
Halo kesayangan? Maaf sekali untuk keterlambatan balasan di kolom komentar ya? Noveltoon membatasi komentar di waktu berdekatan 🥲 pokoknya terimakasih untuk like, terutama komentar yang sudah pasti aku baca, juga gak ketinggalan makasih juga yang sudah kasih vote, dan hadiah!
Jordan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur setelah memuntahkan makan malamnya, benar-benar dia tersiksa dengan keadaan tubuhnya yang seperti ini. Sebenarnya Jordan sempat berpikir untuk mendatangi Ana dan meminta bantuannya agar dia bisa makan seperti waktu itu, dia sungguh ingat saat Ana menyuapkan makanan ke mulutnya, itu benar-benar membuatnya bisa makan dengan nyaman, bahkan rasa makanan yang masuk ke mulutnya juga terasa lebih lezat di banding biasanya.
Niatan itu akhirnya tak berani dia laksanakan karena tahu benar bagaimana resikonya. Kendra saat ini adalah tembok besar yang harus dia lewati, meski rasanya memang sangat sulit, tapi dia juga tidak memiliki niat untuk menyerah apapun resikonya.
" Jordan, pergilah lagi ke Dokter. Coba periksakan diri ke sahabat mu itu, dia juga Dokter muda yang hebat kan? " Ucap Ayahnya Jordan yang khawatir juga setelah mendengar kabar Jordan hari ini dari istrinya.
Jordan yang terkejut tak menyadari kedatangan Ayahnya hanya bisa terdiam, lalu mengangguk setelahnya.
" Jangan hanya mengangguk, Jordan. Ayah tahu kau hanya tidak ingin Ayah banyak bicara kan? "
Jordan bangkit perlahan dari posisinya, dia duduk di pinggiran tempat tidur menghadap ke Ayahnya.
" Hubungan ku dengan dia tidak baik sudah tiga tahun lebih, Ayah. Kalau aku datang padanya untuk memeriksakan diri, tentu saja dia tidak akan menerima ku kan? "
Ayahnya Jordan menghela nafas, dia berjalan mendekati Jordan dan duduk di sampingnya.
" Kau pasti berseteru karena wanita itu kan? "
Jordan terdiam karena jawabannya adalah iya, dan hal itu membuat Ayah kembali menghela nafas.
" Kau sekarang tahu betapa buruknya pengaruh wanita itu untuk hidupmu kan? Kau bukan hanya hanya menjauhi teman-teman mu, tapi kau juga menjauhi kami sampai memilih tinggal di apartemen, parahnya tidak mengizinkan kami untuk datang melihat mu. Jordan, Ayah dan Ibu tidak menasehati mu karena Ayah dan Ibu yakin pada akhirnya kau akan menyadari kesalahan mu. Apa ka ingat sahabat baikku Teo yang menjadi Dokter? Dia sudah tumbuh bersama denganmu sejak kecil, kalian akan saling mencari jika tidak bertemu satu sama lain. Kalian berdua bahkan sering sekali kompak sakit kan? Kau menjauhi sahabat baik mu hanya karena wanita itu. "
Jordan mentahkan jemarinya untuk saling mengait, dia tertunduk dengan perasaan kelu.
" Ayah bukan ingin mengorek kesalahan mu, hanya saja sekarang kau harus bisa sadar dari belenggu itu. Kau memang berhutang Budi padanya, tapi kau sudah mengorbankan banyak hal selama tiga tahun ini. Jika dia pernah menyelamatkan nyawamu, maka kau seharusnya lebih sadar jika dia juga tidak akan bisa menyelamatkan mu kalau Tuhan tidak mengizinkan. Masalah menolong nyawa, Dokter juga sering menolong dan menunda kematian seseorang kan? Tapi belum tentu pasiennya akan melakukan apa yang kau lakukan. Berhenti menjadi bodoh, kau berlari ke arah yang salah, jadi berhenti dan berlari ke arah yang benar. Ayah bersamamu, Ayah yakin dengan kemampuan mu, jadi percayalah bahwa semua akan baik-baik saja selama kau berada di arus yang benar. "
Jordan tersenyum dan mengangguk menatap Ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Jordan dan Ayahnya sampai ke rumah Teo.
" Paman? " Teo menatap Jordan dengan ekspresi yang tak terbaca.
" Kau juga datang? Ada apa? Ah, silahkan masuk! "
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka berbincang, Teo kini mulai memeriksa keadaan Jordan.
" Sebenarnya kalau sebab Jordan tidak bisa makan aku belum tahu, tapi karena beberapa waktu ini Jordan kurang asupan juga kekurangan cairan cukup parah, kerja lambungnya memang berkurang drastis, tekanan darahnya juga sangat rendah, jadi lebih baik kalau Jordan banyak istirahat di rumah, nanti aku akan ikut paman dan Jordan pulang kerumah, lalu memasang infus untuk Jordan. "
Ayahnya Jordan menatap Jordan dengan tatapan melas. Memang benar wajah Jordan sangat pucat, dia juga terlihat semakin tirus dari beberapa hari sebelumnya.
" Sebenarnya ada beberapa kasus seperti ini yang biasanya berhubungan dengan kehamilan. "
Jordan dan Ayahnya saling menatap dengan dahi mengeryit menandakan bahwa mereka bingung.
" Kehamilan? "
Teo menarik menghela nafasnya.
" Wanita itu, apa dia hamil? " Yang di maksud adalah Soraya karena dia tidak tahu kalau Jordan sudah menikah dan hubungannya dengan Soraya juga tidak sedekat dulu.
" Wanita itu siapa maksudmu? Istriku? " Tanya Jordan agar lebih jelas.
" Hah... Jadi akhirnya kalian menikah juga? "
Teo menatap Jordan dengan tatapan terkejut.
" Jadi, kau dan wanita itu, siapa namanya aku lupa? "
" Aku malas menyebut namanya, tapi bukan dia istriku. "
Teo menghela nafas lega.
" Syukurlah karena bukan wanita itu yang menjadi istrimu, jadi apakah istrimu sedang hamil? "
Jordan terdiam, bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan ini kalau Ana lah yang seharunya bisa menjawab pertanyaan ini.
" Aku tidak tau, dia tidak mengatakan apapun. "
Teo mengeryit karena merasa agak aneh dengan hubungan Jordan dan istrinya. Yah, tapi bisa pa dia? Hubungan mereka tidak dekat dulu beberapa tahun terakhir ini jadi agak canggung juga kalau bertanya banyak hal kepada Jordan.
__ADS_1
" Baiklah, aku tidak berani bertanya lebih. Kita kerumah mu saja untuk pasang infus. "
Setelah kembali ke rumah dan infus juga sudah di pasang, Jordan sama sekali tak bisa tenang karena terus memikirkan ucapan Teo. Mungkinkah Ana memang hamil? Tapi bagaimana kalau tidak dan dia malah terlalu senang untuk hal yang tidak terjadi?
***
Ana menatap ponselnya, dia terus ragu-ragu bagaimana jika dia memberitahu Jordan tentang kehamilannya? Kalau Jordan tidak menginginkan anak darinya bagaimana? Nanti kalau Ayahnya juga tidak menginginkan anak itu lahir bagiamana?
Ana meletakkan kembali ponselnya karena masih merasa bingung. Tapi baru saja dia ingin angkut dari duduknya, suara ponselnya terdengar, dan itu panggilan video dari Jordan. Biasanya juga Ana tidak akan merasa begitu berdebar dan mengabaikan saja panggilan video dari Jordan, tapi kali ini dia memaksakan dirinya untuk menerima panggilan video itu meski tangannya sedikit gemetar.
Hai?
" Ada apa? " Tanya Ana menahan gugup.
Tidak ada yang penting, bagaimana kabarmu? Aku Senna sekali kau menerima panggilan video dariku. Aku bisa melihat wajahmu, aku tahu kau baik-baik saja.
" Iya, bagaimana kabarmu? "
Aku sedang tidak baik, hanya masalah pencernaan saja, aku juga sedikit mengkhawatirkan sesuatu.
Ana menarik nafasnya dalam dan menghembuskan perlahan.
Ada apa? Apa terjadi sesuatu?
" Jordan, aku ingin bertanya satu hal sekarang ini. "
Tentang apa?
" Hubungan pernikahan ini, kau ingin seperti apa? "
Terdiam sebentar.
Tentu saja seperti yang aku katakan padamu, aku tetap ingin bertahan dengan pernikahan ini apapun alasannya.
" Lalu, kalau aku hamil apa kau bisa menerimanya? "
__ADS_1
Bersambung.