
Jordan mengeraskan rahangnya seketika setelah polisi memberitahu bahwa tidak ada bukti yang di dapatkan di tempat kejadian kala itu. Semua benar-benar bersih, bahkan tempat yang terlihat sangat berantakan itu tak meninggalkan sidik jari sama sekali. Bukan begitu memperdulikan Soraya sekarang ini yang dia rasakan adalah ketakutan akan bahaya yang mengancam Ana kalau sampai hubungannya dengan Ana di ketahui oleh pria yang tidak tahu siapa.
Jordan membuang nafas kasarnya, mengusap wajahnya merasa begitu putus asa. Sekarang Ana sedang mengandung anaknya, benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau sampai Ana mendapat masalah karenanya. Tidak ada pilihan lain, sekarang dia harus menemui Kendra, meminta agar dia di biarkan untuk bisa melindungi Ana dan calon anak mereka. Segera dia bangkit dari posisinya, lalu berjalan keluar dari kamar dan cepat dia menuju parkiran. Memang tidak tahu akan mendapat pukulan, makian, atau bahkan di usir sekalipun, nyatanya Ana dan calon anak mereka adalah hal yang paling penting untuk dia lindungi.
Tidak seperti Jordan yang tengah khawatir, pagi ini Ana dan Moana pergi joging santai bersama berkeliling komplek. Mereka dengan santai berjalan sembari bercerita tentang beberapa pengalaman lucu hingga membuat mereka berdua tertawa. Tanpa mereka sadari, dua orang dengan pakaian tertutup sedari tadi telah mengikuti mereka, karena wajar bagi orang di sana untuk berolah raga pagi, maka mereka berdua sama sekali tak menaruh curiga dan fokus dengan obrolan mereka saja.
" Selamat pagi? " Sapa salah satunya membuat Ana dan Moana kompak berhenti untuk menatap mereka.
" Iya? "
" Boleh saya tanya jalan utama menuju jalan raya? "
Moana mengangguk, dia tersenyum dan berbicara dengan ramah.
" Disana! " Tunjuk Moana.
" Iya, setelah dari sana saya harus kemana dulu? "
" Lurus sebentar, nanti ada jalan bercabang lalu pilihlah arak kiri. "
" Maaf, sebenarnya mata kami berdua minus lumayan parah, kaca mata kami tertinggal setelah saat kami istirahat di taman tengah tadi. "
" Ana, aku antar mereka ke depan sana ya? Jangan kemana-mana, jalan juga hati-hati oke? "
__ADS_1
Ana mengangguk seraya menyodorkan Ibu jarinya.
Moana mengantarkan dia orang itu di jalan yang ia maksud, lalu menjelaskan arah jalannya agar dia orang yang memiliki penglihatan kurang bagus itu bisa di pahami jalan yang ia tujukan.
Ana yang juga sedang menunggu Moana kembali masih berada di sana, hingga sebuah mobil menghampirinya.
" Maaf, boleh tanya dimana kediaman Tuan Toni? " Tanyanya dengan nada yang pelan sehingga Ana jadi mengernyit dan sedikit mendekat karena ingin tahu apa yang di katakan oleh orang yang usianya sekitaran paruh baya.
" Apa yang anda tanyakan tadi? "
Pria itu dengan cepat menarik tubuh Ana untuk masuk ke dalam mobil, lalu membekap Ana dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius. Beberapa saat Ana coba meronta, tapi suaranya tak bisa di dengar hingga lama kelamaan dia mulai tak sadarkan diri. Selama proses itu, mobil sudah melesat cukup jauh sehingga begitu Moana kembali ke tempat awal mereka berpisah tadi dia sudah tidak mendapati Ana di sana.
" Kemana Ana pergi ya? Perasaan aku pergi juga cuma sebentar. " Gumam Moana yang merasa kebingungan, dia menoleh ke kanan dan ke kiri guna mencari keberadaan Ana.
***
Lumayan lama berada di sana, hingga Moana kembali ke rumah sendirian membuatnya semakin khawatir.
" Jordan? Ada apa? " tanya ya Moana dengan mimik yang terlihat bingung.
" Aku ingin bertemu dengan Ana, ada hal yang perlu di bicarakan demi kebaikan Ana dan kita semua.
" Oh, jadi apa yang ingin kau bicarakan ? " Tanya Moana.
__ADS_1
" Ngomong-ngomong dimana Ana, biasanya anda berdua akan selalu bersama. "
Moana menghela nafasnya.
" Tadi aku meninggalkannya sebentar, tapi tiba-tiba saja dia pergi. Aku sudah cukup lama menunggunya tapi dia tidak juga kembali. Mungkin saja dia sudah lebih dulu pulang ke rumah. "
Jordan merasa begitu tak nyaman, dia justru meminta satpam rumahnya untuk memastikan apakah benar Ana ada di rumah atau tidak. Tak perlu memastikan apapun karena dia ingat sekali bahwa Ana dan Moana yang pergi beberapa saat lalu belum juga kembali untuk masuk ke dalam. Tentang Ana dia tidak mungkin sala ingat jadi sopir langsung saja mengatakannya.
" Ibu, Nona Ana bum kembali kok. Aku tidak mungkin salah ingat makanya aku memberitahu Ibu ini dengan yakin. "
Jordan membulatkan matanya dengan tatapan terkejut, dengan segera dia meminta untuk Kendra segera bicara dengannya dan meyakinkan benar-benar bahwa Ana baik-baik saja seperti harapannya.
" Pak, biarkan saja Jordan masuk ke dalam. Nanti biar aku yang menjelaskan kepada bapak. " Ucap Moana yang benar-benar bisa melihat ke khawatiran di wajah Jordan. Dia juga mulai khawatir begitu sampai di rumah lalu ternyata Ana masih belum sampai di rumah. Padahal jelas sekali dia cukup lama menunggu Ana datang kembali ke tempat semula mereka berpisah, tapi karena tak kunjung kembali jadi Moana memutuskan untuk kembali ke rumah dan menemukan Ana.
Begitu sampai di dalam, Kendra rupanya baru saja selesai mandi dan sudah menggunakan baju untuk dia bekerja. Awalnya dia merasa kesal melihat kedatangan Jordan, tapi karena raut wajah kekhawatiran di wajah Jordan begitu terlihat nyata, Kendra menahan diri dulu sebentar dan bertanya apa yang terjadi, dan dimana putrinya berada saat ini karena dia tidak melihat adanya Ana diantara mereka.
" Kenapa kau datang kemari? "
Jordan mengeraskan rahangnya, dia menatap Kendra dengan mata yang menjelaskan bahwa dia juga sedang tidak berdaya sekarang ini. Dia memang sempat ragu menceritakan apa yang terjadi, atau masalah yang tengah menjeratnya karena takut kalau ini akan semakin membuat hubungannya dengan Ana semakin menjauh, tapi apakah daya ini semua dia lakukan juga demi Ana seorang.
Dengan nada suara yang sopan dia menceritakan semua yang terjadi berharap Kendra dapat mengerti.
" Sekarang katakan di mana Ana?! "
__ADS_1
Bersambung.
.