasang orang tua yang dia anggap nenek dan kakeknya sendiri.
Sesampainya di sana, Kendra terdiam sebentar menerka sebenarnya apa yang terjadi hingga semua anggota berkumpul di satu ruangan dengan keadaan yang tidak baik. Kendra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mempelai pria yang seharunya berada di sana juga kan? Aneh, rupanya mempelai pria tidak ada di sana. Karena masih tak mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya itu setelah cukup lama dan lelah menerka akhirnya Kendra memutuskan untuk bertanya kepada Moana.
Baru saja Kendra akan membuka mulut, ternyata Ibunya Moana dan Soraya mulai tersadar. Moana dengan segera membantu Ibunya yang ingin bangkit untuk duduk. Dia kembali menangis tersedu-sedu yang semakin membuat Kendra kebingungan sendiri.
" Moana, sebenarnya ada apa ini? "
Moana yang tidak menyadari kedatangan Kendra dengan terkejut dia menoleh menatap Kendra. Saat itu Kendra jadi semakin di buat heran karena melihat riasan pengantin Moana yang sudah sangat berantakan dan luntur di area mata yang membuat Moana aneh dan mirip tokoh hantu.
" Pengantin prianya tidak datang, dia menghamili wanita lain jadi harus menikahi wanita itu. " Jawab Soraya dengan mimik ketusnya.
Sungguh benar-benar sangat mengejutkan hingga Kendra diam membeku untuk beberapa saat, bagi seorang wanita ini adalah sakit paling sakit yang sampai matipun tidak akan pernah bisa di lupakan. Sudah siap segala hal, hari pernikahan tiba, Moana juga sudah berdandan cantik dengan pakaian pengantin, tapi si pria malah tidak datang dan dengan jelas mempermalukan Moana dengan begitu kejam.
" Kau pasti senang melihat keluargaku kacau kan? Kau pasti ingin tertawa terbahak-bahak sembari menyumpahi kami kan? "
Kendra mengeryit menatap Soraya, apakah wajahnya memperlihatkan apa yang dikatakan Soraya? hah! Benar-benar tidak habis pikir dengan Soraya yang masih sempat-sempatnya membuat Kendra ingin bertengkar dengannya melalui tuduhan gila gak masuk akal seperti itu.
__ADS_1
Memilih mengabaikan Soraya, Jordan kini mengambil posisi untuk duduk di sebelah Ibunya Moana, meraih tangannya dan menatapnya penuh perhatian.
" Ibu, bersabarlah, aku akan menyeret pria itu dan segera menikahi Moana. " Ucap Kendra dengan wajah penuh keyakinan.
" Lalu bagaimana dengan wanita yang dia hamil? Bagaimana? Aku ini seorang Ibu, juga seorang wanita. Aku tahu benar itu akan menyakiti wanita itu dan juga Moana nantinya. " Ibu kembali menangis tersedu-sedu.
" Kenapa semua menjadi seperti ini? Apa sebenarnya kesalahan ku sehingga Tuhan menghukum ku seperti ini? Bagaimana selanjutnya? Bagaimana putri ku menghadapi lingkungannya? "
Moana mengusap punggung Ibunya, jujur saja dibanding Ibunya dia bahkan jauh lebih merasakan sakit dan kecewa luar biasa serta rasa malu yang tidak perlu di jelaskan sebesar apa. Tapi melihat Ibunya begitu syok dia benar-benar harus sok tegar agar bisa membuat Ibunya lebih tenang.
" Ibu, aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja, percayalah padaku aku akan tenang, jadi Ibu juga harus tenang ya? " Pinta Moana yang masih tak bisa mengentikan tangisnya.
" Sudahlah Bu, jangan memikirkan ini lagi. Meksipun kedepannya sulit bagi Moana untuk menikah karena ini, aku yakin Moana pasti akan tegar kok. " Ucap Soraya yang sebenarnya hanya ingin Ibunya tidak banyak berpikir.
Moana terdiam dengan tatapan terkejut, begitu juga dengan Kendra.
Kendra menarik nafasnya sembari memejamkan mata.
" Biarkan aku saja yang jadi mempelai prianya. " Ucap Kendra.
Bersambung.
__ADS_1
Halo kesayangan, bagi yang ngeh dimana letak typo boleh di kasih tau ya? Maklum aja, mata othor tetap kecolongan, hehe....