Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 61


__ADS_3

Setelah hari itu Jordan benar-benar tak pernah melewatkan hari tanpa mengirim pesan kepada Ana. Pagi, siang malam, bangun tidur dan mau tidur juga tak pernah absen dia lakukan. Ini sudah satu Minggu, dan selama satu Minggu itu Jordan tak bisa makan dengan baik niat sekalipun. Sudah coba memeriksakan kesehatannya, tapi Dokter mengatakan jika dia dalam keadaan sehat, dan mungkin hanya karena stres yang lumayan beberapa hari ini akhirnya mengganggu kerja lambungnya.


Tidak tahu apakah haus mempercayai Dokter atau tidak, karena nyatanya dia sudah meminum obat Dari Dokter beserta vitamin tetap saja tidak mengubah apapun. Saat malam perutnya akan berada kembung, dan ketika bangun tidur dia akan tersiksa karena perutnya seperti di aduk-aduk membuat Jordan merasa mual dan lemas setelahnya.


" Jordan, bagaimana kalau kita pergi keluar negeri saja? Siapa tahu di luar negeri penyakit mu bisa terdeteksi. " Ucap Ibunya Jordan yang tak tega melihat Jordan sangat tersiksa dengan keadaanya beberapa waktu ini.


Jordan menyeka wajahnya dengan handuk kecil untuk menyingkirkan keringat di wajah setelah dia muntah di kamar mandi. Pergi ke luar negeri? Bukankah sama artinya dengan membuang waktu? Dokter jaga dia kunjungi adalah Dokter terbaik di rumah sakit itu, tentu dia yakin apa yang dikatakan Dokter itu sehingga merasa pergi ke luar negeri bukanlah hal yang tepat untuk di setujui.


" Bu, aku hanya mengalami stres saja sehingga kerja lambungku kurang bagus, perlahan-lahan pasti akan membaik, jadi sabar ya? "


Ibunya Irdan mengenal nafas, ini sudah satu Minggu semenjak Jordan tinggal di rumahnya, dia kembali dekat memar baru yang membuat Orang tuanya begitu khawatir. Sudah bisa menduga kalau orang yang memukul Jordan adalah Kendra, kesal sih dan tidak terima, tapi karena posisi Jordan bersalah dia juga tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan yang terbaik untuk Jordan, Ana, juga Kendra.


" Jordan, bila mempertahankan hubungan pernikahan dengan Ana memang sangat sulit, Ibu tidak keberatan kalau- "


" Ibu, tolong jangan katakan lagi. Aku tidak tahu kenapa aku begitu ingin bertahan, asalnya aku pikir karena aku tidak ingin melihat Ayah dan Ibu kecewa, tapi semakin hari aku baru menyadari jika yang aku takutkan adalah kehilangan Ana, aku tidak siap hanya dengan membayangkan perpisahan kami. "


Ibunya Jordan menghela nafas dengan tatapan kelu, dia berjalan mendekati Jordan dan menepuk punggungnya pelan beberapa kali.


" Ana memang bukan wanita yang memiliki rupa cantik, dia tidak bisa memasak juga tidak bisa melakukan banyak hal seperti Soraya, apa kau yakin tidak masalah dengan itu? "

__ADS_1


Jordan terdiam sebentar, benar! Ana memang tida bisa melakukan banyak hal, tapi Ana membuatnya merasa di butuhkan dan bisa saling melengkapi.


" Tidak masalah, jika urusan makan bukannya banyak restauran buka? Jika kami tidak mampu memakan makanan restauran, kami bisa makan warung nasi pinggir jalan, atau juga mie instan. Ana memang tidak bisa melakukan banyak hal, tapi ada aku yang bisa membantunya kan? "


Ibunya Jordan tersenyum, jawaban inilah yang ditunggu-tunggu. Jordan, dia sama persisi seperti Ayahnya saat tahu bahwa dia tidak bisa memasak, bahkan menyapu saja tidak bersih. Dia mirip sekali seperti Ana, gadis muda yang begitu bersemangat, naif dan sedikit bodoh. Tidak masalah, dia juga tidak pernah menuntut putranya untuk menikahi wanita yang sempurna, tapi ketika melihat Ana untuk pertama kali datang kerumahnya dengan berani, apalagi saat dia menceritakan alasannya datang menemuinya, Ibunya Jordan benar-benar yakin bahwa Ana adalah gadis yang baik, dan cocok untuk Jordan.


" Ibu dan Ayah akan mendukung segala keputusan mu, jangan merasa sendiri, mintalah dan katakan saja apa yang kau butuhkan, kami janji akan selalu membantumu dan selalu bersamamu. "


Jordan tersenyum, dia meraih tangan Ibunya dan mencium telapak tangan Ibunya. Di dalam hati dia berkata, bagaimana mungkin dia akan mengecewakan Ibu yang begitu baik seperti ini?


***


Sesampainya di kamar Ana menghela nafas, dia yang sekarang sudah duduk di meja riasnya hanya bisa terdiam karena tak tahu harus bagaimana. Rumah begitu terasa sepi, memang benar ada pembantu dan satpam, tali tetap saja seperti rumah tak berpenghuni karena pembantu dan satpam sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Seperti ritual biasanya saat akan tidur yaitu membersikan wajah, lalu menggunakan beberapa produk untuk merawat kulit wajah. Setelah itu Ana yang kehabisan kapas mencoba untuk mengambilnya di laci meja rias. Merasa itu adalah kapas, Ana segera membawanya keluar, dan dia hanya bisa mengeryit karena yang dia pegang ternyata adalah pembalut.


Ana mengeryit bingung bukan karena salah ambil, tapi dia sedang menghitung hari dimana dia tidak datang bulan. Benar-benar dia lupa kapan dia datang bulan, dan seharusnya awal bulan juga dia juga datang bulan. Ana terdiam kebingungan sendiri karena tidak ingat sama sekali apakah bulan kemarin dia datang bulan atau tidak.


" Tidak mungkin aku hamil kan? " Gumam Ana dengan wajah yang masih terlihat bingung. Tadinya dia ingin masa bodoh saja saat telat datang bulan seperti sebelum menikah, tapi kalau sudah menikah mana mungkin dia masa bodoh begitu saja?

__ADS_1


Ana melihat jam di dinding kamarnya, ini baru pukul tujuh tiga puluh malam, artinya masih sore jadi dia putuskan untuk pergi ke apotik yang paling dekat dengan rumahnya menggunakan salah satu layanan taksi online.


Beberapa saat kemudian, Ana sudah kembali ke kamar dengan beberapa merek penguji kehamilan. Sebenarnya apoteker mengatakan akan lebih bagus lagi di gunakan setelah pagi bangun tidur, tapi Ana yang penasaran dan tidak sabar langsung saja mencobanya. Ana membawa dua merek alat penguji kehamilan sebagai bahan bandingan.


Mengikuti saran pengunaan Ana dengan hati-hati dan teliti mulai menggunakannya. Dia memejamkan mata begitu mencelupkan dua alat uji kehamilan karena tidak tahu harus bagaimana kalau sampai dugaannya benar.


Satu, dua, tiga, perlahan Ana membuka matanya, dia memperhatikan dua alat uji kehamilan itu dengan seksama. Karena takut salah lihat Ana kembali memejamkan mata dan menekannya kuat-kuat barulah dia mulai membuka matanya lagi untuk memastikan.


Deg!


Ana terdiam tak bisa bicara dan bereaksi begitu dua alat penguji kehamilan menunjukkan hasil yang sama.


" Bagaimana ini? " Tanya Ana kepada dirinya sendiri. Dia hamil! Ada dua garis merah yang menjelaskan bahwa ada bayi yang sedang tumbuh di perutnya.


Ana memegang perutnya yang masih rata itu.


" Apa yang harus aku lakukan? "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2