Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 76


__ADS_3

Untuk pertama kali Kendra dan Moana tidur di ranjang yang sama tentu saja bukan hal yang tak membuat canggung untuk keduanya. Kendra sudah mencoba menutup matanya berharap dia bisa tidur, tali nyatanya hanya mampu menutup mata tapi tak mampu tidur. Moana juga begitu, dia memunggungi Kendra karena dia tidak tahan dengan degup jantungnya yang begitu menderu dan semakin kencang ketika menatap nya.


Hanya berbaring dengan jarak dekat bukan hal yang lebih, tapi bila mengingat statusnya yang sudah menjadi istri dari Kendra, pria yang selama ini diam-diam dia cintai membuatnya merasakan perasaan campur aduk tak karuan.


Sudah pukul tiga subuh, Moana masih terjaga tak dapat memejamkan mata sekalipun. Sementara Kendra, pria itu mungkin mulai tertidur sejak satu satu atau dua jam yang lalu, dan sekarang dia tanpa sada tengah memeluk Moana. Mungkin bukan memeluk, karena hanya satu tangan Kendra menimpa punggung Moana, dan Moana yang tidak pernah sedekat ini dengan pria lain menyebutnya sebagai pelukan yang semakin membuat Moana tak bisa memejamkan mata.


Rupanya bukan hanya Kendra dan Moana saja yang tak bisa tidur, Soraya juga sama sekali tak bisa tidur. Dia terdiam di sudut ruangan, duduk di lantai dengan tatapan kosong, dia mengingat hari dimana Kendra datang padanya untuk melamar setelah dikenalkan oleh salah satu sahabat mereka. Saat itu Kendra benar-benar membuatnya terkesan, pria itu rupanya adalah seorang pemalu, dia sopan dan juga ramah senyum.


Jujur saja, meksi Kendra memiliki tampang yang tampan, perawakannya juga sangat gagah namun tak mampu membuat hati Soraya merasakan ketertarikan. Lama kelamaan hubungan mereka berlanjut, Soraya yang tadinya ogah juga menjadi tertarik. Dia mengagumi sosok Kendra yang dewasa, lembut, hangat, sopan santun kepada orang tuanya benar-benar tidak di ragukan sama sekali. Rupanya orang tuanya juga merasa Kendra adalah pria baik sehingga meminta Soraya untuk segera menikah, Ana yang saat itu beranjak dewasa juga menyambutnya dengan hangat.


Mereka seperti keluarga sungguhan yang penuh cinta kasih, hingga rasa bosan tiba-tiba di rasakan Soraya. Dia mulai mencari dimana letak kekurangan Kendra dan menginginkan celah itu karena ingin merasakan sensasi yang berbeda. Bak mendapat durian runtuh, akhirnya dia bertemu kembali dengan seorang pria yang pernah ia selamatkan. Awalnya Soraya yang belum begitu berani bermain api di belakang Kendra hanya merasa cukup saja berhubungan lewat telepon, tapi karena merasa lama kelamaan nyaman, dia menjadi memiliki keinginan untuk bertemu. Tak juga memiliki rasa puas, Soraya mulai melangkah lebih jauh untuk dekat dengan pria yang tak lain adalah Jordan. Dia tidak mengatakan bahwa dia sudah bersuami karena takut Jordan menjauhinya, juga takut Kendra mengetahuinya. Hubungan itu terus berlanjut, semakin dalam, dan dengan tuntunan balas Budi Soraya mencoba menekan Jordan karena merasa lengkap dengan Jordan untuk memenuhi yang kurang dari Kendra.


Sekarang kedua pria itu pergi, satu memilih mantan anak tirinya, satu memilih adiknya sendiri. Sakit, sangat sakit dan dia merasa dia adalah orang yang paling tersakiti sekarang ini, di ingin protes tapi dengan siapa? Orang tuanya juga terlihat diam acuh tak menganggapnya.


" Mana bisa begini, aku tidak boleh kalah. " Soraya menatap tempat tidurnya, tempat itu dulu juga ia gunakan untuk tidur bersama Kendra ketika mereka menginap di rumah orang tuanya. Soraya bangkit dari sana, berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Dia meraih ponselnya karena merasa belum juga mengantuk, di melihat satu persatu photo beserta video yang ia simpan. Tidak ada tentang Kendra, karena semua yang ada di galery nya adalah kebersamaannya bersama dengan Jordan.


Soraya mengigit bibir bawahnya ketika melihat videonya bersama dengan Jordan telah melakukan hubungan badan. Video itu ia buat bersama dengan Jordan, dan bukan hanya sekali dua kali mereka membuat video itu entah apa maksudnya.


Soraya melukai menyentuh bagian tubuhnya yang memiliki titik sensitif, dia benar-benar merindukan sentuhan sekarang ini. Hari ini salah satu teman Jordan juga datang kesana, karena yang dia tahu adalah Jordan masih berhubungan dengan Soraya dia memberikan saja teleponnya ketika Soraya meminjam teleponnya untuk menghubungi Jordan dengan alasan dia lupa dimana ponselnya. Sekarang dia sudah nomor Jordan yang baru, jadi dengan nakalnya dia mengirim beberapa video itu, beserta gambar dirinya sekarang ini yang berpose menggoda.

__ADS_1


Mungkin terkesan seperti tak punya harga diri, tapi mau bagaimana lagi? kebiasaan ini sering kali dia lakukan, begitu juga dengan Jordan saat mereka menjalin hubungan.


" Apa-apaan dia ini? " Gumam Jordan, dia segera menghapus semua yang dikirimkan Soraya padanya, tidak tahu dari mana mendapatkan nomor teleponnya yang belum lama di ganti, tapi Jordan yang sudah mulai bisa mengendalikan diri tidak lagi merasa begitu tergoda saat melihat apa yang dulu sering ia lihat.


Jordan membuang nafas kasarnya seraya menjauhkan ponselnya. Besok dia harus bertemu Ana karena seharian ini Ana tidak membalas pesannya, dia juga tidak bisa makan apapun saat tidak bisa melihat Ana. Jadi segera dia mengambil posisi untu tidur.


Soraya yang gelisah menunggu berharap Jordan akan membalas pesan darinya hanya bisa terus melihat kearah ponselnya, hingga lama kelamaan dia jenuh dan tertidur sendiri.


Hari berganti, pagi ini Soraya berangkat pagi-pagi untuk menemui Jordan dan bicara lagi dengannya. Dia tahu kalau Jordan sudah tidak tinggal di apartemen, jadi dia yakin benar jika Jordan pasti tinggal di rumah orang tuanya. Benar saja, mobil Jordan keluar dari pagar rumah orang tuanya. Dengan segera dia mengikuti kemana akan pergi.


***


Ana menatap Ayahnya dan Moana secara bergantian karena sejujurnya dia masih belum memahami benar situasi sekarang ini.


Ana memaksakan senyumnya.


" Sebenarnya aku semalam tidak bisa tidur, aku masih bingung yang sebenarnya terjadi sehingga sekarang tiba-tiba dengan secepat kilat geluduk menyambar Kak Moana malah menjadi Ibu tiri ku. "


Moana tersenyum kikuk.

__ADS_1


" Maaf ya, Ana? Semua ini karena kesalahan kakak. " Ucap Moana memanah dia serasa tidak enak.


Ana menghela nafasnya.


" Tidak perlu minta maaf kok, Ayahku bukan orang sembarangan mengambil tindakan, dia pasti punya pemikiran sendiri. " Ucap Ana bangga dengan Ayahnya sendiri.


" Sudahlah, makan dulu sarapan mu. " Ucap Kendra meningkatkan.


Ana baru saja akan mengambil sendok, tiba-tiba ponselnya berdering, dia malah Jordan! Dengan segera Ana bangkit dari duduknya.


" Ayah, aku makan di luar saja ya? Tembakau sudah menunggu. " Kendra tak menjawab, tentu saja dia paham sekarang, karena turun ke bawah Ana sudah menggunakan pakaian rapih seperti sudah berencana akan pergi, yah pasti juga Jordan kan?


Sesampainya di luar Jordan keluar sebentar, dia mengecup kening Ana, kaku mengusap dan mencium perutnya.


" Kenapa kau keluar dari mobil?! " Tanya Ana panik.


" Tidak sabar ingin mencium mu. " Jordan tersenyum.


Dari kejauhan.

__ADS_1


" Kenapa Jordan mengusap dan mencium perut Ana? Tidak mungkin, tidak mungkin kan? "


Bersambung.


__ADS_2