
Ana terdiam di depan pintu kamar rumah sakit dimana Jordan sedang di rawat. Saat dia datang Jordan sedang tertidur setelah dia tidak sengaja mendengar percakapan Dokter dan Ibunya Jordan beberapa saat lalu bahwa Jordan terus memberontak ingin meninggalkan rumah sakit sehingga Dokter terpaksa memberikan suntikan yang membuat dia tenang agar bisa istirahat.
Sejujurnya dia ingin menemui Jordan dan bicara sebentar, tapi karena disana ada Soraya, sementara Ibunya Jordan dan Ayahnya sedang berada di ruangan Dokter, Ana tiba-tiba merasa jika akan lebih baik bila dia tidak berada di sana. Memang dia tidak tau seberapa dalam hubungan serta perasaan yang dimiliki Jordan kepada Soraya, tapi dia merasa ragu dan memilih untuk pergi saja, tapi sebelum itu dia ingin melihat wajah Jordan yang tertidur lelap dahulu. Barulah saat dia merasa cukup puas dia bergegas berbalik badan dan meninggalkan kamar dimana Jordan di rawat.
Hiduplah dengan baik, Jordan. Maaf karena aku harus mengingkari janjiku.
Dengan langkah kaki cepat dan hatinya yang terasa begitu berat Ana melangkah menuju pintu keluar. Sesampainya di luar Ana memukul dadanya yang terasa begitu sesak, dia berharap pukulan itu mampu melegakan dirinya, tapi ternyata tetap saja terasa sesak mengingat apa yang terjadi ini. Dia ingat benar saat Jordan pingsan waktu itu, ingin berlari menolong Jordan, tapi pelukan Ayahnya mencegahnya, dan dia hanya bisa melihat Soraya meminta bantuan satpam rumah untuk membawa Jordan kerumah sakit.
Tidak ingin bohong dengan mengatakan dia baik-baik saja, nyatanya dia juga cukup terguncang dengan hal itu. Entah apa yang akan terjadi dengan masa depan Soraya dan Jordan nantinya, tapi Ana benar-benar berharap mereka tidak akan pernah bersama sampai kapanpun. Mungkin permintaan dan harapan di dalam hatinya terdengar egois, tapi dia juga tidak mungkin membohongi sang pemilik kehidupan kan?
Beberapa saat kemudian, Ibu dan Ayahnya Jordan kembali ke ruangan dimana Jordan di rawat. Baru Ibu akan meraih handle pintu, sepatunya tak sengaja menginjak sesuatu, dan dengan dahi mengeryit dia membungkuk meraih benda yang tak sengaja ia injak.
" Gelang siapa ini? " Tanya Ibunya Jordan sembari melihat dengan jelas gelang emas berwarna putih dengan model rantai mirip seperti yang sering di gunakan anak muda jaman sekarang.
" Mungkin milik perawat Bu. " Ujar Ayahnya Jordan.
Ibunya Jordan menghela nafas, sudahlah, dia pikir biarkan saja nanti gelang itu di dalam ruangan Jordan dan bagi yang kehilangan nanti juga akan mencarinya sendiri.
" Kau masih disini? Bukanya aku meminta mu untuk pergi? " Ibunya Jordan menatap Soraya tak suka, memang sebal karena begitu membuka pintu yang dia lihat malah Soraya, wanita yang sudah membuat anaknya jadi seperti ini.
" Maaf, Bibi. Aku hanya tidak tega meninggalkan Jordan sendirian, jadi aku pikir akan menemani Jordan sampai dia benar-benar sadar nanti. "
__ADS_1
" Kau tidak perlu repot-repot, ada kami yang akan menjaga, jadi pergilah sana! "
Soraya terdiam dengan wajah sedihnya, dia menganggap semua ini terjadi karena Jordan harus menikah dengan Ana, sehingga menjadikan posisinya sebagai Ibu mertuanya Jordan, lalu menganggap apa yang dia lakukan adalah hal yang tidak pantas.
Tanpa sadar rupanya Jordan sudah mulai membuka mata dan mendengar perdebatan itu meski berat matanya untuk terbuka.
" Ana..... "
Semua orang menatap ke arah Jordan dengan tatapan terkejut, segera Ibunya Jordan berjalan cepat menghampiri Jordan untuk melihat kondisi putranya. Ayahnya Jordan juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh istrinya. Sementara Soraya, dia benar-benar terkejut bukan main karena begitu sadar yang di sebut namanya oleh Jordan justru Ana yang sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya selama Jordan di rawat di rumah sakit.
" Jordan, kau sudah sadar nak? Bagaimana perasaan mu? Kau sudah lebih baik kan? Dokter bilang tidak ada luka yang serius, semua lebam ini akan hilang dalam beberapa hari ke depan. "
" Ibu, Ana dimana? Apa dia sudah datang? Apa dia sudah pulang karena aku tidur terlalu lama? " Tanya Jordan dengan nada suara yang terdengar lemah karena pengaruh obat penenang belum sepenuhnya hilang total.
" Dia tidak datang, Jordan. Saat kau pingsan akulah yang membawamu ke sini, aku juga ikut menjagamu, dia sama sekali tidak datang. Jordan, dia hanya akan mengikuti apa yang di katakan Ayahnya, jadi berhentilah mengharapkan kedatangannya. "
" Diam! Berani sekali kau bicara sembarangan. " Bentak Ayahnya Jordan yang tidak bisa lagi menahan kesal dengan Soraya. Jika boleh melampiaskan kekesalan, sungguh dia ingin menjadikan Soraya sebagai pelampiasan dari semua yang terjadi ini, tapi mengingat bahwa putranya juga bersalah, dia hanya bisa memendam kekesalan itu di dalam hati.
Jordan terdiam dengan wajah sedihnya, dia benar-benar berharap Ana datang menemuinya, ati setidaknya dia harus bangun dan menemui Ana agar bisa berbicara dengannya.
" Sudahlah, Jordan. Sekarang ini fokuslah dulu agar kau cepat pulih, nanti baru temui Ana setelah suasananya sedikit tenang. " Ucap Ibunya Jordan seraya meletakkan ponselnya, juga gelang yang ia temukan tadi. Jordan tak sengaja melihatnya, dan sontak Jordan mengingat dengan jelas siapa pemilik gelang itu.
__ADS_1
" Ibu, kenapa Bu berbohong?! Ana datang kan tadi? Kenapa Ibu tidak memberitahu mu?! "
Ibunya Jordan jelas menjadi kebingungan sendiri, sedari tadi dia tidak melihat Ana sama sekali jadi bagaimana dia berbohong dengan hal yang dia tidak tahu?
" Jordan, kau ini bicara apa? "
Jordan mengambil gelang itu dari meja dan menunjukan kepada Ibunya.
" Ibu, ini gelangnya Ana. "
" Apa? Tapi Ibu tidak melihat Ana sama sekali, gelang itu Ibu temukan di depan pintu. "
" Benar yang ibumu katakan Jordan, gelang itu ada di depan pintu kamar. " Ujar sang Ayah mencoba meyakinkan.
Soraya jelas tidak terima, padahal dia sudah susah payah melindungi Jordan dari amukan Kendra, membawanya ke rumah sakit, ikut menjaganya, tapi yang terus dia dengar malah nama Ana tiada henti.
" Jordan, pasti hanya mirip saja. Gelang seperti itu kan sangat banyak di produksi oleh beberapa toko perhiasan, bisa saja itu gelang milik perawat atau orang yang sedang lewat kan? "
Jordan yang merasa yakin mencoba meyakinkan semua orang dengan mencari pengenal dari gelang itu, dan ternyata benar-benar ada nama Ana di sana.
" Lihat, ini adalah gelang Ana! Disini ada namanya! Ana, dia datang melihat ku, dia ternyata perduli dengan ku. "
__ADS_1
Soraya mengepalkan kedua tangannya hingga kepalan tangan yang begitu kuat itu menjadi gemetar dengan tatapan mata yang menunjukan kecemburuan amat besar.
Bersambung.