
Rigo menatap Lisa yang kini sedang duduk di kursi roda, tubuhnya terlihat sangat berbeda dari sebelum meninggalkannya. Wanita cantik yang sangat ia cintai itu benar-benar menjadi sangat kurus, pipinya sangat tirus, matanya begitu cekung, bibirnya juga terlihat pucat dan kering pecah-pecah. Seluruh tubuh nya seperti tersengat listrik, lemas bagaikan kehilangan energi hingga pistol yang dia arahkan ke kepala Ana menjadi jatuh ke lantai.
" Lisa.... "
Rigo masih tak percaya kalau dia akan melihat kondisi wanita tercintanya seperti sekarang ini, dia benar-benar tidak ingin percaya dan menganggap ini mimpi, tapi sadar jika ini adalah nyata dia seperti tak memiliki daya lagi. Bagaimana bisa wanitanya terlihat menyedihkan seperti ini? Lisa juga terlihat menangis seolah menunjukan kesedihannya untuk apa yang terjadi sekarang ini.
Menyadari Rigo sudah menjatuhkan senjatanya, segera Gorge berlari untuk merai senjatanya, lalu mengamankan sebelum Rigo kehilangan kontrol lagi.
Dengan langkah yang begitu sulit dan gontai Rigo berjalan ke hadapan Lisa, sementara Jordan dengan segera berlari ke arah Ana untuk membuka pengikat yang menjerat tubuhnya, begitu juga dengan Kendra dan Moana.
Bruk!
Rigo menjatuhkan dirinya dengan posisi bersimpuh menatap Lisa dengan tatapan mata seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Tubuhnya masih gemetar, matanya juga mulai meneteskan air mata saat dia tak henti menatap Lisa yang juga terus terisak sembari menatapnya.
" Kau, kenapa? Kau sedang berakting saja kan? Kau tidak mungkin sedang sakit kan?! Kau bohong kan?! "
Lisa hanya bisa menangis mendengar pertanyaan Rigo, memang siapa yang tak mengharap jika semua itu bohong? Jelas dia juga ingin kalau semua ini hanya kebohongan saja, tapi apalah daya harapan hanyalah harapan tak bisa di paksakan menjadi kenyataan.
__ADS_1
" Maafkan aku, Rigo. Aku yang bersalah, tolong jangan begini lagi, mereka tidak salah, Jordan tidak salah, aku lah yang salah. " Ucap Lisa sebentar menahan tangisnya.
" Aku kira dengan mengatakan alasan itu kau akan membenciku dan memilih wanita lain dengan segera, tapi aku tidak menyangka kalau kau akan berbuat seperti ini. Ini semua salahku, berhenti lah menyakiti mereka, aku meninggalkan mu karena tidak sanggup melihatmu bersedih karena kondisiku. "
Rigo menggeleng masih tak ingin mempercayai apa yang di katakan Lisa padanya. Benar, tubuh Lisa memang terlihat begitu lemah, pucat dan kurus, tapi dia tidak mau menerima kenyataan bahwa wanita tercintanya itu tengah sakit keras.
" Rigo, aku memang tidak pernah mengatakan padamu kalau aku mencintaimu, tapi beberapa tahun terakhir aku benar-benar sangat bahagia, aku jatuh cinta padamu, aku sangat mencintaimu hingga aku tidak sanggup melihat mu bersedih saat aku mati nanti. "
" Bohong! Kau bohong! Kau mana boleh menipuku?! " Rigo bangkit sembari menangis, sungguh dia tidak ingin mempercayai itu, tapi tubuh Lisa begitu jelas menunjukannya.
Rigo menyentuh kedua lengan Lisa, tatapannya nampak kecewa, dia juga terlihat marah.
" Kenapa kau tidak mengatakannya saja dari awal?! Aku bisa mencarikan Dokter terbaik untuk menyembuhkan mu kan?! "
Lisa menggeleng pelan.
" Aku sudah menemui banyak Dokter, penyakit yang aku derita ini sudah dari lama aku rasakan, hanya saja aku teledor dan memilih untuk menganggap enteng hingga ketika aku merasa sangat sakit, waktu itu kau pergi keluar negeri untuk bisnis, aku memeriksakan detail tentang penyakit ku, dan ternyata sudah berada di stadium tiga akhir. Aku sudah berusaha mencari Dokter terbaik, tapi semua menyarankan untuk kemoterapi, tapi mereka tidak bisa menjanjikan keberhasilan. Lalu aku bisa apa, Rigo? Yang aku pikirkan saat itu bukanlah kematian ku, tapi aku tidak akan sanggup melihatmu bersedih, aku tidak akan mampu melihatmu sok kuat dan diam-diam menangis, aku tidak sanggup. Kau membuatku begitu jatuh cinta, kau memperlakukan ku dengan sangat baik, sedikitpun kau tidak pernah membuatku merasa curiga, jadi mana mungkin aku bisa menerima air matamu? "
__ADS_1
Rigo kembali menjatuhkan dirinya dengan posisi bersimpuh. Sungguh dia tidak sanggup lagi berdiri sekarang, kenapa sebenarnya dengan Tuhan? Kenapa dia memberikan ujian sebesar ini kepada wanita yang dia cintai? Apakah tidak bisa jika dia saja yang sakit? Kenapa sakit itu harus berada di tubuh kurus istrinya?
" Aku tidak mau hidup kalau kau juga memiliki pemikiran akan segera meninggal. Aku ingin selalu bersamamu, tolong jangan pergi sendiri, biarkan aku menemanimu kemana kau pergi. Kau tahu di kubur itu berarti kau akan berada di dalam tanah sendirian kan? Tidak ada penerangan, tidak ada lubang udara, semua gelap, kau kan paling takut gelap, jadi biarkan aku selalu menemani mu ya? "
Lisa menyeka air matanya, ini lah yang tidak ingin dia lihat. Dia tidak ingin melihat Rigo menjadi putus asa dan tidak memiliki semangat di dalam hidupnya, padahal yang dia inginkan sebelum Tuhan mengambil nyawanya untuk kembali padanya adalah kebahagiaan Rigo. Pria yang selama ini benyak memberikan cinta untuknya, dia benar-benar ingin melihat Rigo bahagia tidak perduli siapapun wanita yang akan mendampinginya.
" Rigo, kau benar-benar membuatku melihat apa yang tidak ingin aku lihat. " Ucap Lisa yang mampu membuat Rigo tersadar, benar memang inilah yang tidak ingin di lihat oleh Lisa. Perlahan Rigo bangkit dari posisinya, dia berbalik melihat Ana yang kini berada di dalam pelukan Jordan, di dekap oleh Ayahnya juga.
" Aku tahu aku sudah melakukan kejahatan, aku juga melakukan perbuatan hina dengan perempuan itu, aku akan bertanggung jawab, aku juga akan menerima hukumannya seberat apapun yang akan di jatuhkan padaku nanti. Tapi, aku benar-benar minta tolong, tolong berikan aku waktu, biarkan aku menjadi suami yang baik untuk istriku, tolong tunggulah. " Rigo menatap dengan tatapan yang terlihat begitu tulus, pilu, dia benar-benar menunjukan betapa dia menyesal tapi juga membutuhkan bantuan dari mereka untuk sebentar saja menghabiskan waktu bersama istrinya.
Kendra mengeraskan rahangnya, jika saja dia tidak melihat kondisi Lisa yang mengingatkannya dengan mendiang Ibu kandungnya Ana, benar-benar tidak Sudi Kendra menunda waktu.
" Ayah, Jordan, biarkan saja dia merawat istrinya dulu, aku kan baik-baik saja. Aku tidak apa-apa jadi tidak perlu sampai dia dihukum karena ku, nanti baru tanyakan kepada Bibi Soraya bagaimana dia ingin menyelesaikan masalah ini. "
Jordan sebenarnya ingin menyela, bagaimana bisa tidak apa-apa kalau wajah Ana saja memar? Yah, tapi melihat Lisa dia jadi tidak tega dan hanya bisa ikut saja keputusan istrinya.
Bersambung.
__ADS_1