Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 55


__ADS_3

Jordan menatap Soraya dengan tatapan tidak percaya. Dia membeku di sana dengan segala pemikiran yang menurutnya tidak masuk akal. Rasanya begitu tida percaya jika Soraya adalah orang yang seperti dia lihat sekarang ini, bukankah tanpa di sadari Soraya dia telah mengakui betapa tidak masuk akal cara berpikirnya.


" Soraya, apakah ini sifat aslimu? "


Soraya terdiam tak mampu bicara, selama ini dia hanya mencoba untuk menunjukan sikap baiknya di depan Jordan. Sungguh kali ini dia kehilangan kontrol karena penolakan Jordan membuat egonya merasa tersakiti. Dia merasa sudah begitu berjasa dalam hidup Jordan, dia merasa dia punya hak penuh atas kehidupan Jordan sampai dia lupa bahwa dia tidak akan mampu mengontrol hati seseorang, bahkan mengontrol hatinya sendiri dia pun tidak mampu.


" Aku benar-benar berterimakasih untuk yang kau lakukan empat tahun lalu, tapi sekarang situasi yang terjadi di antara kita, khusunya denganku sudah tidak bisa seperti dulu. Tolong Soraya, tolong bebaskan aku, biarkan sekali ini saja aku melakukan sesuatu yang aku anggap penting untukku. "


Soraya membulatkan matanya dengan mimik terkejut. Membiarkan Jordan memilih pilihannya sendiri? Lalu untuk apa pengorbanan yang begitu besar ini? Dia sudah meninggalkan Kendra, menyakiti orang tuanya, Moana, Ana, juga dirinya sendiri untuk kembali ke pelukan Jordan. Bagaimana bis Apria yang dulunya merengek agar bisa hidup bersama dengannya mengatakan hal yang begitu berbanding terbalik?


" Jordan, kau jangan gila. " Ucap Soraya masih dengan tatapan tak percaya. Dia ingin meraih tangan Jordan, menatapnya dengan lembut seperti yang sudah pernah ia lakukan dulu saat dia dan Jordan dalam obrolan yang memanas. Tapi sayang sekali, Jordan menjauhkan tangannya, dia mengusap wajahnya dengan kasar, dia menggeleng tak bisa mengerti dengan dirinya sendiri yang bisa begitu berubah seperti ini. Kenapa? Padahal dulu dia sama sekali tidak bisa melihat wajah sedih Soraya, tapi kenapa yang dia pikirkan adalah saat Ana menangis tersedu-sedu?


" Jordan, lihat aku! Lihat aku, Jordan! " Soraya menatap Jordan dengan harapan agar Jordan menatapnya juga. Ini adalah cara terakhir untuk bisa membuat Jordan mengerti bahwa mereka saling mencintai, dan pasangan yang saling mencintai hanya perlu hidup bersama agar tahu betapa indahnya dunia ini di ciptakan oleh Tuhan.


" Tidak, aku tahu kau hanya akan mencoba menggoyahkan ku bukan? " Jordan mengangkat pandangannya dengan mata memerah. Dia dengan tegas menatap kedua bola mata Soraya yang kini terlihat sedikit kecewa Meksi dia masih mencoba menutupinya.


" Aku memang masih belum memahami benar perasaan apa yang aku miliki untuk Ana, tapi aku tetap tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Cukup, sudah cukup semua ini Soraya. Tolong jangan mengatakan tentang janji itu, kau tahu benar kenapa aku bisa mengatakan janji itu kan? Tolong mengertilah bahwa aku benar-benar tidak bisa lagi menuju ke arahmu. "


Soraya menatap Jordan dengan tatapan tak percaya, dia menitihkan air mata karena begitu tida percaya jika pria yang dulu terlihat sangat mencintainya malah terang-terangan ingin mengakhiri hubungan hati di antara mereka berdua di saat perasaannya begitu dalam untuk Jordan.


" Aku ingin mempertahankan pernikahan ku, entah ini perasaan cinta atau bukan, aku yakin jika aku tidak akan mengkhianati Ana, tolong pergilah Soraya, aku tidak bisa lagi menjadi rumah untukmu. "


***


Setelah menemui Dokter, mendengarkan saran darinya, meminum obat serta istirahat yang cukup, orang tua Soraya dan Moana kini sudah membaik. Kendra juga datang berkunjung di siang hari, tepatnya setelah para pegawai toko pusatnya selesai makan siang.


" Kak, maaf beberapa hari ini merepotkan terus ya? " Ucap Moana seraya meletakkan cangkir berisi teh untuk Kendra.

__ADS_1


Kendra tersenyum, sebenarnya dia juga bingung kenapa masih saja baik kepada orang tua dari wanita yang membuatnya begitu patah hati. Tapi setelah di pikir-pikir orang tua Soraya pasti juga sama terlukanya seperti dia hingga kompak jatuh sakit seperti sekarang ini.


" Tidak apa-apa, kau rawat dulu saja Ayah dan Ibu sampai mereka pulih, nanti kalau mau bekerja lagi kau bisa datang ke toko pusat. "


Moana memaksakan senyumnya, sungguh sangat baik pria yang pernah menjadi Kakak iparnya, hingga saat ini dia masih tidak mengerti apa yang kurang darinya hingga kakaknya mengkhianati pria seperti itu.


" Kak, sepertinya aku sudah tidak bisa bekerja lagi. "


Kendra mengeryit bingung.


" Apa kau ingin fokus mengurus Ayah dan Ibu? "


Moana menggeleng kelu.


" Lalu kenapa? Apa bekerja di sana tidak nyaman? "


" Sebenarnya bukan depan aku akan menikah. "


Moana kembali memaksakan senyumnya.


" Sebenarnya pagi sebelum kakak datang dan mengatakan akan bercerai dengan kak Kendra, hari itu aku di lamar oleh salah satu anak sahabatnya Ayah. "


Kendra mengangguk paham. Dulu dia pernah sih mendengar kalau Moana akan di jodohkan dengan salah satu sahabat lama Ayahnya yang berasal dari satu kampung halaman yang sama.


" Baiklah kalau begitu, semoga semuanya berjalan lancar ya? "


Moana mengangguk.

__ADS_1


" Kakak apa bersedia datang ke pernikahan ku nanti? "


Kendra tersenyum, saat pernikahan itu di gelar nanti pasti statusnya adalah sah menjadi mantan kakak iparnya, tapi bukan berati hubungan bak akan menjadi manta juga kan? Selagi masih bisa menjalin hubungan baik tentu saja itu patut di pertahankan.


" Tentu saja, hanya saja aku takut akan ada yang terganggu dengan kedatangan ku nanti. "


Moana tersenyum, tentu saja dia yang di maksud adalah Soraya, kakak kandungannya.


" Tidak apa-apa kok kak, siapa tahu kalian bisa berteman setelah ini kan? "


Kendra menghela nafasnya.


" Mana bisa seperti itu? Sahabat setelah semua yang terjadi ini? Sudah tidak mungkin, hubungan sebagai mantan pasangan suami istri tentu sudah jauh lebih cukup dan lebih baik untuk kami berdua. Iya, meskipun aku membencinya, tapi aku berdoa semoga suatu hari nanti dia mengerti akan kesalahan yah dia lakukan, menyesalinya dan berusaha menjadi lebih baik lagi. "


Moana mengangguk setuju.


Andai saja aku adalah kak Soraya, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan pria seperti Kakak. Mungkin selamanya perasaan ini memang harus di kubur sedalam mungkin, aku juga berdoa agar kak Kendra bahagia.


" Oh iya, aku kembali ke toko dulu ya? "


" Iya kak. "


Kendra dan Moana bangkit dari duduknya bersamaan, lalu berjalan mendekati pintu hingga hampir saja bertabrakan dan membuat Moana reflek mundur beberapa langkah dengan kaki yang kurang seimbang karena tidak siap.


" Ah! " Moana menatap Kendra yang tengah menatapnya. Mereka berada di posisi yang begitu dekat, kulit mereka saling bersentuhan.


" Kau tidak apa-apa? " Tanya Kendra.

__ADS_1


" Ti tidak apa-apa. "


Bersambung.


__ADS_2