Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 44


__ADS_3

Kendra berjalan keluar dari kamar yang biasanya dia gunakan bersama Soraya dengan air mata yang sudah entah sebanyak apa. Langkahnya yang gontai pada akhirnya membuat tubuh tinggi besar itu menyadari di tembok sembari memegangi dadanya yang berdenyut sakit, sesak seperti terhimpit dua lempengan besi tubuhnya.


Bagaimana dia akan menghadapi Ana, bagaimana dia akan menjelaskan kepada Ana tentang hubungan Soraya yang gak lain adalah Ibu tirinya bersama dengan Suaminya. Bagaimana bisa dia mengatakan ini kepada Ana yang sedang hamil? Tidak! Dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik sekarang, rasa sesak yang terasa di dadanya seolah menuntut Kendra untuk melampiaskan kemarahannya terlebih dulu.


Setelah dia merasa lebih kuat dia segera berjalan menuju kamar yang di tempati Jordan dan Ana. Entah apa yang akan dikatakan Jordan saat dia memukulnya nanti, tapi sungguh sekarang ini dia hanya ingin memukul Jordan berkali-kali tidak perduli mati atau tidak.


" Jordan! " Panggil Kendra sembari mengetuk pintu dengan kasar. Sudah beberapa kali Kendra memanggil, tapi belum juga mendapatkan jawaban jadi dia putuskan untuk membuka pintu kamarnya. Hah! Sial! Ternyata pria itu sudah tidak berada di kamar lagi, entah Soraya sudah memberitahunya, atau memang dia beruntung terhindar dari amukan Kendra yang bisa saja akan fatal akibatnya.


" Brengsek! " Kendra memukul dinding tembok karena tidak tahan dengan emosi yang memuncah menggebu-gebu. Dia kesal, dia marah, dia kecewa, dia terluka, parah, parah sekali hingga Kendra yang biasanya begitu mudah membuat dirinya tenang begitu kesulitan kali ini.


" Kenapa? Kenapa seperti ini?! " Kendra meraih vas bunga yang ada di di dekatnya, posisi sekarang dia sudah keluar dari kamar Ana dan Jordan, dengan Skuat tenaga Kendra membanting vas bunga itu hingga membuat Soraya yang baru saja selesai mandi dan masih menggunakan jubah mandi segera berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


" Sayang? " Soraya menggelengkan kepala karena tidak sadar dengan cara memanggil Kendra.


" Kendra, kenapa kau seperti ini? "

__ADS_1


Soraya berniat mengulurkan tangan menyentuh lengan Kendra, tapi segera pria itu menepis dengan kuat tangan Soraya. Matanya yang tajam mengancam membuat Soraya membeku dengan hati yang begitu sakit, padahal dia hanya berniat untuk sedikit menenangkan, tapi perlakuan Kendra justru membuat hatinya begitu merasa tak di hargai.


" Kau, kenapa kau begitu brengsek?! " Kendra menatap semakin tajam, kedua bola mata yang memerah itu seperti menumpahkan segala amarahnya yang tak terbendung, kepalan tangannya yang mengeluarkan darah segar akibat luka benturan dinding tadi gemetar begitu kuat. Bukan sakit yang di rasakan oleh Kendra, tapi tangannya sedang menahan sebisa mungkin agar tidak memukul Soraya.


" Kendra, kau ini kenapa? " Tanya Soraya yang semakin bingung di buatnya.


Habis sudah kesabaran yang dimilki Kendra, dia melangkah maju meraih dagu Soraya, mencengkeramnya dengan kuat tak perduli jika Soraya berdesis menahan sakit. Tangannya yang mencoba menjauhkan tangan Kendra nyatanya tak ada pengaruhnya sama sekali, justru cengkraman tangan Kendra semakin kuat hingga Soraya gemetar ketakutan. Dulu, jangankan melakukan hal yang menyakitkan ini, melotot saja Kendra benar-benar tidak pernah melakukannya.


" Kau dan bajingan itu benar-benar brengsek! Apa kau menikmatinya, hah?! Kau pasti sangat senang bisa tinggal bersama selingkuhan mu, diam-diam kalian berhubungan melakukan apa yang ingin kalian lakukan kan?! Kau puas?! Apa tidak cukup mempermainkan perasaan ku saja?! Kenapa juga harus perasaan putriku juga! Dia adalah hidupku, Ana adalah segalanya bagiku! Kenapa kalian melakukan itu padanya?! Kenapa tidak aku saja?! Brengsek! Kau sama saja bajingan! " Kendra menghempaskan tubuh Soraya ke lantai, entah dia sendiri benar-benar tidak tahu kenapa dia begitu tak berperasaan jari itu. Bahkan jelas dia melihat Soraya menangis, dia juga memegangi lututnya yang merah karena terbentur lantai, tapi Kendra hanya memicingkan mata merasai nafasnya yang menderu karena kemarahan yang tidak bisa dia tahan.


" Kau boleh saja menyakiti perasaanku, aku sudah menerima harga diriku kau injak-injak, aku sudah menerima alasan ketidakbahagiaan mu bersamaku yang begitu jelas bahwa aku tidaklah berarti di dala hidupmu. Tapi, putriku yang aku besarkan seorang diri, putriku yang selalu bersamaku, menemani ku dan bertahan menjalani kehidupan melarat ku dulu juga kalian sakiti, aku tidak bisa menerimanya. Aku, adalah seorang Ayah yang sangat mencintai putrinya lebih dari pada apapun, demi Tuhan aku akan membalasnya! Aku tidak akan pernah membiarkan mu, atau pria itu datang ke kehidupan kami. Kau lihat saja Soraya, aku tidak main-main dengan kata-kataku. Aku beri kau waktu sepuluh menit, tinggalkan rumah ini, bereskan semua barang mu tanpa terkecuali. " Ucap Kendra kemudian berjalan meninggalkan Soraya yang masih duduk di lantai sembari menangis.


***


Jordan sudah tiba di kantor pagi-pagi sekali. Dia Sengaja berangkat lebih pagi karena tidak ingin bertemu dengan Soraya karena jelas Soraya begitu berusaha menemuinya sedari semalam. Nomor telepon Soraya juga sudah dia blokir jadi tidak akan bisa Soraya menghubunginya lagi dengan nomor yang sama.

__ADS_1


Sekarang sudah pukul delapan, tadinya dia ingin pergi bersama Ayahnya untuk menemui salah satu investor yang tidak lain adalah sepupu Ayahnya sendiri. Tapi, ketika dia melihat pesan yang dikirimkan Ana kepadanya, Jordan jadi memilih untuk menemui Ana. Pukul dua siang Ana meminta Jordan untuk menjemputnya, tapi entah mengapa Jordan malah ingin segera menemui Ana, lagi pula menuju ke tempat Ana berada juga butuh satu setengah jam dari sekarang.


Setelah mengantongi izin dari Ayahnya, segera Jordan menuju di mana Ana berada menggunakan mobilnya. Tepat satu jam setelah kepergian Jordan Kendra datang ke perusahaan dimana Jordan bekerja, tapi karena mendapatkan informasi jika Jordan sudah keluar dari perusahaan beberapa data lalu, Kendra hanya bisa menunda niatnya hingga mereka bisa di pertemukan nanti.


Jordan memandangi Ana yang kini sedang bercanda ria dengan sahabatnya. Dia benar-benar terlihat sangat bersemangat layaknya anak muda seusianya tidak seperti jika bersama dengannya, dimana Ana akan terlihat memaksakan diri menjadi sangat dewasa, dan cara berpikir yang menakutkan serta tatapan matanya yang tajam menekan lawan bicaranya begitu terasa.


Ditengah-tengah kegiatannya dia baru sadar jika ternyata pria yang sedari tadi menatapnya adalah Jordan, dengan segera dia berlari untuk menghampiri Jordan.


" Jordan? " Ana tersenyum sembari mendekat padanya.


" Kau sudah dari- " Ucapan Ana terhenti karena Kendra menghubunginya.


" Ayah? Ada apa? Apa?! Berpisah apa? Halo, Ayah? "


Jordan menatap terkejut, berpisah? Apakah sungguh Soraya sudah mengatakan semuanya kepada Kendra? Dengan segera Jordan meraih ponsel Ana, lalu memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


" Jordan, apa yang kau lakukan? "


Bersambung.


__ADS_2