
Jordan terdiam melihat Kendra yang kini berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan marah, masih menempatkan diri sebagai orang yang bersalah, dia tetap menerima saja saat Kendra memukulnya dengan sangat kuat. Ana yang begitu terkejut memekik kaget, sementara Jordan yang sempat terhuyung kini mencoba bangkit kembali dengan tegap. Memang pukulan kemarin, dan memar di wajahnya masih terlihat jelas sehingga rasanya lebih sakit yang di rasakan Jordan. Tapi ini sungguh tidak apa-apa, barangkali setelah memukul Jordan sampai puas bisa membuat Kendra sedikit lega.
" Ayah! Hentikan! "
Kendra menatap Ana yang terlihat begitu ketakutan.
" Hentikan? Pria brengsek ini sudah Ayah peringatkan agar tidak datang dan muncul di hadapan ku, tapi dia sama sekali tidak menghiraukannya, jadi jangan salahkan Ayah kalau menghajarnya bahkan sampai mati pun Ayah tidak akan perduli lagi! "
" Ayah! Jangan! " Ana menahan kepalan Ayahnya yang sudah akan kembali mendarat di pipi Jordan.
" Ayah, aku mohon jangan begini. '' Ucap Ana dengan tatapan memohon.
" Ana, kenapa ekspresi mu seperti ini? Kau ini kenapa?! Jangan bilang kalau kau jatuh cinta dengan bajingan ini, hah?! " Kendra menatap Ana dengan tatapan kecewa. Memang Ayah mana yang menginginkan putri satu-satunya yang dia cintai sepenuh hati jatuh cinta kepada lelaki yang sudah menjadi selingkuhan istrinya? Ayah mana yang rela anaknya memilih pria bajingan untuk hidup bersama? Bahkan jika Kendra kehilangan akal sekalipun, dia benar-benar tidak akan membiarkan Ana hidup bersama pria yang ia yakini amatlah brengsek.
Ana sempat gelagapan ingin menjawab karena dia merasa bingung. Cinta? Mungkinkah? Bukankah perasaan yang ia miliki bukan itu?
Kendra mendorong tubuh Jordan menjauh darinya, kini dia fokus menatap Ana sembari memegang kedua lengan Ana dengan tatapan serius.
" Katakan kepada Ayah, kau tidak mungkin jatuh cinta dengan bajingan ini kan? Ingatlah baik-baik Ana, dia adalah pria yang sudah tiga tahun menjadi simpanan Soraya, pria ini sudah tidur dengan rasa tidak bersalah selama itu, hanya bajingan brengsek yang bisa melakukanya! Pria seperti dia tidak akan bisa menahan diri dari godaan, dia hanya akan melukai mu, Ana! "
Ana menjadi gemetar karena nada suara yang penuh kemarahan dari Ayahnya. Memang benar Kendra sudah beberapa kali berbicara dengan nada membentak semenjak berpisah dengan Soraya, tapi tetap saja itu masih belum terbiasa untuk Ana karena yang ia tahu Ayahnya adalah pria yang begitu lembut dan juga pengertian.
__ADS_1
" A Ayah, a aku- "
Jordan bisa melihat bagaimana kuatnya tangan Kendra mencengkram lengan Ana sehingga reflek dia menjauhkan tangan Kendra dari sana.
" Maaf, tangan anda menyakiti Ana. "
Kendra tadinya ingin lagi memukul Jordan karena sudah berani menepis tangannya, tapi melihat dua lengan Ana yang memerah bekas cengkraman tangannya, dia jadi tersadar jika sudah melakukan kesalahan.
" Ana, Ana, maafkan Ayah. " Kendra memeluk Ana menyesali apa yang dia lakukan. Sungguh lagi-lagi dia kehilangan kontrol dan tanpa sadar menyakiti putrinya. Padahal dia sudah berjanji dengan mendiang istrinya, atau Ibu dari Ana dan juga dirinya sendiri tidak akan menyakiti Ana apapun alasannya. Sekarang dia merasa gagal, apalagi saat merasakan tubuh Ana yang gemetar, dia benar-benar ingin memukul dirinya sendiri hingga berdarah-darah kalau bisa.
" Kau pergilah sebelum aku kembali kehilangan kontrol! " Ucap Kendra kepada Jordan.
" Ana, jaga diri baik-baik. " Ucap Jordan seraya menatap Ana yang tak bisa menatapnya karena Kendra memeluk erat tubuhnya dengan wajah yang membelakangi Jordan. Sungguh sangat berat kakinya melangkah, tapi dia juga tidak bisa terus berada di sana karena dia sadar benar jika kehadirannya malah membuat Ana menjadi terluka.
Setelah kepergian Jordan, Ana yang merasa bersalah juga sudah melanggar janji akhirnya mengatakan jika tidak akan mengulang lagi. Entah apakah dia bisa menyanggupi janji itu atau tidak, yang jelas Ana sedang tidak bisa berpikir dengan baik sekarang.
Kendra kembali ke kamar dengan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan melalui kata-kata. Sebenarnya sebelum masuk ke rumah tadi dia sempat bertemu dengan Soraya dan bicara dengannya.
" Apa kabar, Kendra? " Tanyanya dengan mimik yang terlihat agak canggung.
Saat itu Kendra benar-benar tidak habis pikir karena setelah melihat Soraya, dia juga melihat mobil Jordan yang terparkir di pinggir jalan. Sepertinya Soraya tahu kalau Kendra menyadari adanya mobil Jordan sehingga dia terlihat kesal jadi Soraya memanfaatkan momen itu agar menguntungkannya.
__ADS_1
" Ana sedang bersama Jordan sekarang, dan kau tahu? Jordan bahkan baru saja bersamaku, hanya karena aku tidak setuju dengan keinginanya dia langsung menemui Ana, aku kasihan sekali karena Jordan menganggap Ana adalah cadangan saat aku tidak mengiyakan keinginanya. "
Kendra menatap Soraya dengan tatapan marah, mungkin di mata orang lain Ana hanyalah gadis biasa dengan wajah biasa-biasa saja, tapi dia sebagai Ayahnya Ana, pria yang membesarkan Ana sendirian tentu saja tidak terima jika putri tersayangnya hanya di anggap sebagai ban serep oleh pria brengsek seperti Jordan.
" Terserah kau mau bilang apa, mulai sekarang jangan sekalipun kau muncul di hadapan putriku, atau di rumahku. Kau hanya ingin hidup bahagia dengan bajingan itu kan? Kalau begitu kenapa datang kesini? Kenapa kau menolak keinginannya? Apakah kau sudah tidak mampu melakukanya sendiri? "
Soraya terdiam, sungguh dia kesal dan tak terima mendengar apa yang dikatakan Kendra, tapi sialnya dia juga harus menahan diri.
" Aku juga tidak ingin datang, tapi demi memastikan dugaan ku akhirnya aku sampai disini, oh! sekalian aku juga ingin mengambil hasil pemeriksaan terakhirku beberapa waktu lalu yang belum sempat aku baca. "
Kendra tersenyum mengejek.
" Oh, aku tidak sengaja membacanya, karena aku sudah membuangnya, maka akan ku beritahu padamu. Kau memiliki miom di rahimmu, dan jika kau ingin hamil kau harus menjalani beberapa prosedur yang cukup rumit, jadi sebenarnya kau juga percuma saja meminum pil penunda kehamilan selama ini. "
Soraya terdiam karena dia begitu terkejut. Tapi karena masih ada harapan untuk dia hamil di masa depan, dia jadi bisa sedikit lebih tenang.
" Tidak masalah, Jordan kan banyak uang, dia pasti bisa membantuku dengan mudah. Yah, meksipun sekarang dia sedang bermain dengan Ana, aku harus tetap sabar meksipun hatiku terluka. Intinya jika aku memerintahkannya untuk membuang Ana maka bukan tidak mungkin untuk Jordan lakukan. "
Kendra mengeraskan rahangnya. Dia berjalan maju, menyingkirkan tubuh Soraya yang menghalanginya hingga Soraya terjatuh begitu saja.
" Kendra, sejak kapan kau jadi sekasar ini?! " Protes Soraya sembari meringis kesakitan.
__ADS_1
Bersambung.