
Soraya terduduk di luar ruangan di mana Jordan sedang di rawat. Sungguh dia tidak tahan dengan tema pembicaraan Jordan dan orang tuanya yang tidak jauh dari Ana. Kenapa bisa seperti ini? Pertanyaan itu benar-benar membuat Soraya merasa begitu tak habis pikir, sekaligus juga terasa menyakitkan untuknya. Dia ingat benar ketika Jordan terus mendesaknya untuk segera bercerai, dan setelah itu mereka akan hidup bahagia bersama tanpa perduli apa yang akan orang lain katakan tentang mereka. Rumah untuk mereka tinggali juga sudah mereka persiapkan, semua di desain sesuai dengan seleranya, tapi kenapa hanya dengan hitungan bulan semua sudah berubah di luar ekspektasi nya?
Sekarang di mata Jordan sudah bukan dirinya lagi, bahkan jika di ingat kembali, Jordan mulai berubah semenjak menikahi Ana. Menyesal, sungguh Soraya menyesal karena tidak segera bercerai ketika Jordan terus mendesaknya, dia merasa kalah langkah, dia merasa kalah hanya karena Ana yang bisa di bilang anak baru kemarin sore.
Soraya mengatur nafasnya yang sudah mulai tak teratur karena merasa begitu sedih, sekuat tenaga dia menahan tangis karena tidak mau menangis di sana. Rasanya benar-benar tidak terima dengan apa yang terjadi ini, padahal Ana hanyalah anak manja yang tidak bisa melakukan apapun. Sarapan juga harus menunggu di buatkan, makan siang, dan makan malam juga dia yang mengutusnya. Fisik, tentu saja dia sangatlah jauh di atas Ana. Sikapnya yang sopan dan anggun juga mana bisa di bandingkan dengan sikap Ana yang sangat transparan dan serampangan. Lalu, dimana letak lebihnya Ana dari pada dirinya? Apakah Jordan seperti ini karena beberapa waktu terakhir terus bersama dengan Ana dan membuatnya begitu terbiasa hingga sulit baginya untuk berpisah?
" Jordan, mana bisa aku menyerah setelah kau memberikan harapan begitu besar? Bagaimana aku bisa menerima kenyataan setelah kau memberikan cinta yang begitu membahagiakan? Kau pasti hanya goyah sesaat kan? Kau tidak mungkin mencintai Ana yang tidak bisa di bandingkan dengan ku? Aku tidak akan menyerah, Jordan. Aku janji akan mengembalikan rasa cintamu padaku, dan kau pasti akan berterima kasih padaku. "
Soraya bangkit dari duduknya, dia menghela nafas membuang kekesalan yang menumpuk di dadanya. Sebentar dia menoleh ke arah pintu dimana Jordan di rawat. Dia kembali menatap ke arah depan dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sepertinya memang dia harus pergi dahulu untuk menenangkan diri, dan biarkan juga Jordan tenang sampai pikirannya tenang jadi bisa di ajak bicara dan tidak lagi membicarakan tentang Ana.
" Tunggu! "
Soraya menghentikan langkah kakinya karena bisa mendengar jelas suara Ibunya Jordan menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan, menatap dengan tatapan datar karena dia bisa tahu benar apa yang akan di katakan Ibunya Jordan sekarang ini. Tidak masalah, pada awalnya mungkin dia akan di tolak, tapi dia merasa yakin juga kalau pada akhirnya dia akan di terima dengan senang hati saat Jordan tidak bisa hidup tanpanya seperti dulu lagi.
__ADS_1
Ibunya Jordan melangkah maju mendekati Soraya yang terdiam tak jauh darinya. Dengan tatapan mata sedikit tajam dia menghela nafas.
" Berhentilah berusaha, putraku tidak akan pernah kembali padamu. Aku akan tetap menentang hubungan kalian, jadi pergilah saja, cari pria lain yang bisa kau cintai dan mencintai mu. "
Soraya terdiam, tentu saja dia tahu benar kalau kurang lebih seperti itulah yang akan di katakan oleh Ibunya Jordan. Tapi, dia adalah wanita yang di cintai putranya, saat ini Jordan sedang goyah karena keadaan, nanti kalau Jordan sudah kembali tenang dan menjadi seperti dulu, memang apa yang mau dilakukan Ibunya Jordan ketika putranya tidak mampu hidup tanpa dirinya?
" Kau tahu dari awal aku tidak akan setuju kan? Seharunya kau menyerah lebih awal, jadi semua ini tidak akan pernah terjadi. "
Soraya mengeryit, jujur saja dia begitu keberatan dengan apa yang di katakan Ibunya Irda kali ini hingga merasa yakin kalau dia tidak boleh menahan diri terllau lama untuk diam.
Ibunya Jordan ternganga tak percaya, dia membuang nafas dengan kasar, memicingkan mata sejelas mungkin dia menunjukan bahwa dia tidak setuju dengan apa yang di katakan Soraya.
" Kau ini bodoh atau apa? Memang kau pikir pria kan begitu tulus hanya karena cinta sesaat yang menggebu-gebu? Aku mengenal putraku dengan sangat baik, jadi aku yakin putraku tidak akan mengucapkan janji dengan sembarang orang. Terkecuali ada sesuatu yang membuatnya mau tak mau menjanjikan hal yang aneh itu. "
__ADS_1
Soraya mengepalkan tangannya, dia tak berani menatap kedua bola mata Ibunya Jordan. Sungguh dia tidak bisa lebih berkilah ketika menghadapi Ibunya Jordan. Tatapan mata wanita paruh baya itu benar-benar membuatnya tertekan dan sesak. Barisan kalimat yang keluar dari bibirnya juga seperti ana panah yang melesat masuk menghujam dadanya meninggalkan rasa perih yang luar biasa.
" Kau pikir aku bodoh ya? Aku tentu saja tahu hubungan gila kalian berdua sedari lama. Aku tidak bertindak karena aku yakin pada akhirnya nanti putraku akan merasa bosan dan meninggalkan mu. Tapi, rupanya kau lebih dari rubah yamg begitu pandai mengambil kesempatan. " Ibunya Jordan tersenyum dengan tatapan sinis, dia semakin intens menatap Soraya yang terlihat takut menatapnya.
" Bukan salahku, Bibi. Jordan lah yang sudah berjanji, bukan aku, bukan salah ku. "
Ibunya Jordan menghela nafas, jujur saja dia merasa sangat keheranan dengan Soraya yang sangat jauh berbeda dengan tampilannya. Jika orang sekali melihatnya pasti akan mengira wanita itu sangat baik, sopan, lembut, ramah, senyumnya juga begitu manis seperti tak pernah memiliki maksud buruk kepada siapapun.
" Kau tidak akan pernah sadar jika kau salah saat kau buta karena cinta. Sekarang kau memang akan sulit memahami kesalahan yang sudah kau lakukan, tapi percayalah, suatu saat nanti kau akan menyesal telah melakukan kesalahan semacam ini. "
Soraya menatap wajah Ibunya Jordan. Jujur dia merasa kesal, dia kecewa karena tidak satu orang pun memahami jika tidak ada cinta yang bisa di salahkan.
" Bibi, aku amat mencintai Jordan, begitu juga dengan Jordan. Kami saling mencintai, itulah mengapa kami sampai bisa melakukan kesalahan sejauh ini. Tolong pahami kami, tolong terima cinta kami. "
__ADS_1
Bersambung.