
Jordan mengumpulkan semua photo Soraya yang berada di apartemennya. Dia membawanya ke dalam gudang menjadikan satu dengan barang-barang yang tidak ia gunakan lagi. Sebenarnya jika bisa dia ingin membakar semua photo Soraya, tapi dia kan tinggal di apartemen jadi tidak bisa membakar photo Soraya yang begitu banyak itu di sana. Setelah itu Jordan duduk di kursi yang ada di balkon apartemen. Dia mengingat segalanya, hari di mana untuk pertama kali dia bertemu dengan Soraya. Hari dimana dia berada di ujung antara hidup dan matinya.
Empat tahun lalu, Jordan yang kala itu tengah bersedih karena kekasihnya memilih menikahi pria lain dengan alasan perjodohan. Dia yang sedang kalut itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh tak perduli apa yang akan terjadi kepadanya. Hingga sial tak bisa di tolak, demi menghindari mobil lain, Jordan membanting setir dan menabrak pembatas jalan hingga mobilnya ringsek parah. Darah yang keluar dari kepala Jordan juga begitu banyak. Dadanya yang kuat membentur kemudi mobil membuatnya pingsan seketika.
Jordan sempat tersadar setelah sekitar tiga puluh menit pingsan, entah kemana perginya mobil yang dia hindari tadi karena jalanan benar-benar sangat sepi malam itu. Jordan ingin menghubungi seseorang meski menggerakkan bibirnya saja sulit. Matanya benar-benar seperti ingin terpejam, kepalanya sangat sakit, bau amis darah begitu terasa membuatnya tak konsentrasi karena dia sendiri tidak tahu dimana ponselnya berada.
" Tolong....... " Ucap Jordan lirih, jika saja mobilnya tidak ringsek dan bisa dia sedikit bergerak, mungkin Jordan akan berusaha lebih keras lagi untuk membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Tapi sayangnya di tertahan di sana, terhimpit tak bisa bergerak bebas.
Tok Tok
Seorang wanita yang gak lain adalah Soraya, dia mengetuk kaca mobil Jordan, saat dia mengintip barulah dia melihat Jordan yang tak berdaya. Mata Jordan memang masih sedikit terbuka, dia bisa melihat dengan jelas Soraya mencoba memecahkan kaca mobil dengan sebuah batu, begitu kaca mobilnya pecah, barulah Soraya membuka kunci mobilnya, membawa tubuh Jordan perlahan keluar dari mobil dengan hati-hati meski dia merasa begitu tak kuat menopang tubuh Jordan yang terbilang tinggi besar itu.
__ADS_1
Begitu mereka lumayan jauh dari mobil, seperti yang ditakutkan Soraya, mobil itu meledak seperti suara Bom, lalu membakar habis seluruh mobil Jordan.
" Kau tidak apa-apa? " Tanya Soraya yang terengah-engah.
Jordan tak menjawab, dia benar-benar sudah tidak tahan lagi hingga kembali pingsan tak sadarkan diri. Begitu sadar dia sudah berada di rumah sakit, dan saat dia bertanya dimana wanita yang menyelamatkannya, Dokter mengatakan jika wanita, atau Soraya hanya datang mengantarkan Jordan untuk segera mendapatkan perawatan di IGD lalu segera pergi karena saat itu Ibunya Soraya juga sedang tidak baik-baik saja.
Lima bulan setelah Jordan pulih, Jordan mulai mencari tahu tentang siapa yang menolongnya, tentu tujuan awalnya adalah untuk berterimakasih atas pertolongan yang luar biasa hingga membuatnya masih bisa bernafas dengan baik, kakinya juga masih menyentuh bumi dan menikmati sisa hidupnya. Setelah mengetahui siapa penolongnya, Jordan bergegas menghubungi Soraya, mengajaknya bertemu untuk secara langsung mengucapkan terimakasih. Tapi karena saat Soraya mengatakan bagaimana keadaan Ibunya yang sedang kurang baik dan terus menunda untuk bertemu, Jordan hanya bisa terus mengajaknya mengobrol lewat ponsel, hingga lama kelamaan Soraya mulai menceritakan keluh kesahnya terhadap penyakit Ibunya dan mereka semakin dekat meski belum bertemu kembali.
Jordan yang saat itu merasa beruntung telah di tolong oleh wanita yang mulai dia cintai mulai berniat menyerahkan seluruh jiwa raganya demi membalas kebaikan dan menunjukan betapa cintanya Jordan terhadap Soraya. Mulai dari perhatian, cinta dan kasih sayang, materi, kepuasan batin, hingga Jordan lupa dengan jati dirinya sendiri.
Suatu hari, Soraya meminta Jordan untuk berjanji akan mencintainya seumur hidup, tidak perduli bagaimana keadaan Soraya, tidak perduli apapun akan tetap mencintai Soraya, akan mengorbankan semuanya hanya untuk Soraya, Jordan yang bodoh karena di rasuki rasa berterimakasih yang begitu besar dan rasa cinta yang dalam pada akhirnya mengangguk saja dan mengucapkan sumpah setia itu dengan penuh keyakinan dan begitu lantang membuat Soraya tersenyum puas dan bahagia. Tapi, beberapa saat setelah mengatakan itu, Soraya mengakui jika dia sudah memiliki suami. Bak di sambar petir di siang bolong, Jordan saat itu hanya bisa diam membeku karena ternyata dia sudah menjalin hubungan dengan wanita bersuami, bahkan sudah sampai tidur bersama yang artinya dia bergantian wanita dengan suaminya Soraya.
__ADS_1
Tidak bisa mundur, tapi juga ragu-ragu untuk melanjutkan hubungan gila itu, tapi karena tuntutan sumpah, juga rasa cinta yang di dasari rasa terimakasih yang menjurus pada balas Budi membuat Jordan mengikuti saja apa yang dikatakan Soraya. Tiga tahun lamanya hubungan itu terjalin, tiga tahun pula Jordan seperti orang yang tidak punya pendirian, dia mengiyakan semua yang dikatakan Soraya, dia bahkan sampai menjauhi semua teman-temannya sesuai dengan keinginannya. Orang tuanya sendiri bahkan sampai dia jauhi demi Soraya seorang.
" Andai saja aku tidak terburu-buru saat itu, semua pasti tidak akan jadi seperti ini kan? " Jordan menarik rambutnya sendiri karena tidak tahan dengan kesedihan yang ia rasakan. Saat dia akan menurunkan tangannya, Jordan tidak sengaja melihat cincin pernikahan yang melingkar di jarinya. Cincin itu memang Ibunya yang membelikannya, tapi cincin pernikahan bersama Ana itu benar-benar membuatnya sedikit tenang.
Jordan mengingat bagaimana isengnya bocah sembilan belas tahun itu saat akan tidur. Dia akan memeluk Jordan terus menerus dari belakang, mengecup punggungnya, bahkan bukan sekali dua kali tangannya menyentuh bagian penting Jordan. Benar-benar tidak habis pikir dari mana cara menggoda seperti itu, padahal jelas sekali bahwa saat dia melakukan itu dengan Ana, jelas itu adalah untuk pertama kalinya.
Jordan tanpa sadar tersenyum mengingat bagaimana wajah Ana saat tersenyum padanya, memaksa untuk di berikan kesempatan memakaikan dasi tidak perduli jika pada akhirnya dasi yah di pasangkan Ana sangat berantakan hingga membuat Jordan tidak tahan untuk membenahinya, juga mengajarkan bagaimana cara memakaikan dasi.
" Semua hal yang tidak bisa kau lakukan benar-benar membuat ku terus mengingat mu, Ana. " Ucap Jordan dengan tatapan lurus. Segera dia bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari apartemen.
Bersambung.
__ADS_1