
Ana terdiam begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayahnya. Bercerai? Akankah jika dia bercerai Jordan pada akhirnya akan tetap pergi kepada Soraya? Lalu untuk apa perjuangannya selama ini? Dia melakukan banyak hal, tidak ragu-ragu bertingkah seperti wanita yang tidak memiliki harga diri untuk memuaskan Jordan. Lalu apa ini? Apa gunanya pengorbanannya selama ini jika Ayahnya tetap akan bercerai dengan Ibu tirinya?
Ana menatap Ayahnya yang terlihat begitu marah melihat Soraya terus meraih lengan Jordan karena khawatir dengan keadaan Jordan. Ana bisa melihat rasa sakit itu, Ayahnya cemburu, dia kecewa tapi sadar benar jika wanita yang adalah istrinya sendiri tidak akan mungkin untuk dia miliki.
Berbeda dengan Soraya yang begitu aktif ingin memeluk lengan Jordan dengan tatapan khawatir, Pria itu justru menatap dengan maksud agar Ana tidak menyetujui perceraian, dia juga terus menepis tangan Soraya tak perduli betapa kali Soraya menatapnya dengan tatapan sedih. Mungkin, Soraya berpikir jika satu-satunya orang yang bisa melindunginya hanyalah Jordan, tapi melihat Jordan terus menatap Ana dengan tatapan sedih hingga mengabaikan luka di wajah dan perutnya, hal itu benar-benar membuat dada Soraya berdenyut sakit.
" Ayah mertua, aku memang bersalah, tapi setelah menikah dengan Ana aku tidak melakukannya lagi. " Ucap Jordan, dia sungguh tahu betapa memalukannya kalimat itu, tapi dia juga tidak bisa mengelak dengan kenyataan itu, tapi dia juga tidak rela untuk bercerai dengan Ana karena dia punya beberapa alasan.
Kendra menatap Jordan dengan tatapan tajam dan sinis. Tangannya yang sedari memang sudah mengepal menahan emosi kini semakin kuat di tekannya.
" Jangan pernah memanggilku Ayah mertua! Demi Tuhan, aku sangat membencimu, aku sekarang jadi terus membayangkan betapa menderitanya putriku selama ini hanya dengan melihat wajahmu. Pergilah, pergilah sejauh mungkin dan jangan biarkan aku melihatmu. Karena kalau tidak, aku tidak akan segan-segan melayangkan pukulan sekuat yang aku bisa tidak perduli kau akan mati, sekarat atau apapun. "
Jordan kembali menatap Ana, sungguh dia berharap Ana membujuk Ayahnya agar tidak melanjutkan rencana perceraian itu. Tapi Ana justru tak menatapnya sedari tadi, dia terdiam seribu bahasa dengan mata memerah tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
" Ana, bukankah kita sudah berjanji untuk terus bersama? Kau tahu aku memang bersalah, tapi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri tidak akan mengulangi kesalahan itu. Ana, tolong jangan- "
" Diam! "
Kendra yang tak tahan dengan suara rayuan Jordan untuk Ana pada akhirnya melayangkan kembali sebuah pukulan di wajah Jordan. Jordan masih diam tak membalas meski dia mampu membalas, bahkan merobohkan Kendra juga dia mampu, tapi Ana, wanita itu adalah putrinya Kendra, wanita itu adalah istrinya yang sedang ia coba untuk mempertahankannya.
__ADS_1
" Ayah! "
Ana meraih kepalan tangan Ayahnya yang akan lagi menghantam wajah Jordan.
" Hentikan Ayah, aku mohon. " Ana menitihkan air mata dan ini membuat Kendra sadar jika kemarahannya sangat berlebihan sekarang ini. Segera dia melepaskan satu tangannya yang mencengkram leher Jordan, dia mengendurkan kepalan tangannya, bangkit dan menangkup wajah putrinya.
" Maafkan Ayah, jangan menangis. Ayah salah, Ayah minta maaf. " Kendra membawa tubuh Ana yang terasa dingin dan gemetar itu ke dalam pelukannya. Baginya kesedihan paling menyakitkan adalah melihat air mata putrinya, putri yang selama ini menjadi semangat, motifasi di dalam hidupnya sehingga Kendra si gembel gelandangan yang tidak memiliki orang tua serta keluarga pada akhirnya bisa seperti sekarang.
" Berhentilah mengorbankan dirimu hanya demi Ayah nak, Ayah tersiksa dengan apa yang ka lakukan. Ayah malu dengan diri Ayah sendiri, Ayah membenci diri Aya sendiri karena tanpa sadar telah mendorong mu melakukan apa yang seharusnya tidak mau lakukan. Maaf, nak. Maafkan Ayah, maaf, maaf maaf.... " Kendra bersimpuh memegang kedua kaki Ana sembari terus menangis. Semua orang tentu bisa melihat betapa Kendra mencintai putrinya, dan seorang putri yang berusaha menjaga senyum Ayahnya karena rasa cinta yang begitu dalam.
" Ayah, Ayah jangan begini! " Ana ikut bersimpuh dan memeluk Ayahnya. Sekarang Ana sangat paham kalau apa yang dia lakukan selama ini, pengorbanan yang dia persembahkan demi terus melihat Ayahnya bahagia nyatanya adalah kesalahan. Ayahnya memang merasa sedih, dan marah dengan apa yang terjadi, tapi Ayahnya memiliki dia yang bisa menjadi pelipur lara kan? Kenapa dia melupakan dirinya sendiri yang selalu mampu membuat Ayahnya bahagia? Kenapa dia mengabaikan dunia yang bahkan menyediakan banyak wanita untuk Ayahnya? Kenapa dia tidak berpikir bahwa wanita yang berkhianat seperti Soraya tidak pantas untuk Ayahnya? Bukankah pengorbanan yang ia lakukan malah membuat Ayahnya semakin terluka? Jika saja dia tidak menerima usulan untuk menikahi Jordan, mungkin Ayahnya tidak akan semarah ini, mungkin Ayahnya hanya akan sedih sesaat. Iya, di lah yang membuat semua semakin runyam, di membuat sakit di hati Ayahnya menjadi berlipat ganda.
Jordan, pria itu seperti merasa kehilangan harapan karena ucapan Ana barusan. Matanya tiba-tiba tidak bisa fokus, tak lama pandangannya menjadi kabur dan dia jatuh tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian.
Jordan mengeryit membuka matanya perlahan karena luka akibat pukulan Ayahnya Ana juga mengenai pelipis juga ujung matanya. Dia melihat Ibunya yang terisak sedih sembari mengusap wajahnya, Ayahnya juga ada di sana menatapnya dengan pilu. Jordan menggerakkan bola matanya mencari seseorang yang sangat ingin dia lihat, tapi yang ada hanyalah Soraya di sana. Wanita itu menatap Jordan dengan tatapan khawatir, tapi melihat Jordan telah sadar dia akhirnya bisa tersenyum dengan lega.
" Ana,... Ana di mana Bu? "
__ADS_1
Ibu dan Ayahnya Jordan saling menatap karena bingung harus menjawab apa.
" Aku yang membawamu ke rumah sakit, Jordan. Ana, dia bahkan tidak menoleh sekalipun saat kau pingsan. "
Ibunya Jordan melotot marah ke arah Soraya.
" Tutup mulutmu! Kalau bukan karena kau, Jordan tidak akan menjadi seperti ini! "
Soraya tertunduk tak berani melawan.
" Ibu, aku ingin menemui Ana, aku harus bicara dengan dia. " Jordan dengan tergesa-gesa bangkit dari brankar berniat untuk segera datang kerumah Kendra dan bicara dengan Ana.
" Tidak boleh! Kau harus tetap disini sampai kau benar-benar pulih. Sebentar lagi hasil pemeriksaan lengkap mu akan keluar, kita harus sama-sama melihatnya. Kau biasanya tidak selemah ini Jordan, pasti ada yang salah dengan tubuhmu. " Ucap Ibunya Jordan khawatir.
" Ibu, aku baik-baik saja. Mungkin aku karena syok jadi pingsan. "
" Kau bahkan pernah terluka sangat parah, tapi kau tidak pingsan kan? "
Soraya tersentak mendengarnya. Iya, dia ingat hari itu, hari dimana Jordan terluka parah.
__ADS_1
Bersambung.