Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 109


__ADS_3

Pegawai itu mengeryit melihat Moana yang sudah meninggalkannya dan masuk ke dalam ruangan Kendra. Moana tersenyum begitu masuk ke dalam sana, masih sama seperti dulu, ruangannya tetap rapih, bersih dan segera karena ada pewangi ruangan di sana. Moana duduk bersebrangan dengan kursi yang biasa di gunakan oleh Kendra. Cukup lama dan Kendra belum juga kembali, merasa bosan dan tidak ada yang bisa dia lakukan, Moana mengeluarkan ponselnya berniat ingin menonton video di internet. Tapi karena ponselnya kehabisan baterai, Moana jadi agak lancang sehingga membuka laci Kendra berharap menemukan pengecas di sana. Terlalu banyak barang di dalam sana, ada pena, beberapa lembar kertas seperti nota pesanan, sehingga Moana mencari semakin ke bawah sehingga tidak sengaja menemukan photo Kendra bersama Ana dan Soraya yang nampak begitu harmonis membuat Moana tak bisa berkata-kata.


Moana mengembalikan photo itu ke dalam laci dengan perasaan sedih. Wajar saja sebenarnya jika Kendra masih mencintai kakaknya, hubungan pernikahan mereka kan berjalan cukup lama, tapi sayangnya Moana benar-benar tidak bisa menahan kesedihannya. Entah bagaimana menjelaskan betapa sedihnya dia karena baru kali ini hatinya terluka oleh urusan cinta. Rasanya tidak ingin mengakui dan memaklumi kebenaran tentang Kendra yang masih mencintai Soraya, tapi beberapa bukti juga membuatnya semakin yakin.


Beberapa waktu lalu dia tidak sengaja menemukan cincin Soraya dan cincin Kendra di laci kamar tempat dimana Kendra menyimpan semua jam tangannya. Awalnya Moana pikir hanya kebetulan saja dan Kendra lupa jika menaruhnya disana, tapi satu malam Moana tak sengaja memergoki Kendra sedang memandangi sepasang cincin itu cukup lama lalu kembali memasukannya ke dalam laci yang terang saja menjelaskan betapa Kendra tidak ingin menyingkirkan kenangan bersama dengan Soraya.


" Padahal aku pikir aku sudah benar-benar menjadi istri yang baik, aku pikir aku sedikit saja memiliki arti untukmu, ternyata tidak ya? " Moana mengusap wajahnya, tetap dia terus saja menahan matanya agar tidak menangis meksipun sudah memerah seperti tak bisa menahannya lagi.


" Moana? Sudah sampai dari tadi? " Kendra baru saja datang, dengan segera Moana mengusap wajahnya sebelum berbalik menatap Kendra.


" Belum lama kok kak. " Moana mencoba untuk tersenyum senatural mungkin.


" Matamu merah, kenapa? " Tanya Kendra sembari terus menatap Moana.


" Oh, ini tidak apa-apa kok. Tadi aku aku terkena debu saja. "


Kendra tersenyum lalu meletakkan seikat bunga lili di mejanya. Moana terpaku dengan bunga itu, bukan karena mengagumi indahnya bunga lili, hanya saja dia ingat benar bahwa kakaknya nya lah yang sangat menyukai bunga lili, karena aroma bunga lili menurut Soraya begitu menyenangkan.


'' Kak Kendra suka bunga lili? "


Kendra tersenyum lalu mengangguk.


" Aromanya memang menenangkan sekali, kau juga menyukainya kan? "

__ADS_1


Moana mencengkram kain bajunya meski bibirnya tersenyum di paksakan.


Bukan, aku tidak suka bunga lili. Kakak ku yang amat menyukainya, dan kak Kendra rupanya begitu menyukai apa yang kakak ku sukai.


" Ini makan siang untukku? " Tanya Kendra dan segera Moana mengangguk. Sebentar Moana membuang nafasnya, sekarang dia harus melayani suaminya yang akan makan, jadi tidak usah memikirkan perasaan sakit yang tadi. Dengan telaten Moana melayani Kendra, bahkan sampai selesai dan minum juga semua Moana yang layani.


" Mau langsung pulang atau mau kemana dulu? " Tanya Kendra.


Moana sebentar berpikir, tidak mungkin kan dia langsung pulang begitu saja mengingat waktu bersama Kendra untuk keluar kan amat jarang. Apalagi sekarang ini Kendra juga sering pergi di hari Minggu karena ada beberapa customer yang meminta barang di hati Minggu untuk mengirimnya. Bukan untuk menjadi kurir, Kendra berada di lokasi juga untuk bertemu dengan customer langganan karena bagaimanapun dia juga butuh survey lapangan dan mencari tahu bahan apa yang sekarang ini sedang banyak di minati.


" Kak, kita nonton saja yuk? Bioskop ada kan tidak jauh dari sini? "


Sebenarnya Kendra tidak begitu suka menonton film di bioskop, hanya saja dia juga tidak enak kalau menolak ajakan Moana mengingat mereka berdua juga jarang sekali ada waktu untuk pergi berdua meksipun di rumah juga lebih sering berdua saja.


" Iya, tunggu sebentar aku cuci muka ya? " Moana mengangguk. Begitu Kendra pergi dari sana rasanya Moana benar-benar ingin menginjak bunga lili itu sampai rusak hancur tak berbentuk. Niatnya benar-benar sulit sekali untuk dia tahan, jadi Moana mengambil setangkai bunga lili, sebentar menatapnya, meremasnya dengan tangan, menjatuhkannya ke lantai dan menginjaknya dengan perasaan marah serta cemburu.


Moana tersentak, sungguh dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


" Ma maaf kak, aku tidak sengaja menginjaknya. "


Kendra tentu saja bisa melihat kebohongan dari wajah Moana saat dia tak berani menatap kearah Kendra. Memang dia tidak begitu paham sebab Moana menginjak bunga lili yang ia bawa tadi, tapi Kendra benar-benar menyukai bunga lili itu hingga terpaksa menegur Moana.


" Moana, tolong jangan ulangi lagi apa yang kau lakukan hari ini. " Segera setelah mengatakan itu Kendra membungkuk untuk mengambil bunga lili yang bahkan sudah hancur itu. Seperti begitu sayang, Kendra memungut dan memetakan di meja dengan hati-hati membuat Moana selain meyakini apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


" Kita keluar yuk, nanti kalau sudah malam bioskop pasti ramai sekali. "


" Iya. " Ajakan Kendra batuan lumayan membuat Moana merasa lebih baik sehingga dia bisa kembali tersenyum seperti sebelumya.


" Pak Kendra mau keluar ya? " Sapa salah satu pegawai di sana dengan ramahnya.


" Iya, tolong standby dengan telepon di dalam ruangan ku ya? " Ucap Kendra karena telepon itu biasanya akan mengantarkan rejeki untuknya.


" Baik, pak. "


" Nanti jangan lupa juga minta Asih rapihkan contoh-contoh potongan kain di rak ujung ya? "


" Baik, ngomong-ngomong pak Kendra dengan adik ipar pak Kendra lama tidak ya perginya? Maaf saya cerewet, takutnya nanti ada orang yang perlu mendesak jadi saya bisa tahu kapan pak Kendra dan adik ipar bapak kembali. "


" Mungkin sekitar dua jam lebih, kalau ada apa-apa hubungi saja ponsel ku ya? "


" Baik. "


Moana rupanya tak bisa lagi menyembunyikan perasaan kecewanya. Kenapa? Itu karena Kendra sama sekali tak mejelaskan kepada orang yang bertanya kepadanya hingga menyebutkan dirinya adik ipar berkali-kali sedangkan Kendra nampak tak perduli dnegan itu.


Kenapa? Apakah Kendra malu dengan dirinya yang dulu hanyalah seorang adik ipar? Apakah Kendra malu kalau sampai ada orang lain tahu tentang apa yang terjadi pada rumah tangganya? Tapi, apakah sebegitu tidak penting perasaannya?


" Ayo, Moana. "

__ADS_1


" Tidak kak, tidak usah. Aku tiba-tiba ingin pulang saja kerumah. "


Bersambung.


__ADS_2