Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 71


__ADS_3

Ana terus menatap wajah Soraya yang kini terlihat seperti bersalah dan menyesal mengatakan kalimat buruk dan menyakitkan yang seharusnya tidak dia katakan. Entah mengapa setiap kali melihat Ana dia akan terus teringat dengan Jordan yang sudah menikah dengan Ana dan mulai berubah tak lagi ingin bersama dengannya. Dia cemburu, dia tidak bisa menerima hal itu, dia tidak ingin kehilangan Jordan hingga setiap kali melihat Ana, dekat dengannya membuat dia ingin sekali menyakiti Ana seolah membalas rasa sakit hati yang ia rasakan atas kehilangan Jordan.


Matanya seperti berkedut melihat air mata berjatuhan dari kedua bola mata indah Ana. Dadanya juga merasa sesak melihat kesedihan dan luka di wajah Ana, bahkan dia juga sedikit gemetar karena menahan diri untuk memeluk Ana dan meminta maaf. Sungguh dia benar-benar kehilangan kontrol setelah tak bisa lagi menggenggam hati Jordan, dia seperti kehilangan kesabaran, dia mudah sekali marah dan bertindak impulsif seperti tak berperasaan.


" Apa sudah selesai? " Ana bertanya dengan tatapan dingin, dia menyeka air matanya dan kembali menatap Soraya. Sejujurnya dia sangat marah, dia juga menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada Ibu kandungnya. Jika saja Tuhan memberitahunya apa yang akan terjadi kepada Ibunya saat melahirkannya, tentu saja Ana akan bersujud memohon belas kasih kepada Tuhan agar tak membiarkannya lahir keduania sehingga Ibunya akan tetap bisa bahagia bersama Ayahnya.


" Ayahku pernah bilang, Ibuku sangat mencintaiku sehingga merasa jika nyawanya tidaklah berarti di bandingkan diriku. Kau tahu kenapa Ayahku juga sangat mencintaiku kan? Mereka rela melakukan apapun, rela melewati kesedihan dan kesengsaraan yang menyakitkan demi aku seorang saja. Mereka melakukan semua itu tidak perduli apa yang akan terjadi kepada mereka, dan juga tidak perduli seberapa akan sakit untuk mereka. Jadi, bagaimana bisa aku menganggap hidupku begitu hina setelah mereka melakukan segalanya untuk hidupku? " Ana semakin menajamkan matanya menunjukan dengan jelas betapa marah dan kecewanya dia atas apa yang di ucapkan Soraya.


" Bibi Soraya, jangan hanya karena kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan lantas kau menyalahkan ku. Kau kehilangan Jordan karena Jordan memanah bukan milik mu dari awal, dia hanya mengikuti segala yang kau inginkan demi membalas Budi karena kau sudah pernah menyelamatkan nyawanya. Lihatlah baik-baik bagiamana dirimu sebelum mengatakan hal seperti tadi padaku, lihat dirimu lebih dalam, betapa melakukannya apa yang kau lakukan hingga orang tuamu tak berani menatap Ayahku dan orang lain dengan percaya diri seperti sebelumnya. Kau, membunuh kebahagiaan mereka, kau membunuh kepercayaan mereka, lihat dan nilai dirinya sendiri. Setelah itu bandingkan dengan ku, kau atau aku yang seorang pembunuh. "


Soraya terdiam karena tak bisa berbicara. Sebenarnya dia memang menyesal atas apa yang diucapkan kepada Ana tadi, tapi kalimat menyakitkan Ana untuknya kembali mengikuti rasa kesalnya meski dia memilih untuk diam.


" Bibi Soraya, aku benar-benar ingin mengatakan ini sedari dulu padamu. " Ana menatap lekat kedua bola mata Soraya yang kini juga menatapnya dengan mimik tak terbaca olehnya.


" Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah menemukan pria sebaik Ayahmu, dan itu adalah hukuman untukmu. Percayalah ucapan ku ini. " Ana berjalan meninggalkan Soraya, lalu menghampiri Moana yang sedang sibuk dengan gaun pernikahannya yang membutuhkan beberapa renovasi karena ada beberapa bagian yang kebesaran.


" Ana, kenapa matamu sembab? " Moana terkejut melihat Ana yang datang dengan wajah seperti itu.


" Tidak apa-apa, hanya kemasukan debu saja. " Ana tersenyum tak ingin memperpanjang masalah dengan Soraya. Bagaimanapun Moana adalah adiknya Soraya, jadi tidak ingin saja kalau nanti mereka bertengkar di saat sudah dekat hari pernikahan.

__ADS_1


Moana membuang nafasnya, tentu saja dia tahu kalau kalau Ana menangis pasti karena Soraya. Benar-benar sangat di luar akal sehat sikap Soraya beberapa waktu terakhir ini, dia yang dulu begitu tenang, sekarang menjadi sangat urakan dan begitu mudah menunjukan emosinya.


" Ana, aku benar-benar minta maaf untuk apa yang dilakukan kakak ku. Kau janji akan bicara dengannya agar dia tidak macam-macam lagi, atau berbicara dengan tidak baik padamu. "


Ana tak menjawab, di memilih diam karena memang dia tidak tau bagaimana menanggapinya.


Setelah selesai dengan urusan gaun, Moana mengajak Ana untuk pergi makan bersama. Baru saja duduk di restauran rupanya Jordan menghubunginya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. Begitu tahu Ana berada di luar rumah, Jordan dengan segera menyusul kesana. Tepat setelah makanan datang Irdan sampai di sana, dan dia bergabung bersama dengan Moana juga Ana.


" Cepat sekali sampainya? " Tanya Ana bingung karena Jordan sudah sampai hanya dalam waktu tiga puluh menit saja, sementara jarak tempat bekerja Jordan biasanya akan butuh hampir satu jam untuk sampai ke sana.


Jordan tersenyum seraya mengambil posisi untuk duduk di samping Ana.


Ana tersenyum, padahal yang ia tahu ia tidak memiliki perasaan suka kepada Jordan, tapi anehnya dia merasa bahagia melihat Jordan datang buru-buru hanya untuk bersamanya.


" Bagaimana lambung mu hari ini? "


" Pagi tadi aku minum susu, sekarang karena ada kau, aku jadi bisa makan nasi. "


Ana kembali tersenyum.

__ADS_1


Moana, gadis itu sebenarnya tidak menyukai Jordan, atau lebih cenderung membenci pria itu dan menyalahkannya atas apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Tapi melihat tatapan hangat dan tulus saat menatap Ana barusan, dia menjadi tak sebenci itu kepada Jordan.


" Eh, Jordan ini kak Moana, dia adiknya Bibi Soraya, kau ingat kan? "


Jordan yang taunya terus menatap Ana kini jadi tersentak dan menatap Moana. Tentu aja dia gugup karena masalah besar yang terjadi kan Karen ulahnya dan juga Soraya, jadi bertemu langsung dengan anggota keluarga Soraya tentu membuatnya malu, menyesal dan bersalah.


" Iya. " Ucap Jordan tak berani menatap Moana.


" Kau terlihat seperti pria baik, tidak disangka akan melakukan kesalahan seperti itu. Jika memang ingin mempertahankan pernikahan bersama Ana, berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kau tidak akan mengulangi kesalahan itu. Jujur aku membencimu, tapi kalau kau bisa membuat Ana bahagia, dan menjadi suami yang baik maka aku akan merasa bahagia dan juga tidak akan terus menganggap mu seperti pria brengsek. "


Jordan kini mulai berani menatap Moana, dia mengangguk dengan yakin karena memang dia sudah bertekad untuk itu.


" Aku janji. "


Ana memegangi dadanya yang berdebar saat melihat keyakinan Jordan untuk memenuhi janjinya.


" Kami akan segera memiliki anak, jadi aku tidak boleh melakukan kesalahan agar anakku tidak membenciku nanti. "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2