
Rigo menatap Soraya dengan tatapan yang tak bisa bisa diartikan, dia benar-benar merasa begitu takut melihat bagiamana perjuangan Soraya melahirkan secara normal. Ini sudah dua belas jam, tapi pembukaan masih saja belum sempurna. Jelas dia bisa melihat bagiamana dua belas jam ini Soraya kesakitan, keringat dingin juga sudah membuat seluruh tubuhnya basah, wajahnya pucat dan tubuhnya terasa dingin membuat Rigo tak tega. Tubuhnya juga gemetar melihat bagaimana perjuangan Soraya melahirkan anak mereka, sungguh dia tidak menyangka kalau begitu sulit dan menyakitkannya menjadi wanita yang harus melahirkan.
" Soraya, maafkan aku ya? Kalau bukan karena aku, kau tidak akan mengalami ini. " Ucap Rigo yang tak terasa air matanya jatuh. Dulu dia memang pernah melihat bagaimana seseorang sekarat di hadapannya, dan wanita itu adalah Lisa. Tapi melihat Soraya yang kesakitan seperti sekarang ini membuatnya tersadar jika semua berawal karena kesalahan yang ia lakukan. Andai saja jika dia tidak melecehkan Soraya, semua kesakitan ini tidak akan di rasakan oleh Soraya, dan dia juga tidak perlu melihat hal ini kan?
Soraya tidak tahan lagi, rasanya benar-benar sangat sakit, kontraksi di perutnya benar-benar sampai membuat punggungnya panas, kedua kakinya juga seperti tak bisa berdiri dengan benar karena gemetar hebat.
" Sakit..... " Soraya mencengkram lengan Rigo yang terus memegangi tubuhnya seperti petunjuk dari bidan puskesmas. Rigo dengan telaten mengikuti semua yang di arahkan, mulai dari memijat pelan punggung Soraya, mengusapnya, dan tibalah waktu untuk melahirkan yang membuat Soraya memekik kesakitan bahkan dia sampai pingsan tadi. Untunglah pada akhirnya dia bisa melahirkan bayi perempuan cantik, Soraya juga sudah mulai mendapatkan perawatan paska melahirkan.
Rigo, pria itu hanya bisa merasai tubuhnya yang gemetar, tangannya juga gemetar hebat bersamaan dengan tangan Soraya. Iya, tanpa sadar mereka saling menggenggam erat seolah menyalurkan kekuatan untuk satu sama lain.
" Terimakasih, terimakasih sudah lahir dengan selamat. Terimakasih karena menjadikan ku seorang Ibu setelah vonis bahwa aku akan kesulitan memiliki anak. " Ucap Soraya lalu menangis bahagia melihat putrinya yang cantik.
" Terimakasih untuk perjuanganmu, Soraya. Maaf karena membuatmu merasakan sakit seperti ini, maaf karena membuatmu menanggung sakit seseorang diri. " Ucap Rigo kepada Soraya.
Setelah beberapa saat, Rigo kini tengah menggendong putrinya. Untuk pertama kali dia melihat bayi yang lahir bersamaan dengan proses panjangnya, bayi cantik itu benar-benar mirip dengannya seolah menjadi satu bantahan karena dia pernah mengatakan di dalam hati bahwa bisa saja anak yang di kandung Soraya adalah anak orang lain.
Rigo menangis, bukan sedih tapi dia bahagia sekali. Selama ini dia begitu mengharapkan seorang anak, meski bukan dari Lisa yang ia cintai, nyatanya wanita lain justru memberikan apa yang tidak bisa dipenuhi Lisa dulu. Rigo menatap Soraya yang juga terus menatap ke arah Rigo dan bayi perempuannya. Rigo tersenyum dan mendekatkan bayi mereka kepada Soraya, lalu meletakkan di samping Soraya.
" Soraya, dia begitu cantik. Aku benar-benar berterimakasih karena kau sudah melahirkan bayi kita dengan selamat, kau juga selamat aku benar-benar bisa lega. "
Soraya tersenyum, sebenarnya dia hampir saja menyerah saat akan pingsan tadi, dia juga membatin bahwa melahirkan benar-benar membuatnya kesakitan dan sedikit ada rasa menyesal, tapi begitu bayi itu sudah berada di dunia, Soraya benar-benar menyesali apa yang sempat dia pikirkan tadi, dia menyesal luar biasa tapi dia bahagia melihat putrinya sehat dan memiliki wajah begitu cantik meski tak mirip dengannya. Iya, dia adalah Rigo dalam bentuk perempuan. Bayi cantik itu di beri nama Velerie Miguel Eleana, nama itu diberikan oleh Rigo untuk putri cantiknya.
Setelah kelahiran Eleana, Rigo dan Soraya memutuskan untuk tetap tinggal di desa. Sesekali memang mereka akan ke kota untuk mengunjungi orang tua Soraya, lalu keluar negeri untuk mengunjungi orang tua Rigo. Banyak berubah semenjak Eleana lahir, karena dari hari ke hari Rigo dan Soraya semakin kompak dalam mengasuh Eleana, dan yang paling penting adalah, Rigo dan Soraya berperan sebagai orang tua yang baik meski hubungan mereka masih seperti sahabat dekat.
***
Moana tersenyum begitu kembali dari kamar mandi. Dia duduk di tempat tidur begitu juga dengan Kendra yang memang sedang sibuk dengan laptopnya.
" Kak? " Panggil Moana yang tak bisa menyembunyikan sama sekali kebahagiaannya.
__ADS_1
" Iya? " Kendra menatap Moana dengan tatapan bertanya.
" Aku ada hadiah untuk kakak. "
Kendra mengeryit, dia menatap Moana lebih intens dan menebak hadiah apa yang akan diberikan untuknya?
" Ini! " Moana tersenyum lebar sembari menyerahkan sebuah alat penguji kehamilan yang menunjukkan bahwa dia tengah hamil sekarang ini.
Kendra yang terkejut hanya bisa bengong saja sembari menatap alat uji kehamilan dan Moana secara bergantian.
" Ini, milik mu? " Tanya Kendra dengan tatapan bingung. Moana mengangguk bahagia.
" Serius? " Moana mengangguk lagi membuat Kendra segera menjauhkan laptopnya, meraih alat penguji kehamilan itu dan kembali menatap Moana lebih serius.
" Ini serius? "
" Iya kak, aku hamil! "
" Aku akan punya anak lagi? "
" Iya! " Moana memeluk Kendra membuat Kendra tersadar jika memang benar adanya. Dia mengartikan pelukannya bersama Moana dengan perasaan bahagia. Sungguh dia begitu bahagia hingga menangis sembari terus memeluk Moana semakin erat.
Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik, aku berjanji akan memberikan apapun yang kau mau karena kau juga akan memberikan anak kedua untukku. Terimakasih, Moana. Terimakasih banyak karena sudah mematahkan prasangka buruk terhadapmu karena Soraya. Aku akan benar-benar mencintaimu, jadi tetaplah bertahan selama Tuhan belum memisahkan kita.
Lima tahun kemudian.
" Ayo merapat! "
Ana tersenyum lebar, dia nampak cantik menggunakan perlengkapan wisuda. Iya, setelah beberapa waktu melahirkan Exel, Ana kembali melanjutkan pendidikannya dan hari ini dia sudah mendapatkan gelar sarjana. Ana tersenyum, dia menatap Jordan yang juka merangkulnya sembari menggendong Exel dengan sebelah tangannya. Mereka kini tengah berphoto, tak ketinggalan juga Moana dan Kendra, juga bersama putri kedua mereka yang kini berusia tiga tahun hampir empat tahunan. Disana juga ada orang tua Moana, tak ketinggalan juga orang tua Jordan membuat suasana menjadi semakin ramai dan menyenangkan.
__ADS_1
" Selamat ya sayang? " Ucap Jordan tersenyum begitu hangat dan penuh cinta.
" Terimakasih Ayahnya Exel. "
" Ana? "
Ana dan yang lain menatap ke arah sumber suara.
" Selamat ya? " Ucap wanita itu sembari menyerahkan seikat bunga lili untuknya. Dia adalah Soraya, dia datang seperti janjinya kepada Ana yang akan mengucapkan selamat kepada Ana saat dia sarjana nanti, kala itu dia baru saja setahun menikah dengan Kendra, tapi dia benar-benar mengingat janjinya dengan jelas.
Ana menerima bunga itu, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena dia juga mengingat momen dimana Soraya berjanji akan ada di saat dia mendapatkan gelar sarjana, Ana jadi mengingat pula masa-masa indah bersama dengan Soraya dulu.
" Ibu? " Ucap Ana seraya memeluk Soraya.
" Selamat, dan maaf karena aku jadi orang terakhir yang mengucapkan ini. Aku menyayangimu, apa aku masih boleh memenuhi janjiku dan tetap menganggap mu sengaai putriku? " Ucapan Soraya mendapatkan anggukan dari Ana membuat mereka berdua saling menangis sembari saling memeluk erat.
Semua orang menatap mereka dengan haru, Eleana dan Rigo juga berada di sana ikut hanyut dalam perasaan haru.
TAMAT.
Halo kesayangan.....
Terimakasih banyak untuk kalian semua yang setia membaca karya ini dari awal sampai dengan selesai, maaf jika masih kurang memuaskan para kesayangan semua, maaf karena banyak typo yang kadang mengganggu dan gak nyaman untuk di baca.
Sekian cerita dari " Menikahi Selingkuhan Ibu " Di akhiri, semoga tulisan yang jauh dari kata bagus ini bisa sedikit menghibur kalian semua ya.......
Yuk kesayangan, mampir ke karya baruku yuk,
__ADS_1
Ditunggu ya! Jangan lupa mampir 😁😁😁😘😘😘😘😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🎉🎉🎉🎉🎉🎉