
Jordan terdiam mendengar pembicaraan Ana dan Soraya, dia tahu benar jika dia keluar pasti Soraya tidak akan melepaskannya begitu saja. Tapi jika dia tetap berada di dalam, itu juga akan membuat Soraya semakin penasaran dan akan mencari apapun alasannya agar bisa masuk demi memastikan keberadaannya kan? Jordan membuang nafas kasarnya, dia bangkit untuk menyusul Ana dan mencoba sebisanya agar Soraya pergi, nanti baru dia akan meminta sedikit waktu untuk berbicara dengan Ana.
" Jordan? " Soraya menatap Jordan yang baru saja keluar dari pintu utama. Jujur, dia benar-benar merasa sesak dan kecewa karena melihat Jordan berada di sana. Setelah Soraya keluar dari rumah itu dengan sok naif dia masih meyakini Jordan tengah berada di masa syok, jadi dia tidak begitu marah saat Jordan menolaknya berkali-kali karena dia selalu yakin kalau pada akhirnya Jordan akan kembali padanya. Tapi, ketika melihat Jordan kini sedang berada di samping Ana dan menggenggam tangannya, bagaimana bisa dia tenang dan masih berpikir dengan pemikiran naif nya?
Ana menatap Jordan dengan maksud kenapa dia keluar, tapi setelah Jordan meraih tangannya, dan menggenggam erat, Ana setidaknya paham kalau Jordan sedang ingin menghadapi Soraya agar Soraya berhenti mengharapkan untuk bersama dengannya.
" Jordan, apa yang kau lakukan? " Soraya menatap dengan begitu kecewa, bahkan dia sampai meneteskan air mata. Sebenarnya Jordan cukup goyah saat melihat air mata Soraya, tapi saat menyadari jika tangannya menggenggam tangan Ana, perasaanya itu seperti mudah untuk dia atasi.
" Memang kenapa kalau Jordan sedang bersamaku? Kalau Jordan bersama Ibu, maksudku Bibi Soraya, aku adalah orang yang pantas bertanya, Jordan apa yang kau lakukan. "
Soraya terdiam sebentar, melihat betapa beraninya Ana berkata kepadanya, dia menganggap Ana telah mengancam Jordan dengan orang tuanya atau apapun yang menyudutkannya.
" Kau sengaja melakukan ini kan? Kau sengaja membuat Jordan tidak memiliki pilihan lain, kau pasti menekannya dengan banyak hal kan? " Soraya bertanya dengan suara yang bergetar. Entah dia ingin menangis atau dia begitu kesal hingga bergetar seperti itu.
Ana tersenyum dengan tatapan tak percaya, sementara Jordan mengeraskan rahangnya menahan emosi yang mulai terasa. Kenapa? Padahal Soraya adalah orang yang dekat dengannya selama ini, bagaimana bisa dia merendahkan Jordan dnegan beranggapan bahwa Jordan adalah pria yang mudah di tekan oleh orang lain? Mungkin selama ini dia memang banyak mengalah karena perasaan yang ia miliki sekaligus hutang Budi terhadap Soraya begitu melekat di pikirannya. Dia akui dia hampir tidak pernah menyuarakan pendapatnya asalkan Soraya bahagia dengan pilihannya. Tapi, menganggap Jordan mudah di tekan sama artinya dengan Jordan adalah pria yang lemah dan tidak berpendirian.
" Soraya, aku bukan anak-anak yang tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku ada disini karena ini adalah keputusan ku, aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini bukan? Jika aku begitu mudah di tekan, mungkin saat ini aku sudah kembali ke dalam pelukan mu, Soraya. "
Ana menatap Jordan dengan tatapan terkejut. Selama ini dia sendiri juga menganggap Jordan adalah pria bodoh yang tidak berpendirian, tapi minat sikap Jordan sekarang ini tuduhannya itu seolah terbantahkan.
" Jordan, aku sudah berkorban banyak, kenapa .alah jadi seperti ini? Kenapa tiba-tiba hatimu berubah? "
__ADS_1
Ana mengeratkan genggaman tangannya. Untuk ucapan Soraya barusan jelas yang di maksud adalah Ayahnya kan? Meksi masih ada juga orang tua Soraya, tapi rasanya benar-benar kesal setiap kali membahas ini.
Jordan menatap Ana yang terlihat menahan kesal, dia membuatkan saja Ana menekan genggaman tangan mereka sekuat yang Ana bisa. Tapi, Jordan justru tidak suka melihat Ana terlihat seperti sekarang ini.
" Aku, sudah pernah mengatakan padamu untuk kita akhiri saja dan fokus dengan kehidupan kita. Soraya kau tahu kan aku tidak bisa kasar padamu karena bagaimana pun aku berhutang banyak padamu, tapi aku sungguh ingin hidup bersama wanita yang sudah menjadi istriku ini. "
" Hutang apa? " Ana bertanya sembari menatap Jordan. Nada suaranya pelan, sehingga Soraya tidak bisa mendengarkan ucapan Ana barusan.
" Akan aku ceritakan nanti, boleh kan? "
Ana mengangguk setuju.
" Maaf, Bibi Soraya. Aku sedang ingin bersama suamiku, kami masuk ke dalam lagi ya? " Ucap Ana seraya menarik tangan Jordan untuk dia ajak masuk ke dalam.
Jordan terdiam sebentar, dia menceritakan dari awal kecelakaan itu terjadi sampai dengan hubungannya dengan Soraya di mulai.
Ana terdiam karena tidak tahu harus bagaimana berkomentar. Sungguh dia tidak tahu kalau Soraya, Ibu tiri yang selama ini dia kagumi sepenuh hati, ternyata adalah seorang wanita yang sangat membuatnya keheranan.
" Ana, aku tahu aku memang melakukan kesalahan, tapi apakah aku benar-benar tidak bisa lepas dari kesalahan itu? Apakah aku harus terikat dengan janji yang aku tidak tahu bagaimana situasi yang sebenarnya? Aku juga ingin hidup bahagia tanpa membuat orang tuaku bersedih, jadi apakah aku memiliki kesempatan itu? "
Ana yang tadinya masih terlihat bingung kini menatap Jordan yang menatapnya dengan tatapan pilu. Dia benar-benar tidak tahu harus mengartikan apa sikap Jordan selama ini, tapi niat Jordan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik benar-benar terlihat jelas. Ana tidak lupa akan larangan Ayahnya untuk menjauhi Jordan sejauh mungkin, tapi saat ini Jordan terlihat begitu membutuhkannya, jadi dia juga tidak bisa mengabaikan Jordan.
__ADS_1
" Wajar jika ada masanya manusia melakukan kesalahan, bukankah kau sudah berniat untuk menjadi lebih baik? Tentu saja kau pantas, jadi jangan kendur, aku yakin kau pasti bisa. "
Jordan menatap Ana dengan begitu lekat, sungguh tidak di sangka kalau bocah sembilan belas tahun yang ia nikahi memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dari pada dirinya.
" Ana? "
" Ya? "
Sebentar mereka saling menatap, hingga dengan cepat Jordan menyergap bibir Ana. Rindu, dia benar-benar sangat merindukan bibir mungil itu, dia merindukan aroma tubuh itu hingga rasanya tidak ingin melepas ciumannya.
" Jordan! " Ana mengatur nafasnya karena tidak bisa mengimbangi ciuman Jordan yang begitu menggebu-gebu. Saat matanya melihat ke arah jam dinding, dia dengan terburu-buru bangkit dari duduknya.
" Ayahku sebentar lagi pulang, Jordan! Mungkin juga sudah sampai di depan jalan, pulang lah Jordan, jangan sampai Ayah ku melihat mu di sini. "
Jordan nampak sedih, tapi melihat Ana yang ketakutan dia menjadi tidak tega juga.
" Ana, jangan mengabaikan pesan dariku ya? "
" Iya, sekarang pergi saja dulu! "
" Sayang sekali, pria bajingan ini tidak akan bisa lepas dan keluar dari sini begitu saja. " Ucap Kendra yang sudah mengepal kuat menahan kemarahan, entah sejak kapan dia berada di sana.
__ADS_1
Bersambung.