
Soraya terdiam tak sedikit pun ingin bicara begitu orang tua Rigo menjanjikan sebuah pernikahan. Bukan sok jua mahal padahal sebelumnya juga dia berselingkuh dari suaminya seperti seorang wanita yang tidak memiliki harga diri. Sekarang yang di rasakan Soraya adalah hati yang sudah mati rasa, dia jelas sulit untuk bisa jatuh cinta, mencintai pria lain di kemudian hari. Dia tahu kalau menikah dengan keadaan seperti ini hanya akan membuat mereka berdua tersiksa.
Soraya menarik nafasnya, keputusan untuk tidak menikah memang begitu berat untuknya apalagi dalam keadaan mengandung. Tapi, di bandingkan dengan harus hidup berumah tangga yang jelas tidak akan baik untuk dirinya juga anaknya kelak bukankah hanya akan menjadi kesakitan tersendiri. Benar, dia mungkin akan sering mendengar orang lain menggunjing tentangnya yang belum lama ini ketahuan selingkuh, lalu bercerai dengan suaminya, pria selingkuhannya juga adalah menantunya sendiri lalu di tambah hamil di luar nikah. Tentu saja itu semua amat menyakitkan, tapi Soraya yakin bisa melewati ini semua meski entah berapa kali dia akan menangis nantinya.
" Merawat bayi tidak lah mudah, jadi pikirkan baik-baik tentang tawaran pernikahan ini ya? "
" Saya tidak ingin terikat dengan hubungan pernikahan lagi, saya yakin sebelum anda berdua datang kemari pasti sudah mencari tahu tentang saya kan? Semua yang terjadi itu membuat saya takut untuk memulai hubungan, masalah bayi yang saya kandung anda tidak perlu khawatir, saya akan merawatnya dengan baik semampu saya. "
Kedua orang tua Rigo terdiam, mereka masih ingin memaksa menikahkan Rogo dengan Soraya karena bagaimanapun bayi yang ada di perut Soraya adalah keturunan Rigo langsung yang berarti adalah cucunya juga. Sekarang mereka memutuskan untuk sabar lebih dulu, karena Rigo juga baru satu Minggu do tinggal meninggal istrinya tentu lah pernikahan ini tidak akan mudah untuk mereka berdua.
Setelah kepergian kedua orang tua Rigo, kini hanya tinggal orang tua Soraya dan Soraya sendiri di sana. Ibu yang tahu bagaimana suasana hati Soraya sebenarnya tidak ingin memaksakan keadaan, tapi di banding menderita karena gunjingan orang nanti, Ibu pikir lebih baik menikah saja dulu dengan Rigo agar kedepannya Soraya tidak perlu mendengarkan banyak gunjingan yang jelas akan menyakiti hatinya.
" Nak, kenapa kau tidak coba pikirkan ini dengan baik? Anak mu kan juga butuh Ayah, bagaimanapun mengandung tanpa suami adalah hal yang tidak mudah, Ibu takut saat nanti orang menggunjing mu, Ibu tidak akan sanggup melihatmu sedih dan menangis lagi. "
Soraya memaksakan senyumnya, dia meraih tangan Ibunya dan menggenggamnya erat-erat. Dia sungguh tahu bagaimana khawatir kedua orang tuanya sehingga menganjurkan untuk menikah adalah pilihan paling benar untuk semua orang. Tapi, hati Soraya yang masih memiliki luka itu terus menolak, dia tidak ingin berurusan dengan pria apalagi menjalin hubungan suami istri. Dia tahu benar kalau pria itu memiliki ceritanya sendiri sehingga melakukan hal gila seperti kemarin, dia juga sedikit mendengar cerita dari Ibunya tentang istri dari pria yang menghamilinya.
" Ibu, menikah atau tidak, aku memang sudah buruk di mata masyarakat. Tatapan sinis mereka saat melihatku aku bisa melihatnya dengan jelas, mereka bergunjing sembari menatapku seolah membuatku bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku memang sedih, tapi menikah bukanlah hal yang mudah, aku akan lebih sedih untuk banyak hal. Ibu, Ayah, kali ini tolong dukung pilihanku ya? Aku tahu memiliki anak tanpa suami adalah hal memalukan, tapi aku sudah tidak ingin berurusan dengan pria lagi kedepannya. Tolong ya? Tolong jangan meminta ku untuk menikah karena itu akan sulit untuk ku lakukan. "
__ADS_1
" Soraya, kalau memang begitu keputusan mu, kami sebagai orang tua ya hanya bisa mendukung mu saja. " Ucap Ayah yang langsung membuat Soraya sedikit tersenyum.
" Ayah Ibu, beberapa hari ini aku sudah berpikir dengan baik, aku akan pergi ke pedesaan tempat Ayah dan Ibu dulu berasal. "
Kedua orag tua Soraya membelalak kaget.
" Nak, kau ini kenapa ingin pergi kesana? Kau tahu di sana itu semuanya serba terbatas kan? Fasilitas kesehatan hanya ada puskesmas di ujung jalan yang terjal. Lampu penerangan juga terbatas, apa yang akan kau lakukan di sana? "
Soraya menatap Ibunya yang sepertinya jelas tidak mendukung niatnya itu.
" Ibu, di sana itu kan pegunungan. Udaranya pasti sangat segar, aku ingin menikmati masa hamil ku dengan tenang. Aku ingin bangun di sambut dengan kicauan burung, menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari, mendengarkan suara binatang kecil saat akan tidur, aku yakin suasana seperti itu sangat mendukung kesembuhan mental ku. "
" Ibu, Ayah, tolong jangan bersedih ya? Sekarang Ayah dan Ibu kan sudah sehat dan bisa menjalankan usaha warung makan impian kalian berdua. Moana si kecil cantik itu juga sudah menikahi pria yang baik, ini adalah waktunya untuk Ayah dan Ibu menghabiskan waktu bersama-sama seperti dulu kalian berpacaran kan? "
Ibunya Soraya semakin terisak sedih, jujur saja hatinya sama sekali tidak rela, tapi dia juga tidak sanggup menolak permintaan putrinya itu.
Dua hari setelah itu, Rigo beserta kedua orang tuanya datang ke rumah Soraya yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke desa asal orang tuanya.
__ADS_1
" Kau mau kemana? " Tanya kedua orag tuanya Rigo dengan mimik wajah yang terlihat kaget melihat koper besar dan kardus berukuran besar, serta Soraya yang sudah siap dengan pakaian rapihnya.
" Saya akan pergi ke desa orang tua saya, saya memutuskan untuk tinggal di sana. " Jawab Soraya dengan wajah datarnya.
Ibunya Rigo menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan keputusan yang dipilih Soraya.
" Menikahlah dulu dengan Rigo, dia sudah bersedia menikahi mu. Mungkin kau melihat ku sebagai wanita yang pendiam, tapi percaya atau tidak aku bisa membuat mu tidak punya pilihan selain menikahi Rigo. "
Soraya mengeryit mendengar kalimat yang keluar dari mulut ibunya Rigo. Arogan, dan juga tegas itulah yang bisa di rasakan Soraya.
Rigo sedari tadi hanya diam saja tak mengatakan apapun.
" Nyonya, kemana saya akan pergi, menikah atau tidak anda tidak berhak memaksa saya melakukanya. "
" Cobalah kalau kau tidak percaya, dalam hitungan menit aku bisa membuatmu tidak akan mungkin bisa tinggal di desa itu lagi. Mau bukti? " Ibunya Rigo mengeluarkan ponselnya.
" Membuat tempat yang akan kau tinggali terbakar bukan hal yang kejam kan? "
__ADS_1
Soraya melotot mendengar kalimat barusan.
Bersambung.