
Jordan terdiam dengan perasaan sedih setelah cukup lelah berteriak memanggil nama Ana di depan pintu gerbang rumahnya Kendra alias Ayah mertuanya sendiri. Sudah satu jam lebih Jordan berdiri di sana berharap Ana akan keluar untuk menemuinya, entah alasan atau bukan, satpam rumah Ana mengatakan jika Ana pergi keluar hari ini bersama dengan teman-temannya.
" Tuan Jordan, bagaimana kalau Tuan pulang saja dulu dan kembali nanti? Ini sudah lama Tuan berdiri di sana, lelah pasti kan? " Ucap satpam rumah Ana. Sebenarnya dia hanya berbohong saja saat mengatakan jika Ana pergi, karena dia tahu benar bagaimana Kendra melarang Ana menemui Jordan, dan karena tidak tega minat Jordan terus menunggu di sana terik matahari begitu menyengat jelas bisa di rasakan Jordan, wajahnya juga memucat seperti orang yang kelelahan membuat satpam itu mengatakan kebohongan agar Jordan kembali dan istirahat lebih dulu.
" Aku tahu kau berbohong, jadi tolong biarkan aku bertemu Ana sebentar saja, sepuluh menit, atau lima menit juga cukup. "
Satpam itu tertunduk tak berdaya, sungguh dia kasihan melihat bagaimana ekspresi Jordan seperti sangat kasihan dan memohon. Apalagi wajahnya yang pucat dan masih ada bekas lebam membuat Jordan seperti sangat kesakitan Meksi suaranya masih terdengar lantang tak bergetar seperti orang sakit.
" Maaf ya Tuan Jordan, saya hanya mengikuti perintah Tuan Kendra saja. " Ucapnya pasrah karena tak mungkin juga terus berbohong.
Baru saja sekitar dua atau tiga langkah Jordan melangkahkan kaki, tiba-tiba Jordan merasa pusing hingga pada akhirnya di jatuh pingsan begitu saja. Untung saja satpam melihat kejadian itu dan segera menolong Jordan, membawanya masuk karena tidak mungkin membuatkan Jordan di luar rumah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan hati-hati satpam itu mendudukkan Jordan di teras rumah.
Ana, sebenarnya sedari tadi dia tahu berapa kali Jordan memanggil namanya, memintanya untuk keluar dan bicara sebentar saja, atau mengizinkan Jordan agar melihat wajahnya. Tapi, larangan keras yang di berikan Ayahnya seperti menjadi penghalang bagi Ana untuk memenuhi keinginan Jordan. Benar, dia tidak bisa berbohong karena dia juga ingin melihat bagaimana keadaan Jordan sekarang ini. Karena tak bisa keluar dari rumah sama sekali, jadilah Ana hanya bisa terus memperhatikan Jordan diam-diam dari jendela kamarnya, dia juga melihat dengan jelas saat Jordan pingsan tak jauh dari gerbang sehingga dia tanpa pikir panjang sejenak lupa dengan janjinya kepada Kendra untuk tidak menemui Jordan.
" Jordan! " Panggil Ana yang terkejut melihat Jordan sedang duduk tak sadarkan diri di sofa yang berada di teras rumahnya.
" Pak, tolong bantu aku angkat Jordan masuk ya? "
__ADS_1
Satpam itu sebenarnya agak ragu-ragu karena takut kesalahan, tapi mau menolak juga tidak bisa karena yang meminta bantuannya adalah anak dari Tuannya. Segera Satpam itu membantu Ana memapah tubuh Jordan sampai ke dalam, dan merebahkan di sofa ruang tamu yang jelas lebih lega dan lebih panjang sehingga lumayan nyaman untuk Jordan berbaring di sana.
" Pak, tolong ambilkan minyak angin di ruang tengah ya? " Pinta Ana.
Dia menghela nafas sedih melihat bagaimana pucatnya wajah Jordan, lebam di pelipis, pipi, juga sisi bibirnya juga masih terlihat nyata. Tak menampik perasaan sedih, Ana tanpa sadar mengerakkan jemarinya mengusap luka-luka yang ada di wajah Jordan dengan tatapan pilu. Dia ingat benar hari dimana Kendra memukul Jordan berkali-kali, dan Jordan juga nampak sekali tak ingin membalas dan pasrah saja dengan apa yang ingin di lakukan Kendra saat itu.
" Kenapa kau pucat sekali? Tidak mungkin karena di pukuli Ayahku kan? " Gumam Ana bertanya tapi juga tak mengharapkan jawaban apapun. Segera setelah satpam kembali kesana, Ana menghirupkan minyak angin itu kepada Jordan. Cukup lama usaha Ana membuat Jordan sadar, dan akhirnya Jordan mula mengernyitkan dahi dan perlahan membuka matanya.
" Ana? " Tidak seperti orang pingsan, Jordan justru seperti begitu segar saat bangun dan melihat Ana di sana. Segera dia bangkit dan memeluk erat-erat tubuh Ana. Ya, ini adalah perasaan rindu kepada Ana yang tanpa sadar sudah ia rasakan selama beberapa hari ini.
" Jordan, kalau kau sudah baikan lebih baik kau pulang saja, Ayahku sebentar lagi akan segera kembali ke rumah, ini tidak baik untuk kita semua, jadi segeralah pulang. " Pinta Ana tak berani menatap Jordan yang terus menatapnya dengan tatapan yang terlihat sedikit kecewa.
" Ana, kalau Ayahmu datang aku akan bicara, aku akan meminta, maksudnya aku akan memohon agar di berikan kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga kita ini. "
Ana membuang nafas kasarnya, tapi dia juga masih tak berani menatap Jordan. Sebenarnya dia juga ingin, tapi sekarang hati Jordan benar-benar bisa bisa dia baca dengan jelas, jadi akan lebih baik kalau mengikuti waktu sembari menilai bagaimana dan apa yang di pikirkan serta di rasakan hatinya Jordan Semarang ini. Tujuannya ya tentu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan Ana di masa depan jika salah mengambil langkah dan malah menghancurkan hidupnya nanti.
" Jordan, pulang lah saja dulu. Saran ku lebih baik kau tinggal bersama kedua orang tuamu, kau terlihat sangat pucat, kau pasti belum pulih dan butuh orang lain untuk bantu mengurus mu. "
__ADS_1
Jordan terdiam sebentar, dia ingat benar jika selama beberapa bulan ini Ana lah yang mengurusnya. Mulai dari menyiapkan baju kerja Meksi kadang tidak cocok, menyajikan makanan, juga Ana lah yang memenuhi kebutuhan psikologis nya. Sekarang kembali ke rumah orang tuanya tentu saja tidak akan mengubah keadaan Jordan yang pasti akan merasa sulit begitu jauh dari Ana. Ah, tiba-tiba dia jadi ingat kalau dia belum makan apapun hari ini, sukanya perutnya berbunyi ketika Ana menatapnya dan Ana mendengar suara keroncongan perutnya.
" Kau lapar? " Tanya Ana.
Jordan mengangguk meski awalnya dia sempat merasa ragu. Mungkin selama di rumah sakit dia tidak begitu merasa lapar karena cairan infus kan terus masuk ke dalam tubuhnya. Tapi begitu keluar dari rumah sakit dia malah merasakan selera makannya yang aneh sehingga sulit untuknya menakan makanan dan menjadikannya energi untuk mejalani aktivitas.
" Aku tidak bisa memakan apapun, aku sangat lapar tapi perutku sulit menerima makanan yang aku makan. "
Ana terdiam sebentar, dia bangkit dari duduknya.
" Tunggu disini. "
Ana berjalan menuju dapur dan megambil nasi beserta lak dan sayuran yang di masak pembantu di sana. Setelah itu Ana kembali dengan sering makanan, dan duduk di samping Jordan.
" Buka mulutmu. " Ana menyodorkan sesendok makanan untuk Jordan.
Bersambung.
__ADS_1