Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 80


__ADS_3

Untuk mengisi kekosongan waktu, Ana kini tengah bersama dengan Moana memilih beberapa pakaian baru yang akan dia gunakan ketika perutnya besar nanti. Masalah baju bayi dan keperluan lainnya Jordan tidak mengizinkan Ana membeli sendiri, semua harus melibatkan dia jadi Ana hanya bisa menunggu kandungannya lebih besar nanti, baru pergi bersama Jordan untuk membeli semua yang dia butuhkan untuk bayinya.


Moana sedari tadi sibuk membeli beberapa baju untuk gantinya karena dia memang tidak membawa baju ganti saat ikut pulang bersama Kendra dan Ana setelah pesta pernikahan itu. Sementara Ana lebih memilih untuk duduk menunggu Moana saja karena dia ingat benar pesan Dokter yang tidak memperbolehkannya kelelahan, Jordan juga sudah mengingatkan berkali-kali sedari Ana dan Moana berangkat tadi.


Jordan, pria itu benar-benar tidak bisa tenang rupanya meski sudah Ana balas semua pesan yang ia kirimkan, bahkan beberapa saat lalu juga sudah melakukan panggilan telepon. Saat ini Jordan sedang mengirimkan photonya bersama dengan Ayahnya yang sedang meninjau proyek mereka. Ana juga membalas pesan itu dengan mengirimkan photo kedua kakinya yang tengah memakai sepatu pemberian Jordan beberapa hari kemarin.


" Tampan sekali. " Bisik beberapa wanita sembari menatap seorang pria yang baru saja datang kesana, karena di tempat Ana dan Moana berbelanja juga menyediakan pakaian pria, maka tidak heran juga kalau ada pria yang datang kesana. Tadinya Ana tidak merasa tertarik dengan para wanita yang sedari tadi sibuk mengagumi dengan mengatakan tampan sekali, tapi karena terllau sering mendengar itu Ana menjadi ingin melihat seperti apa pria yang di maksud beberapa wanita itu.


Pria berkebangsaan asing, tubuhnya memang tinggi besar dan kekar, tegap dan terkesan gagah, tapi Ana hanya sebentar melihat lalu kembali menatap ponselnya karena tak begitu tertarik dengan ketampanan pria itu.


Bagiku Jordan itu lebih tampan.


Ana membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang dia ucapkan di dalam hati. Ah, karena ucapannya sendiri dia bahkan jadi merona dan tak bisa menyembunyikannya.


" Permisi, apa ini tas belanjaan anda? "


Ana mengangkat pandangannya, oh, rupanya pria asing tadi sudah berada di dekatnya dan menunjuk barang belanjaan yang terletak di tempat duduk, disampingnya lebih tepatnya.


" Ah, ini milik kakak, eh! Maksudku milik Ibuku. "


" Boleh aku letakan di bawah? Aku ingin duduk sembari menunggu asisten ku datang kemari untuk membawa belanjaan dan membayarnya nanti. "


Ana tersenyum, dia mengangguk dengan cepat dan segera mengambil tas belanjaan itu untuk dia taruh saja di dekat kakinya.


" Terimakasih banyak, Nona. " Ucapnya dengan sopan.

__ADS_1


" Iya, sama-sama. "


Pria itu sebentar menatap Ana dengan senyum yang sedikit terlihat.


" Nona, ada bekas eskrim di sisi bibirmu. " Ucapnya sembari menunjuk bagian yang memang terkenal eskrim. Tentu saja Ana percaya akan hal itu karena beberapa saat sebelum masuk ke toko baju untuk belanja dia memang memakan eskrim coklat kesukaannya bersama dengan Moana.


" Ah, terima kasih. " Ana segera menggerakkan tangannya untuk menyeka, dia sedikit asal-asalan karena memang tidak tahu di mana letak noda eskrim yang tertinggal di wajahnya.


" Maafkan aku tidak sopan, tapi disini yang kotor. " Pria itu mengusap sisi bibir Ana dengan Ibu jarinya membuat Ana terbelalak terkejut.


" Terimakasih. " Ucap Ana sedikit menjauhkan diri karena merasa tidak nyaman dengan jarak yang begitu dekat dengan pria asing itu.


" Tidak masalah, maaf aku tidak sopan, tapi tanganku gatal ingin membersihkannya. " Pria itu tersenyum, dia menatap Ana dengan tatapan yang tulus seolah dia memang tidak memiliki maksud lain apalagi maksud buruk.


" Iya, terimakasih sekali lagi. "


Ana jelas sedikit merasa tidak nyaman karena pria itu tiba-tiba bertanya tentang tempat tinggalnya, dan kalaupun itu wanita lain pasti akan merasa tidak nyaman atau bahkan juga takut kan?


" Ah, tolong jangan salah paham. Sebenarnya aku baru tinggal di wilayah ini. Sebelumnya aku tinggal di luar negeri bersama mantan istriku yang asli orang negara ini. Aku hanya masih kurang hafal jalan, maaf kalau jadi membuat anda kurang nyama. "


Ana memaksakan senyumnya, bagaimanapun pembicaraan itu masihlah tidak membuatnya nyaman dari awal hingga sekarang.


" Perkenalkan, namaku Rodrigo, biasanya aku dipanggil Rigo, kalau boleh tahu siapa nama anda? "


" Ana. "

__ADS_1


Hanya nama tidak masalah kan? Tidak mungkin hanya karena memberitahu nama langsung dalam bahaya kan? Ana menelan salivanya sendiri. Rasanya memang sangat aneh ketika dekat dengan pria itu, seperti ada perasaan tertekan padahal jelas sekali pria itu tak sekalipun menatapnya dengan maksud buruk. Entah ini perasaan Ana saja ayu bagaimana, dan untunglah Moana sudah selsai jadi segera dia mengajak Ana untuk pergi.


" Saya permisi dulu, kak Rigo. " Ucap Ana sopan lalu segera beranjak pergi.


Pria itu tersenyum manis, dia juga merasa bahwa Ana adalah wanita yang cukup berbeda dan menarik. Memang tidak secantik mantan istrinya atau wanita lain yang dia jadikan mainannya, tapi ada sesuatu di dalam diri Ana yang membuatnya terlihat sangat tidak biasa.


" Ana... Namanya sangat sederhana, tapi saat tersenyum tadi dia sangat manis, dia juga terlihat sangat menarik hanya karena mengucapkan sepatah dua patah kata. Apa kita bisa bertemu kembali dan berjodoh, Ana? " Gumamnya sembari menatap Ana yang semakin menjauh bersama seorang wanita yang entah siapa dia tidak terlalu perduli.


" Ana, pria tadi itu siapa? " Tanya Moana yang sebenarnya sedari tadi memperhatikan Ana dan Rigo. Jelas sekali Moana bisa melihat ketertarikan dari tatapan Rigo tadi, tapi semoga saja sih hanya dugaannya saja karena dia benar-benar berharap semua akan membaik, terutama hubungan Jordan dan Kendra agar Ama dan Jordan tidak perlu main kucing-kucingan lagi kedepannya.


" Dia bilang namanya Rigo, kak. Ah, maksudku Ibu kecil. " Ana menepuk mulutnya pelan karena benar-benar tidak biasa harus memanggil Moana dengan sebutan Ibu. Padahal memanggil kakak kepada Moana saja kadang masih suka salah karena sebelumnya memanggil Bibi, hah! Memang jalan kehidupan tidak akan ada yang tahu ya?


Moana menghela nafas laku tersenyum kecil.


" Jangan terlalu dipaksakan, Ana. Bagaimanapun yang terjadi ini sampai aku harus menjadi Ibu tiri baru kan juga bukan hal yang di sengaja. Jadi santai saja ya? Jangan menganggap Ibu jika belum terbiasa, tali kita bisa berteman lebih dekat daris sebelumya kan? "


Ana mengangguk dengan semangat.


" Tapi, janji ya jangan menyakiti Ayahku? "


Moana mengangguk setuju.


" Akan aku baru tahu satu rahasia padamu, tapi simpan untukmu sendiri ya? " Ucap Moana yang langsung di angguki oleh Ana dengan semangat.


Ana ternganga tak percaya menatap Moana begitu Moana selesai membisikan rahasia yang selama ini dia pendam sendirian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2