
" Kau mau kemana, Soraya? " Tanya Ibunya Soraya ketika melihat Soraya keluar dari kamar menggunakan baju yang lumayan terbuka, dan menggunakan make up yang tegas lumayan tebal. Sebagai seorang Ibu sungguh dia tidak bisa los saja dan membuatkan putrinya seolah tak perduli padahal jelas tidak akan mungkin bisa dia lakukan.
Soraya memicingkan mata, sebenarnya dia merasa senang juga karena akhirnya Ibunya mau mengajaknya bicara. Tapi, mengingat bagaimana Ibunya menyetujui pernikahan Moana dengan Kendra, pikiran kesalnya seolah mengacaukan segalanya hingga lupa menghormati wanita yang selama ini dia sayangi dan menyayanginya sepenuh hati.
Soraya menghela nafas, dia menyibakkan rambut dan kembali menatap Ibunya acuh tak acuh.
" Bukankah Ibu tidak suka aku ada di rumah? "
Ibunya Soraya menghela nafas dengan wajah kecewa, sepertinya memang benar dugaannya kalau Soraya seperti kehilangan jati dirinya. Padahal Soraya yang dulu adalah wanita yang lembut, perhatian, rain, sekalipun juga tidak pernah berbicara dengan ketus apalagi kasar seperti sekarang ini.
" Soraya, Ibu mendiamkan mu berharap kau bisa mengoreksi kesalahan mu, menyadari keburukan yang kau lakukan. Ibu ingin kau menjadi lebih baik meski melakukan kesalahan sebelumnya, sekarang cobalah untuk memahami keadaan dan relakan semuanya agar kau bisa meraih hidup bahagia mu di masa depan. "
Soraya membuang nafas kasarnya, lalu menatap kesal seolah tak terima dengan apa yang dikatakan Ibunya sebagai nasehat.
" Bu, jika bahagia yang aku inginkan adalah Jordan bagaimana? Aku harus tetap mengejarnya kan? "
Ibunya Soraya terperangah dengan tatapan terkejut.
" Kau ini bicara apa, Soraya? Kau tahu benar kalau Jordan itu istrinya Ana kan? Cobalah untuk relakan itu dan cari saja pria lain. Ibu yakin ada banyak pria yang mampu menerima dan mencintaimu dengan tulus nak. "
" Kalau mencari pria yang bisa mencintaiku ya tentu saja banyak, tapi yang aku cintai mana bisa sembarangan? Sudahlah Bu, bagaimana aku mejelaskan Ibu tidak akan pernah mengerti karena Ibu tidak tahu bagaimana perasaan ku. "
Soraya bergegas berjalan keluar meninggalkan Ibunya yang yang menatapnya dengan tatapan pilu.
Seperti beberapa orang yang menganggap bar adalah tempat untuk menghilangkan stres, Soraya kini memilih untuk datang kesana dan meminum alkohol sebanyak yang dia inginkan. Sudah hampir teler, hingga tanpa sadar ada seorang pria yang tersenyum miring kepadanya.
__ADS_1
" Bawa wanita ini ke mobilku, aku adalah teman lelakinya. " Ucap pria itu kepada dua penjaga yang ada disana.
Begitu Soraya sudah di bawa ke mobilnya, pria itu meraih dagu Soraya dan kembali tersenyum miring, tatapannya juga sinis seolah ingin melakukan sebuah perbuatan tidak menyenangkan kepada Soraya.
" Jadi ini wanita yang amat di cintai Jordan? Heh! Lumayan cantik juga, jadi mari kita lihat seberapa menderitanya kau melihat wanita mu melenguh di bawah tubuh pria lain. " Ucap pria itu dengan mimik tak berperasaan.
Esok paginya.
Soraya membuka matanya perlahan dengan dahi mengeryit karena dia merasakan sakit di kepalanya, yah mungkin karena banyaknya alkohol yang masuk ke dalam perutnya.
Perlahan Soraya bangkit dari tempat tidur, hingga saat selimut tebal yang tadi menutupi tubuhnya turun hingga ke pangkuannya dan menampilkan bagian dadanya yang polos tanpa sehelai benangpun membuat Soraya terkejut bukan main. Tak ingin berprasangka buruk dulu, Soraya membuka selimut untuk melihat bagian bawahnya, dan ternyata juga tak menggunakan pakaian.
Barulah Soraya tersadar degan sempurna, yakin benar dia tidak sendiri di ruangan yang nampak asing baginya, gemercik air juga terdengar dari kamar mandi. Dengan segara Soraya bangkit dari posisinya untuk meraih kajiannya yang berserakan di lantai, dan dengan cepat dia mulai menggunakan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya itu.
Beberapa saat kemudian, tepatnya saat sedang memakai sepatunya, seorang laki-laki keluar dari tempat tidur.
Soraya segera menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan terkejut. Seorang pria Yangs sepertinya adalah orang asing, tapi sangat fasih berbahasa lokal dan yakin benar ini adalah kali pertama bagi Soraya bertemu dengannya.
" Kau siapa? Apa yang kau lakukan pada ku saat aku mabuk?! " Tanya Soraya dengan tatapan marah. Sungguh dia amat marah hingga seluruh tubuhnya bergetar, kedua matanya juga merah.
Pria itu berdecih lalu tersenyum seolah apa yang dilakukan Soraya tak membuatnya takut sama sekali. Dia dengan santainya menuangkan anggur ke dalam gelas, mengabaikan penampilannya yang masih menggunakan jubah mandi, lalu menegak anggur itu dengan penuh perasaan.
" Jangan terlalu emosi, Soraya. "
Soraya tersentak, jelas lah dia terkejut karena pria yang baru saja dia temui itu ternyata tahu namanya juga.
__ADS_1
" Brengsek! Kenapa kau juga tahu namaku?! "
Pria itu terkekeh, dia berjalan mendekati Soraya, meraih dagunya dan menekan hingga Soraya meringis kesakitan.
" Aku tahu, karena kau adalah wanita- " Pria itu terdiam sebentar.
" Kau adalah wanita yang cantik, aku sangat menyukaimu sehingga bersusah payah mencari tahu siapa namamu. "
Soraya mendelik tak mau memercayai ucapan pria itu. Kata-kata manis seperti ini sudah kenyang sekali rasanya dia peroleh dari Kendra dan juga Jordan.
" Bajingan! Lepaskan aku! " Soraya menepis tangan pria itu dengan kasar, lalu menatapnya semakin tajam.
" Kejadian hari ini akan aku maafkan, tapi jika aku melihat mu lagi, jangan salahkan aku menampar mu sebanyak yang aku inginkan. " Ancam Soraya yang malah hanya di tanggapi senyum meremehkan dari pria itu.
" Oh ya? Yakin kau bisa melakukanya setelah melihat ini? " Pria itu menekan remote yang sedari tadi ia pegang, dan betapa terkejutnya Soraya melihat adegan tidak senonoh di layar televisi itu. Wanita yang melenguh seperti sedang menikmati apa yang dia rasakan dari pria yang berada di atas tubuhnya. Seperti sudah sangat klop dan begitu sangat menginginkan sentuhan seorang pria, Soraya benar-benar tak terlihat seperti orang yang dipaksa untuk melakukanya. Sialan! Dia bahkan sampai mengatakan, Ini nikmat, lagi, terus lebih cepat. Jijik, tapi juga sangat kesal dan marah kepada pria yang ada di televisi itu juga dan pasti adalah pria yang berdiri di hadapannya dengan angkuh.
" Kau gila ya?! Halus video itu! Cepat! "
Pria itu tersenyum miring dengan tatapan acuh.
" Kala begitu ayo kita bermain-main dulu sampai puas, nanti kalau aku sudah merasa bosan denganmu, barulah aku akan melepaskan mu. "
Pria itu tersenyum, tapi tatapannya yang begitu dingin mengancam membuat Soraya tak berani melawan lagi.
Jordan, aku akan menghancurkan mu lewat orang-orang yang kau cintai, mari kita lihat akan seberapa hancur kau nantinya.
__ADS_1
Pria itu kembali menenggak anggurnya sembari menikmati pemandangan di balik dinding yang terbuat dari kaca. Sedangkan Soraya, wanita itu masih tak mengerti harus bagaimana sekarang.
Bersambung.