Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 43


__ADS_3

" Aku tidak menyangka jika demi pria itu kau bahkan sampai begitu tidak Sudi mengandung anakku. " Ucap Kendra yang tentu saja tidak bisa tenang begitu melihat pil kontrasepsi yang keluar dari tas Soraya. Wanita itu diam membeku dengan posisinya, dia tak berani menatap kedua bola mata Kendra karena terlalu takut, takut menyaksikan kekecewaan dari wajah Kendra yang di tujukan kepadanya.


" Soraya, apakah aku begitu menjijikan di matamu? "


Soraya semakin mengeratkan cengkraman tangannya. Bukan jijik, tapi dia memang tidak ingin ada anak di antara mereka karena merasa jika anak nantinya akan membuat hubungan mereka berdua semakin dalam, dan sulit baginya untuk bisa lepas dari Kendra. Memang benar kondisi rahim ya kurang sehat ketika usia pernikahan mereka berjalan sekitar satu tahun, setelahnya Soraya rajin berobat dan kontrol hingga di akhir tahun kedua dia dinyatakan sehat dan sudah siap untuk mengandung. Tapi, di bertemu Jordan, dia memiliki ketertarikan yang kuat kepada Jordan hingga memutuskan untuk menunda dulu kehamilan karena tidak mungkin kalau sampai dia hamil dan ayah dari Anak itu bukanlah Kendra sendiri.


" Kau membuatku membencimu, Soraya. Aku benar-benar tidak pernah membenci seseorang seperti ini di dalam hidupku. "


Soraya mengangkat arah kedua bola matanya menatap. Dengan sendu dia melihat kesedihan dan kekecewaan yang di wajah Kendra yang terlihat begitu jelas, dia jadi ingin meraih tangan Kendra, menggenggam erat dan memeluknya sembari meminta maaf, tapi kalau dia melakukan itu di sendiri juga takut kalau Kendra akan menolak keras dirinya, jadi dia menahan semua itu dan menerima saja kebencian sebanyak apapun yang akan diberikan Kendra kepadanya.


" Maaf, Kendra. "


Kalimat itu mungkin terdengar menyebalkan bagi orang yang sedang kesal karena kecewa, tapi sungguh ucapan itu begitu tulus di ucapkan oleh Soraya mewakili penyesalan yang ia rasakan. Tahu, dia bersalah, dia berdosa, maka itu dia menerima saja semua kebencian yang di tumpahkan kepadanya.


Kendra membuang nafas kasarnya, memang percuma mau marah seperti apapun. Semua sudah terjadi, dan perselingkuhan ini jelas bukan karena kesalahannya. Dia hanya perlu waktu untuk tenang, dia hanya perlu berpikir dengan baik sebentar agar tidak membuat kesalahan dalam bertindak. Tapi, dengan siapa Soraya berselingkuh tentu saja masih membuatnya penasaran, jadi Kendra memutuskan untuk menanyakan itu sebagai pertanyaan terakhir kali sebelum dia tidak akan bertanya apapun lagi nanti.

__ADS_1


" Siapa pria itu? "


Soraya menatap kaget, sebentar dia menahan nafas karena begitu terkejut harus menjawab apa. Asalnya dia berpikir akan memberitahu dengan siapa dia berselingkuh kepada Kendra dengan berani dan jujur, tapi setelah pembicaraan yang begitu tegang membuatnya merasa takut, takut kalau Kendra akan lebih marah lagi, melampiaskan dengan cara membabi buta, dia juga takut orang tuanya membencinya. Soraya menelan salivanya ketika tatapan mata Kendra semakin tajam ke arahnya dengan maksud menuntut agar Soraya menjawab pertanyaan itu sejujur-jujurnya.


" Kenapa kau diam? Kau takut aku akan menghampiri pria itu? Kau takut aku akan melukai pria itu? Oh, kau takut aku membunuhnya dan menghancurkan mimpi indah mu? "


Soraya menggigit bibir bawahnya tak berani menjawab. Bagaimana dia bisa mengatakannya sekarang, dia butuh waktu untuk berpikir dan menguatkan hatinya terlebih dulu.


" Maaf, maafkan aku Kendra aku minta maaf karena belum bisa menjawab pertanyaan mu ini. "


" Baiklah, aku ingin lihat seberapa lama kau bisa melindungi pria itu, dan lihatlah betapa beruntungnya aku nanti karena aku yakin Tuhan lah yang akan menunjukan padaku siapa pria bajingan itu. "


Kendra menatap ke arah dimana barang-narang soraya berserakan di atas tempat tidur karena ulahnya tadi, dia melihat ke arah cincin pernikahan yang biasa Soraya gunakan, meraihnya, sebentar menatapnya ketika dua cincin itu berada di telapak tangannya. Kendra membuang nafas kasarnya, lalu berjalan mendekati jendela dan melemparkan jauh kedua cincin itu keluar dari rumahnya.


" Aku akan tidur di kamar ujung, karena aku juga tidak mungkin memmintamu keluar dari rumah di malam hari seperti ini. "

__ADS_1


Kendra keluar dari kamar dengan perasaan kecewa dan campur aduk tak tahu bagaimana menjelaskan nya, Soraya yang tidak tahu harus bagaimana juga hanya bisa diam disana menangis dan memikirkan bagaimana dia akan menghadapi orang tuanya nanti.


Pagi hari.


Kendra yang tidak bisa tidur sama sekali memilih untuk keluar dari rumah pagi-pagi sekali, dia ingin joging sembari menghirup udara pagi berharap pikiran penat yang sedang melandanya sedikit berkurang. Soraya yang menyadari jika Kendra sudah pergi, dengan segera dia ingin menghubungi Jordan lebih dulu. Dengan buru-buru, ditambah pikirannya yang kacau membuat dia tidak konsentrasi memegang ponsel dan membuat ponsel nya terjatuh di lantai.


" Ya ampun! "


Soraya segara meraih kembali ponselnya yang sudah retak di bagian layar karena jatuh dengan posisi tengkurap. Dengan segera dia mencoba untuk membuka layar kunci di ponselnya dengan sudah payah karena layar tidak merespon sentuhan jarinya.


" Ah, akhirnya bisa juga. " Ucap Soraya bersyukur setelah mencoba terus menerus akhirnya bisa di buka juga. Karena tidak ingin terkunci dan begitu sulit membuka layar ponselnya nanti, Soraya memutuskan untuk menonaktifkan kunci layarnya. Dengan beberapa sentuhan dia mencoba untuk menghubungi Jordan beberapa kali. Dia terus mencoba menghubungi karena tidak mungkin mengirim pesan dengan keadaan layar ponselnya yang rusak. Karena belum mendapatkan respon, Soraya memutuskan untuk menunggu sebentar dan pergi mandi terlebih dulu.


Tak lama Kendra yang baru pulang masuk ke dalam kamar, niatnya bukan untuk menemui Soraya, tapi untuk mengambil baju ganti yang akan dia gunakan saat bekerja nanti. Awalnya Kendra hanya tak sengaja melihat ke arah ponsel Soraya, tapi karena layar ponsel itu retak dia jadi penasaran dan meraihnya. Sebentar Kendra membolak-balik Ponsel itu sembari berpikir bagaimana bisa pecah? Lalu karena penasaran dia membatin apakah masih bisa digunakan atau tidak, Kendra menyalakan layar ponselnya.


" Masih bisa rupanya. " Gumam Kendra. Begitu akan meletakkan ponsel itu ke tempat semula, Kendra teringat bahwa selama ini Soraya begitu berhati-hati dengan ponselnya dan terus menguncinya, jadi Kendra penasaran apa saja yang ada di sana. Pertama Kendra membuka ruang percakapan, sungguh dia sangat ingin marah, dan mengancurkan dunia begitu membaca pesan yang dikirimkan Soraya kepada seorang pria yang nomornya di berin nama Love. Tidak menyebutkan nama, karena di pesan itu Soraya terus memanggilnya dengan sebutan sayang. Karena tidak mau terlalu lama di buat marah dan cemburu, Kendra memutuskan untuk melihat galeri Soraya, dan ternyata dari sanalah Kendra semakin dibuat diam membisu dengan debaran jantung dan suhu tubuh memanas merasakan emosi yang luar biasa memuncak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2