Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 54


__ADS_3

Jordan duduk di meja makan dengan perasaan hampa. Sungguh sangat tidak biasa setelah sekian lama sarapan bersama dengan Ana dan keluarganya, sekarang terasa begitu sepi hanya tinggal Jordan sendiri. Selembar roti dengan selai kacang, segelas susu murni hangat juga sudah berada di sana menemani sarapannya.


Dengan malas Jordan mengambil roti tawar itu berniat menggigitnya. Jordan mengeryit bingung dengan rasa roti selai kacang yang tidak biasa untuknya. Aneh, seperti ada rasa asam, mungkinkah sudah kadaluarsa? Jordan mengeluarkan roti itu dari mulutnya, meletakkannya di sebuah kembar tisu yang baru ia ambil. Segera di mengecek selai kacang yang baru di belikan Ibunya kemarin sore.


" Tanggal kadaluarsanya juga masih tahun depan, kenapa selai ini rasanya aneh sekali? " Gumam Jordan. Sudahlah, dia benar-benar sangat lapar jadi sebisa mungkin dia mengabaikan rasa selai itu dulu, toh tanggal kadaluarsa dari makanan yang di belikan Ibunya masih jauh. Jordan kembali meraih roti selai kacang di piringnya, menggigitnya kembali dan mengunyah dengan cepat. Kali ini dia benar-benar memaksakan diri untuk menelannya karena enggan juga begitu fokus dengan rasanya.


Selesai menelan makanannya, Jordan merasa perutnya benar-benar aneh. Dia seperti menolak roti selai kacang itu sehingga rasa mual tak bisa ia tahan. Segera Jordan bangkit ke kamar mandi, lalu memuntahkan makanan yang baru sedikit saja masuk ke dalam perutnya. Benar-benar aneh, mungkinkah ini efek dari dipukuli Kendra? Kalau pun pukulan Kendra meninggalkan luka memar hingga saat ini, tapi Jordan yang sudah terbiasa boxing, juga karate jelas tidak mungkin begitu cengeng hanya karena itu.


Beberapa saat kemudian, Jordan keluar dari kamar mandi sembari memegangi perutnya yang benar-benar terasa tidak nyaman meski yakin sudah memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Kembali dia duduk di meja makan, menatap roti selai kacang itu tapi enggan untuk memakannya. Dia meraih segelas susu hangat, meminumnya meski lagi-lagi dia merasa aneh karena bau susu yang ia minum pagi ini lebih amis dari biasanya.


" Gila! Aku ini minum susu atau makan ikan mentah sih? " Gerutu Jordan sembari menjauhkan setengah gelas sisa susu ya.h tertinggal di gelasnya. Dia sudah tidak sanggup untuk menikmati makanan pagi ini, jadi dia ingin melakukan hal lain.


Jordan menghela nafas saat melewati ruang tengah menuju kamarnya. Di sana ada potret Soraya berukuran sangat besar, wajahnya terlihat sangat cantik, senyumnya indah, tubuhnya juga, semua tentang Soraya benar-benar terlihat indah. Tapi, mengapa Jordan ingin menghilangkan photo Soraya di sana?


Jordan kembali mengingat semua yang dikatakan Ibunya, dia tahu bena jika perasaan untuk Soraya memang masih ada, tapi bukan berarti perasaan itu tidak akan sirna pada waktunya. Sudah cukup, selama ini dia sudah menyakiti hati Ibunya tanpa dia sadari, dia ingin menjadi lebih baik dengan asal yang baik, jadi Jordan memutuskan untuk menurunkan photo Soraya dari sana.


Semua photo Soraya sudah di turunkan setelah beberapa saat. Lelah, tapi Jordan merasa ada kelegaan yang tidak bisa ia jelaskan.


Suara bel pintu terdengar, karena Jordan mengira itu adalah Ibunya, maka segera Jordan berjalan menuju pintu untuk membukanya. Maklum saja, password untuk akses pintu sudah dia ganti tepat di hari dia kembali ke apartemen kemarin. Tujuannya hanya karena dia tidak ingin ada satu orang pun bisa masuk tanpa izin darinya.

__ADS_1


Jordan mengeryit begitu pintu apartemennya terbuka. Bukan Ibunya, melainkan wanita yang selama ini menjalin hubungan gelap dengannya, dan dia adalah Soraya.


" Kau mengganti password nya? "


Jordan terdiam, bukan dia terpesona, hanya saja dia merasa heran dengan Soraya yang masih tak berhenti bertindak impulsif.


" Kenapa kau datang kemari? "


Soraya menghela nafas, dia tersenyum seolah selama beberapa hari terakhir tidak ada yang terjadi sama sekali.


" Kenapa aku tidak boleh datang? Lagi pula kita sudah lama tidak berbincang, kapan lagi kita bisa seperti dulu kan? Sekarang kita berdua sudah bebas, jadi untuk apa lagi menunda waktu untuk kita hidup bersama? "


Jordan membeku mendengar apa yang dikatakan Soraya hingga membuat celah bagi Soraya untuk bisa menerobos masuk ke dalam apartemen. Jordan yang terkejut sontak menahan lengan Soraya, sedikit menariknya agar tak semakin masuk ke dalam. Tapi Soraya justru memanfaatkan itu dan menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Jordan.


Jordan menjauhkan tubuh Soraya, sengaja? Tidak! Itu semua reflek Jordan lakukan saat Soraya mengatakan tengah hidup bersama. Entah itu ketidaksengajaan, ataukah sebenarnya hatinya menolak tanpa dia sadari?


" Sayang, semua yang terjadi belakangan memang sangat mengejutkan. Aku tahu kau masih belum bisa mencerna semua ini dengan baik, tai percayalah semua akan baik-baik saja asal kita tetap bersama seperti dulu. " Soraya meraih tangan Jordan, Menggenggamnya dengan erat dan penuh kehangatan. Jujur Jordan seperti ingin menarik tangannya, tapi sebentar dia tahan karena dia ingin memastikan bagaimana perasaannya sekarang, dan apa alasan yang sebenarnya karena hatinya mulai menolak Soraya.


Mendapati Jordan tak menolak, Soraya selain aktif dengan perasaan bahagia. Dia kembali memeluk Jordan, memberikan kecupan di pipi Jordan, melahap dengan semangat bibir Jordan, lalu menjalankan hingga ke lehernya.

__ADS_1


Jordan benar-benar merasa bingung, bingung sekali karena dia sama sekali tidak terpancing dengan apa yang sedang dilakukan Soraya. Wanita itu bahkan sudah menyentuh bagian penting milik ya Meksi masih dibalik kain celana yang ia pakai. Jordan bahkan sampai mengepalkan tangan menahan apa yang sedang di lakukan Soraya karena itu membuatnya ingin mendorong sekuat tenaga tubuh Soraya untuk menjauh darinya.


" Jordan sayangku, pria tercintaku, kau pasti merindukan sentuhan ku kan? " Bisik Soraya dengan suara yang begitu menggoda, dia hakim benar jika Jordan pasti sedang menahan diri karena mengingat orang tuanya, tapi sejujurnya Jordan tengah mengingat Ana.


Ana, sebenarnya kenapa kau selalu muncul di pikiranku?


Begitu suara hati Jordan saat ini, dia benar-benar terus teringat wajah Ana saat berada di bawah kungkungan nya, tersenyum padanya, memeluknya, bahkan juga dengan gaya sok manja dia menggoda Jordan.


" Hentikan! " Jordan tanpa sadar menepis tangan Soraya dan membuat wanita itu mundur beberapa langkah dengan wajah terkejut. Tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya Soraya sudah akan mulai membuka bajunya.


" Jordan, kau ini kenap?! " Protes Soraya dengan tatapan tak suka.


" Kau! Kau yang kenapa?! Apa yang kau lakukan?! "


Soraya mengepalkan tangannya dengan tatapan marah.


" Jordan, kau tidak boleh mengingkari janjimu! "


" Kau yang memaksaku berjanji! "

__ADS_1


" Lalu kenapa?! Kalau tidak ada aku, kau pasti sudah mati waktu itu! "


Bersambung.


__ADS_2