Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 75


__ADS_3

Kendra menatap dingin Soraya yang baru saja mengatakan hal tidak masuk akal kepada Kendra dan Moana. Padahal yang berkhianat adalah Soraya sendiri, jadi bagaimana bisa Soraya mengucapkan kalimat seolah Kendra yang sudah mengkhianatinya bersama dengan adiknya sendiri? Kendra membuang nafas kasarnya, sejenak dia mencoba untuk lebih tenang karena tidak ingin terpancing emosi dan melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.


" Kak, sebenarnya kakak ini kenapa? Kenapa kakak berbicara seolah aku berselingkuh dengan kak Kendra? Kakak tidak serius dengan ucapan kakak barusan kan? " Moana bertanya dengan tatapan memaksa untuk mendapatkan jawaban. Iya, benar dia mencintai Kendra selama ini, dari awal dia melihat Kendra, dia benar-benar sudah jatuh cinta. Sudah pernah ia tahan agar rasa cinta itu tak bertumbuh, tapi apalah daya karena dia tidak mampu mengontrol perasaan itu dan semakin dalam menyimpan rasa cinta untuk Kendra. Kendati demikian dia sama sekali tida memiliki niat untuk menggoda Kendra apalagi sampai berselingkuh dan mengkhianati kakak nya sendiri.


" Aku tidak tahu, hubungan tersembunyi di antara kalian tentu saja hanya kalian saja yang tahu. Sok menghakimi ku padahal kalian berdua juga sama saja kan? " Dengan angkuhnya Soraya mengucapkan barusan kalimat yang bukan hanya menyakiti Moana dan Kendra saja, tali juga orang tuanya serta Ana yang berada di antara mereka.


Kendra mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh dia tidak habis pikir dengan Soraya beberapa akhir belakangan ini. Sungguh dia sudah memaklumi perselingkuhan yang dilakukan Soraya sebagai bagian dari salahnya juga, tapi yang tidak bisa Kendra maklumi adalah sikap Soraya yang berubah drastis. Ah, entah itu berubah menjadi Soraya dengan sikap buruk, ataukah memang begini sifat aslinya Soraya?


" Kak, aku benar-benar kecewa padamu. Bagaimana bisa kakak menyamakan diri kakak dengan kami? Aku tidak segila itu, dan aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal kotor itu! " Moana berteriak di akhir kalimat karena benar-benar tidak tahan lagi dengan Soraya.


" Sudahlah, Moana. Soraya yang sekarang ini sepertinya sedang tidak stabil. Percuma kau mengatakan apa, karena dia hanya akan menganggap semua orang membohonginya, dia juga akan terus menganggap apa yang dia curigai adalah sebuah kenyataan. Kita merasakannya akhir-akhir ini bukan? Sudah jangan di ambil hati, maafkan saja kakakmu dan doakan dia bisa kembali ke jalan yang benar. " Ucap Ibunya Soraya sembari mengusap lengan Moana yang terlihat begitu emosi. Moana sudah mulai tenang karena dia juga memikirkan kesehatan Ibunya, juga Ayahnya. Tapi yang dipikirkan Soraya malah semakin tidak karuan dan mengganggap bahwa Ibunya terlalu memihak Moana dan menjadikannya seperti anak tiri hanya karena di melakukan satu kesalahan saja.


" Soraya, cobalah merenung dan pikirkan baik-baik apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kau seperti kehilangan arah sekarang, kau seperti haus kepuasan yang kau bagaikan tidak tahu apa yang mampu membuatmu merasa puas. Sebagai orang yang pernah menjadi suamimu tentu aku tidak pantas memberi nasehat padamu, tapi percayalah jika kau belajar untuk bersyukur untuk apa yang kau punya, kau pasti tidak akan seperti sekarang ini. Masih belum terlambat, cobalah untuk memperbaiki diri, Soraya yang aku kenal dulu adalah orang yang baik. " Ucap Kendra, jujur saja dia begitu melas menasehati Soraya barusan, tapi kalau tidak begitu dia juga takut kalau nantinya Soraya akan semakin brutal dalam bertindak, dan lagi-lagi orang tuanya lah yang akan menjadi korban, lalu drop dan jatuh sakit.


" Tidak usah sok menasehati ku, ini adalah hidupku, buka hidupku terserah saja apa yang akan terjadi padaku. " Soraya membuang tatapan karena tidak mampu menatap Kendra lebih lama lagi. Entah, mungkinkah itu tatapan benci? Ataukah perasaan tidak rela karena sedari tadi dia seperti menolak adanya pernikahan di antara Kendra dan Moana.

__ADS_1


" Ya sudah kalau memang itu mau mu. " Kendra menghembuskan nafasnya dan kembali menatap Soraya.


" Jaga diri baik-baik, Soraya. Entah mengapa aku merasa kedepannya kau akan mengalami masa-masa sulit yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. "


Soraya menatap Kendra dengan tatapan marah. Dia kesal, dia merasa Kendra sedang menyumpahinya, atau bahkan sebenarnya Kendra diam-diam ingin membalas perbuatannya dengan cara yang amat licik.


" Kau pasti berencana untuk membalas ku kan? "


Moana menggeleng keharaman, begitu pula orang tuanya dan Ana. Sepertinya mereka benar-benar sudah tidak punya pilihan lain selian membiarkan saja Soraya berbicara karena jelas sekali bahwa Soraya seperti mengalami ketidakstabilan dengan tingkah polah nya yang jauh sekali dari sifatnya terdahulu.


" Kak, bisa kita pergi sekarang? " Tanya Moana dengan tatapan memohon karena memang dia tida tahan lagi menghadapi tajamnya mulut Soraya.


" Iya. " Jawab Kendra, setelah berpamitan dengan kedua orang tua Moana dan Soraya, segera Kendra, Moana dan Ana masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman, kalau melesat cepat meninggalkan tempat dimana pesta pernikahan Moana dan Kendra di langsungkan beberapa waktu lalu.


Di dalam perjalanan tak ada atau pun dari mereka yang bicara. Ana sibuk dengan rasa terkejut yang betah saja ya mau menghilang dari otaknya. Apalagi saat dia melihat ke depan yang ada duduk di samping Ayahnya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan hidup Ayahnya yang akan berputar saja pada lingkaran yang sama.

__ADS_1


Hanya suara helaan nafas saja, tapi niat begitu juga mereka masih tak berniat untuk mengobrol sama sekali.


Sesampainya di rumah, Kendra mengajak Moana untuk menuju ke kamar bawah. Sebenarnya itu adalah kamar utama, tapi karena hanya sendiri di bawah selain kamar untuk pembantu, dan juga karena Ana lebih suka kamar di atas, mau tak mau Kendra juga tidur di atas, atau lebih tepatnya di sebelah kamar Ana.


" A Ayah, kalian berdua mau pindah kamar sekarang juga? Langsung sekarang ini? "


Kendra mengeryit mencari tahu apa maksud dari tatapan Ana dan kalimat ambigu itu. Beberapa saat kemudian menghela nafas karena dia tahu apa yang di pikirkan Ana.


" Jangan salah paham, cepat sana masuk ke kamar dan istirahat saja. "


Setelah Ana masuk ke dalam kamarnya, Kendra membawa masuk Moana ke kamar utama.


" Moana, kau pasti tidak nyaman jika tiba-tiba langsung tidur satu kamar denganku. Tidurlah disini, jika membutuhkan apapun kau bisa minta tolong bibi dapur saja, atau boleh bilang padaku. "


" Anu, aku tidak merasa tidak nyaman kok. Aku tidur dengan kak Kendra saja boleh? "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2