Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 64


__ADS_3

Jordan menangis tersedu-sedu, dia bersujud di hadapan Ana yang duduk di pinggiran tempat tidur. Bukan sedih, tapi dia bahagia dengan amat sangat sehingga tangisnya pecah tak tertahankan. Awalnya dia memang ingin Ana hamil agar bisa memperkuat hubungan mereka, tapi begitu Ana mengatakan dia benar-benar hamil yang dirasakan Jordan adalah kebahagiaan karena akan segera memiliki anak dari wanita yang jelas memiliki hati baik.


" Jordan, apa yang kau lakukan? " Ana sebenarnya ingin bangkit dari posisinya, tapi Jordan yang menunduk meletakkan kepalanya di pangkuan Ana sehingga Ana tidak bisa berdiri apalagi berjalan untuk menjauhi Jordan.


Jordan masih terisak di sana, dia benar-benar bahagia sekali, ini mungkin jauh di atas kata bahagia. Ana, gadis sembilan belas tahun yang memberikan banyak sekali pelajaran dalam hidupnya, membuatnya sadar akan kesalahan yang seharusnya sama sekali tidak ia lakukan, dia juga memberikan keteguhan melalui sikap, tatapan mata, dan ucapan. Ana memang sangat muda, tapi rasa cintanya kepada Ayahnya membuat dirinya menjadi dewasa dan tanpa di sadari sudah mengubah rencana buruk menjadi hasil yang baik.


" Jordan, ayo bangun dan berhentilah menangis. Kau menangis seperti ini apa karena sedih aku hamil, atau bagaimana? " Ana jelas tidak bisa mengartikan tangisan Jordan karena sama sekali tidak bisa melihat wajah Jordan yang tertunduk di pangkuannya.


Jordan mencoba menenangkan dirinya, ah! Sial sekali karena dia benar-benar tidak bisa berhenti menangis, jadi dia bangkit dari posisinya dan memeluk Ana erat-erat. Masa bodoh saja kali ini mau di pukul berapa puluh kali oleh Kendra, mau di patahkan tangan dan kakinya juga dia sudah tidak mau perduli lagi karena kebahagiaan yang ia rasakan ini benar-benar tak terukur rasanya.


" Terimakasih, terimakasih karena Sudi mengandung anakku, terimakasih sudah mau mengandung calon bayi dari bajingan sepertiku. "


Ana terdiam membeku setelah mendengar kalimat yang luar biasa mengetuk pintu hatinya dan memberikan kehangatan di sana. Ana pikir Jordan tidak Sudi memiliki anak darinya yang jelas dia tidaklah sempurna fisik seperti Soraya. Tapi cara Jordan mengungkapkan isi hatinya benar-benar membuat Ana merasa bersalah sudah menuduh Jordan seenaknya beberapa saat lalu. Ana yang tersentuh hatinya tanpa sadar mengerakkan kedua tangannya menyentuh punggung Jordan seolah membalas pelukan yang di berikan Jordan padanya.


Hangat, dan cukup membuatnya merasa tenang seolah Jordan memberikan harapan masa depan yang begitu menjanjikan untuk dirinya dan anaknya kelak. Memang Jordan bukan pria yang baik, tapi sungguh rasa nyaman itu tidak bisa di bantah oleh Ana.


" Mari kita temui Ayahmu, kita beritahu dia bahwa kau hamil sehingga kita tidak perlu berjauhan, dan aku bisa menemani dan merawat mu dengan baik. "


Ana terdiam saat Jordan berkata sembari menangkup wajahnya. Bukan tidak ingin memberi tahu mengenai kehamilannya, hanya saja dia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi kalau sampai dia memberitahu tentang itu bersama dengan Jordan.


" Ana, kau kenapa diam saja? "


Ana menatap Jordan dengan tatapan serius.

__ADS_1


" Jordan, mengenai kehamilan ini biar aku saja dulu yang memberitahu Ayahku, karena aku masih bum siap menyaksikan kemarahan Ayahku lagi saat melihatmu. Kau juga tahu benar bagaimana emosinya ayahku saat melihatmu kan? Tolong mengertilah, aku benar-benar tidak siap juga melihat mu di pukuli lagi. "


Jordan tersenyum karena merasa jika Ana begitu perduli padanya, padahal saat ini dia benar-benar tidak perduli mau berapa ratus pukulan yang akan dia dapatkan dari Kendra asalkan pria itu kuat melakukanya.


" Aku ingin bersikeras menghadapi Ayahmu, tapi kalau yang memintanya adalah kau, aku hanya punya pilihan seperti yang kau katakan. " Ucap Jordan sembari menatap Ana dengan seulas senyum yang begitu lembut, dan ini adalah senyum tulus penuh kasih yang sering diperlihatkan Ayahnya saat menatapnya.


" Kalau begitu, mulai sekarang kau harus lebih baik mengurus dirimu, jangan tidak makan karena nanti kau bisa sakit, aku tidak ingin berjuang sendirian untuk meluluhkan hati Ayahku. "


Jordan mengangguk sembari tersenyum.


" Aku janji akan sekuat tenaga berusaha membuat Ayahmu menerimaku, sehingga kita tidak perlu terpisah oleh jarak seperti ini. "


Ana mengangguk dan tersenyum tipis. Aneh sekali, beberapa waktu terakhir ini dia seperti sedang mencoba untuk menitipkan masa depannya kepada Jordan yang belum ia ketahui jelas bagaimana hatinya. Tapi mau bagaimana lagi kalau hal itu sungguh sulit untuk dia hentikan.


Awalnya memang ciuman itu di harapkan akan berlangsung cepat, tapi di luar akal sehat mereka karena ciuman itu terus memanas hingga mereka sama-sama membutuhkan pelampiasan dan pada akhirnya semakin menggebu tak bisa di kontrol.


Beberapa saat kemudian mereka benar-benar sudah polos tanpa pakaian di tubuh mereka, baru saja mereka bersatu beberapa detik suara ketukan pintu terdengar.


" Ana, kau sudah tidur? Ayah bawa kue kering kesukaan mu, kenapa pintunya di kunci? "


Jordan yang sudah berada di atas tubuh Ana hanya bisa menatap Ana bertanya apa yang harus dia lakukan di saat posisi mereka sudah begini.


" A aku, aku baru saja selesai mandi, belum menggunakan pakaian, Ayah. " Ucap Ana sekenanya saja, itupun jawaban reflek yang tidak terpikirkan.

__ADS_1


" Oh, baiklah. Lain kali jangan mandi di malam hari, nanti kau bisa sakit. Ayah taruh kue keringnya di meja tengah ya? Nanti kau ambil saja. "


" I iya! "


Mereka berdua terdiam tak mengeluarkan suara lagi untuk memastikan langkah kaki Kendra menjauh dari kamar mereka.


" Jordan, kau pulang saja ya? Nanti kalau Ayahku tahu ada kau bagaimana? " Jawab Ana berbisik karena tentu lah dia tidak ingin Ayahnya mendengarnya.


" Ana, kita sudah seperti ini bagaimana aku bisa pulang? " Jordan menatap bagian tubuh mereka yang tengah menyatu, dan Ana juga tanpa sadar mengikuti arah pandang Jordan membuat dia merona merah menahan malu.


" Tapi, ka kalau Ayahku dengar bagaimana? "


" Maka yang bisa kita lakukan adalah mengurangi volume suara kita. " Bisik Jordan di telinga Ana, lalu segera melanjutkan kegiatannya.


Benar-benar tidak mudah menahan suara, tali untunglah mereka berhasil melakukanya hingga berakhir tanpa terdengar oleh Kendra.


" Jordan, ini sudah tengah malam, Ayahku pasti sudah tidur, jadi kau pulang sekarang ya? "


Jordan menghela nafas, dia menatap Ana dengan tatapan memohon agar di izinkan lebih lama lagi disana.


" Bagaimana kalau besok saja saat Ayahmu berangkat bekerja? "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2