
Jordan tersenyum bahagia setelah mendengar semua keterangan dari Dokter. Saat ini usia kandungan Ana adalah enam Minggu, Ana dalam keadaan sehat, bayi mereka juga sedang tumbuh dengan Normal. Bagaikan seperti jatuh ke dalam dunia penuh kebahagiaan, Jordan sampai tidak bisa berhenti tersenyum bahkan ini sudah hampir sampai di rumah makan yang rencananya akan dia datangi bersama Ana sebelum mereka kembali ke rumah.
Inikah rasanya saat tahu akan menjadi Ayah? Jordan tak berhenti menanyakan itu di dalam hatinya. Sungguh dia amat bahagia hingga bingung sendiri karena sepertinya semua hal membuatnya bahagia saja. Tapi dia sempat tertabrak orang hingga hampir terjatuh, dan Jordan malah tersenyum seperti orang gila sembari mengatakan, ah tidak apa-apa hanya sedikit sakit, aku sedang bahagia jadi tidak masalah juga kalau mau menabrak ku lagi.
" Jordan, kau benar-benar tidak ingin berhenti tersenyum seperti itu? " Tanya Ana yang merasa heran meski dia juga merasa senang melihat Irdan begitu bahagia akan segera memiliki ana bersama dengannya. Padahal beberapa saat lalu dia sempat merasa sedih karena menganggap Jordan tidak menginginkan anak darinya. Yah maklum saja, sekian fisiknya kalah jauh dari Soraya, Ana juga tidak bisa memasak, membersihkan rumah, mengurus Jordan juga kadang tidak benar, dan banyak hal lain lagi yang masih tak bisa di bandingkan dengan Soraya yang pernah singgah di hati Jordan selama tiga tahun terakhir ini.
" Aku tidak bisa berhenti tersenyum meski aku ingin melakukannya. Aku terlalu bahagia hingga tidak tahu bagaimana caranya tidak tersenyum, jadi maaf kalau wajah ini membuat mu terganggu. " Ucap Jordan yang tak ingin sama sekali memisahkan tangannya yang sedang menggenggam tangan Ana sedari tadi. Aneh, sungguh sangat aneh karena perkataan Jordan tadi membuat jantungnya berdegup kencang tapi juga merasa bahagia yang tak bisa dia gambarkan melalui kata-kata.
" Semoga anak kita berkembang dengan sehat, lahir dan tumbuh juga dengan sehat dan bahagia. "
Jordan mengangguk cepat karena dia setuju dengan apa yang di ucapkan Ana.
" Amin! " Ucap Jordan dengan begitu semangat membuat Ana sempat menahan tawa tadi.
Begitu sampai di restauran segera Jordan menarik kursi untuk Ana duduk seolah dia menganggap kalau perut Ana sudah sangat besar dan sulit bergerak. Dia juga langsung mengambil posisi untuk duduk di sebelah Ana bahkan tubuh mereka seperti lengket.
__ADS_1
" Jordan, makan dengan begitu dekat begini mana nyaman? Geserlah sedikit! " Protes Ana mendorong tubuh Jordan pelan.
Jordan benar-benar tidak menyadari betapa kekanak-kanakannya dia, duduk begitu menempel seperti anak kecil yang tidak bisa jauh dari Ibunya. Jika di ingat kembali, Jordan sebenarnya memang agak tidak bisa mengontrol diri setelah tinggal terpisah dengan Ana. Tapinya mau bagaimana lagi? Semua itu benar-benar di luar kendalinya.
Di sisi lain, Soraya yang sudah mengikuti Jordan dan Ana sedari rumah sakit tadi kini juga berada di restauran yang sama, hanya saja dia memilih untuk duduk di ujung ruangan untuk mengamati Jordan dan Ana yang tampak menjijikan baginya menggunakan kaca mata hitam, rambut tergerai begitu saja tentu tidak akan mudah untuk dikenali oleh mereka berdua.
Tadinya Soraya ingin memeriksakan kembali kesehatan dirinya, lalu ingin berkonsultasi agar nanti dia bisa hamil saat menikah dengan Jordan, tapi sialnya dia harus melihat Ana dan Jordan yang bertingkah mesra sampai tak menyadari kalau sudah melintasinya. Segera Soraya mengikuti mereka hingga di tempat sekarang ini.
Tatapan matanya menajam melihat Ana dan Jordan yang seperti anak remaja saling jatuh cinta, kesal, dia benar-benar sangat kesal karena untuk pertama kalinya dia melihat wajah Jordan yang merona bahagia seperti sekarang ini, padahal dulu Jordan tak pernah menunjukan wajah itu sekalipun di hadapannya.
Dengan segera Soraya mengeluarkan ponselnya, lalu memotret Ana dan Jordan. Dia tidak mengirimkan photo itu ke siapapun hari ini, tapi dia akan mengumpulkan banyak bukti agar orang yang ingin dia kirimi photo itu percaya padanya.
" Tertawa lah kau, Ana. Aku yakin dalam hitungan waktu kau akan menangis meraung-raung mengemis kebahagiaan yang tidak akan pernah kau dapatkan. Ayahmu, dia tentu saja akan semakin mengekang mu, karena bagaimanapun cintanya terhadapku sangatlah besar sehingga minat Jordan atau mengingat namanya saja akan membuatnya merasakan pengkhianatan yang pada akhirnya membuatku hilang dari hidupnya. " Soraya tersenyum begitu yakin jika apa yang dia katakan benar. Boleh saja Kendra tidak mengakuinya, tapi Kendra yang selalu marah saay melihat Jordan, dan juga dirinya adalah bukti bahwa perasaan untuk Soraya sangatlah dalam dirasakan Kendra.
" Jordan, entah mengapa aku merasa gelisah tiba-tiba. " Ucap Ana memegangi dadanya dengan ekspresi tak tenang. Mengingat bagaimana pesan Dokter untuk terus menjaga mood Ana yang sedang hamil, segera Jordan mengusap punggung Ana dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
" Itu karena kau terlalu takut jika Ayahmu tahu, jangan terlalu di pikirkan ya? Aku yakin semua akan baik-baik saja, aku yakin kita bisa melewati ini bersama-sama. Sekarang tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, itu akan membantumu untuk tenang. "
Saat Ana sedang melakukan itu, Jordan dengan tatapan tajam menoleh ke ujung ruangan. Iya dia menyadari jika itu adalah Soraya yang sedang mengamati mereka meski matanya di tutupi kaca mata hitam. Dia juga menyadari jika Soraya sempat mengambil photonya, yah jelas lah akan dikirimkan kepada Kendra agar Kendra bergegas membuat batasan lagi agar dia dan Ana berpisah. Tidak masalah, biarkan saja Kendra tahu apa yang terjadi antara Ana dan dirinya, ini bukan lagi masalah yang bisa di tunda selama mungkin karena cepat atau lambat hasilnya juga akan sama saja.
Soraya, apa kau tidak menyadari jika sekarang kau benar-benar bertingkah bodoh? Aku sungguh tidak bisa melakukan apapun padamu karena menganggap hutang Budi ini tak bisa di gantikan. Tapi, aku memiliki hak atas hidupku, aku memiliki seseorang yang lebih penting untuk aku nomor satukan. Maaf tidak bisa terus menjadi boneka mu, sekarang aku harus menjadi suami juga Ayah untuk keluargaku.
Jordan kembali menatap Ana yang sepertinya sudah terlihat tenang.
" Bagaimana sekarang? " Tanya Jordan sembari mengusap kepala Ana dengan lembut.
" Aku sudah lebih baik. "
Soraya tidak tahan lagi melihat kemesraan mereka, dadanya benar-benar panas karena terbakar oleh kecemburuan sehingga memilih untuk bangkit dan pergi dengan kekesalan akibat rasa cemburu.
Bersambung.
__ADS_1