Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 108


__ADS_3

Soraya berjalan masuk ke dalam rumah, dia menuju dapur untuk membuat susu hamil untuknya, lalu membuat secangkir teh hangat untuk Rigo. Sebenarnya dia masih tidak ingin berinteraksi apapun dengan Rigo, tapi melihat wajah melasnya dia merasa kasihan juga hingga berharap segelas teh hangat yang ia buat bisa sedikit mengurangi raut wajah sedih pria itu.


" Ini untukmu. " Ucap Soraya seraya menyerahkan secangkir teh hangat untuk Rigo membuat pria itu tersentak karena ini pertama kalinya Soraya mau mengajaknya untuk bicara, karena selama ini Soraya memperlakukannya seperti tidak ada dia di sana.


" Terimakasih. " Ucap Rigo, tangannya mengambil cangkir itu, sebentar menatapnya dan menyeruput perlahan dengan hati-hati. Sungguh dia sama sekali tidak menyukai teh sebelumnya, tapi hari ini rasa teh itu cukup manis membuat dia sedikit merasa lebih baik.


Soraya menghela nafas, sebenarnya dia masih merasakan kesal terhadap Rigo, tapi bisa apa dia kalau nyatanya Rigo juga memberikan sesuatu yang sangat sulit untuk dia dapatkan yaitu, bayi di dalam perutnya. Sudahlah, memikirkan kekesalan malah hanya akan memupuk kebencian dan itu jelas tidak baik karena bagaimanapun Rigo adalah Ayah dari bayinya.


Rigo terdiam, saat ini dia tidak lagi memikirkan soal Lisa, tapi dia tiba-tiba teringat bagaiman kejamnya dia menyiksa Soraya kala itu. Dengan sengaja tidak memberikan makan atau minum dan menghajarnya tidak perduli pagi, siang atau malam. Dia mengabaikan wajah pucat Soraya, dia mengabaikan Soraya yang merintih memohon untuk di lepaskan. Sekarang, Soraya tengah mengandung anaknya, meski dia tidak begitu perduli tentang anak itu, tapi Soraya adalah orang yang sudah dia sakiti dan menjadi target salah sasaran olehnya. Sesuai dengan keinginan Lisa, dia akan memperlakukan Soraya dengan baik. Meski tidak bisa sebagai seorang suami, setidaknya sebagai sahabat juga bisa kan?


" Hari ini tolong beli sayuran ya? Kau pasti suntuk di rumah saja terus kan? Saat kau jalan nanti jangan lupa lihat ke sebelah kiri, beberapa langkah kau bisa melihat dua sisi kanan dan kiri, nikmati apa yang bisa kau lihat mungkin saja itu bisa membuat penat yang kau rasakan sedikit berkurang. " Setelah mengatakan itu Soraya beranjak pergi, ini sudah lewat jam makan siang, dia juga belum tidur siang jadi dia harus pergi untuk mengerjakan apa yang seharunya dia lakukan.


Rigo terdiam, dia memikirkan apa yang di ucapkan Soraya bahwa memang benar beberapa hari setelah mereka sampai di sana, Rigo hanya diam saja di kamar, paling jauh dia akan pergi ke teras rumah yang dinding dan pembatas nya menggunakan kayu untuk menikmati udara yang segar dari sana. Setelah menghabiskan teh nya, Rigo bangkit untuk keluar rumah, ini pertama kalinya dia keluar untuk membeli sayuran. Tidak usah pusing kebingungan mencari jalan, karena rumah yang mereka tempati ada di ujung jadi satu-satunya arah untuk membeli sayur pasti ada di arah yang biasa Soraya lewati.


Rigo berjalan pelan, dia sebenarnya agak merasa ngeri seram karena perumahan di sana jaraknya sangat jauh, di tambah banyak sekali pepohonan besar tinggi yang membuat hawa mistis teringat di kepalanya. Ah, tapi bagaimana bisa dia merasa takut seperti ini kalau Soraya saja yang wanita dan sedang hamil berani mondar mandir dari jalan yang sama dengan jalan yang ia lewati.

__ADS_1


Benar apa yang di katakan Soraya, ternyata ada hal yang sangat indah yang dia lewati. Tebing tinggi, memang sangat curam dan menyeramkan, tapi melihat dari atas ke bawah benar-benar membuat hai tenang. Apalagi ada sungai kecil di sana yang jernih, benar-benar pemandangan alam yang luar biasa. Beberapa langkah Rigo kembali berjalan, dia kembali melihat indahnya air terjun yang menyemburkan hawa sejuk.


" Aku terlalu sibuk bersedih rupanya, ternyata ada banyak hal yang menyenangkan dan menenangkan disini. " Gumam Rigo lalu tersenyum dengan hati yang lumayan tenang.


***


Moana tersenyum senang setelah menyelesaikan kegiatannya yaitu, memasak salah satu makanan yang di sukai oleh Kendra. Sengaja hari ini Moana memasak itu karena hari ini dia sama sekali tidak ada hal yang mau di kerjakan, sekalian dia ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya nanti.


Ah, senangnya karena sekarang dia sudah menikah dengan Kendra, hal yang dulu tak pernah berani ia bayangkan meski rasa cinta untuk Kendra sangatlah besar. Memang tidak tahu apakah Kendra mengizinkan datang kesana atau tidak, tapi yang paling penting adalah memasak saja dulu, baru nanti kalau tidak di perbolehkan ya dia hanya bisa menggunakan jasa pengantar untuk mengantarkan ke suaminya di sana.


Benar saja, Moana berdandan se-rapih mungkin dengan riasan wajah yang terbilang natural. Dia menggunakan dress polos sepanjang lutut yang terlihat sangat cocok untuk warna kulitnya. Dengan perasaan bahagia dia menjinjing kotak makanan yang akan dia bawa sampai ke tempat suaminya bekerja.


Tak butuh waktu lama, Moana kini sudah sampai di supermarket khusus tekstil milik Kendra, lalu berjalan masuk ke dalam, beberapa kali di menyapa pegawai yang dulu adalah teman kerjanya. Tatapan mereka bingung, tapi mereka memilih diam karena belum lama mereka baru tahu kalau Moana itu adalah adiknya Soraya yang artinya adalah adik ipar dari Bos mereka. Karena dia anggap keluarga, tidak satupun dari mereka yang melarang Moana untuk terus berjalan naik ke tangga untuk menuju ruangan Kendra.


" Moana ya? " Sapa salah satu pegawai yang berjaga di lantai dua.

__ADS_1


Moana tersenyum ramah.


" Iya, apa kabar? "


" Baik, bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu, kau mau cari pak Kendra ya? "


" Aku juga baik, pak Kendra nya ada di dalam? " Tanya Moana masih dengan wajah ramahnya.


" Kalau tidak salah pak Kendra bilang pergi ke ATM sebentar deh. Soalnya tadi ada pegawai yang kasbon, tapi karena tidak punya rekening Bank jadi terpaksa pak Kendra ke ATM dulu. "


Moana mengangguk paham.


" Kalau begitu, aku tunggu di dalam sana ya? "


Pegawai itu mengeryit melihat Moana yang sudah meninggalkannya dan masuk ke dalam ruangan Kendra. Moana tersenyum begitu masuk ke dalam sana, masih sama seperti dulu, ruangannya tetap rapih, bersih dan segar karena ada pewangi ruangan di sana. Moana duduk bersebrangan dengan kursi yang biasa di gunakan oleh Kendra. Cukup lama dan Kendra belum juga kembali, merasa bosan dan tidak ada yang bisa dia lakukan, Moana mengeluarkan ponselnya berniat ingin menonton video di internet. Tapi karena ponselnya kehabisan baterai, Moana jadi agak lancang sehingga membuka laci Kendra berharap menemukan pengecas di sana. Terlalu banyak barang di dalam sana, ada pena, beberapa lembar kertas seperti nota pesanan, sehingga Moana mencari semakin ke bawah sehingga tidak sengaja menemukan photo Kendra bersama Ana dan Soraya yang nampak begitu harmonis membuat Moana tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2