
Setelah mengantarkan kedua orang tua Soraya ke rumah sakit, Ana meminta izin untuk membeli perlengkapan bulanan miliknya yang sudah habis, jadi tidak bisa menemani Moana dan juga Ayahnya.
Entah ini akan menjadi prasangka buruk untuknya atau tidak, tapi Ana merasa sesak setiap kali menatap kedua orang tua Soraya, atau orang tua dari Ibu tirinya yang sebentar lagi akan menjadi orang asing untuknya. Dia sesak karena setiap kali haus mengingat betapa bahagianya mereka dulu, orang tua Soraya yang ia anggap sebagai nenek dan kakeknya, dia memeluk mereka dengan bahagia, dia juga ingat benar pelukan hangat dari Soraya, semua kenangan indah itu kini terasa menyakitkan untuknya.
Ana mengentikan langkah kakinya, dia baru ingat kalau di rumah sakit ini juga Jordan sedang di rawat, dan beberapa langkah di hadapannya adalah tempat Jordan berada. Haruskah dia melihat keadaan Jordan sekarang? Tidak, begitu mengingat Ayahnya keinginan itu harus cepat dia kubur dalam-dalam.
Ana membalikkan tubuhnya, dia yang tidak siap bertemu dengan Jordan tentu harus segera pergi dari sana sebelum dia berubah pikiran.
Deg!
Ana terdiam membeku di sana, matanya tertuju pada satu sosok yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya, dan kini sudah menjadi berada di hadapannya saat dia membalikkan tubuhnya.
Greb!
Dia memeluk Ana, membuat Ana tersentak tapi juga tak bisa melepaskan diri dari pelukan yang amanat erat itu.
" Akhirnya kau datang juga. " Ucapnya, dia adalah Jordan yang baru keluar untuk menemui Dokter yang menanganinya dan meminta agar hari ini di ijinkan untuk keluar dari rumah sakit. Bisa saja dia kabur dari sana untuk menemui Ana, tapi masalahnya kedua orang tuanya sama sekali tidak memberikan izin untuk dia keluar sebelum Dokter menyatakan dia sudah sembuh total dan bisa keluar dari rumah sakit. Tapi beruntungnya dia karena begitu ingin kembali ke kamarnya dia melihat sosok seperti Ana dari belakang, dia terus mengamatinya hingga Ana berhenti dan terdiam beberapa saat, barulah saat Ana berbalik dia bisa tersenyum dan merasa bahwa itu bukanlah khayalannya saja.
__ADS_1
Ana masih terdiam karena bingung, bagaimana bisa ada kebetulan yang seperti ini? Bagiamana bisa Jordan malah berada di luar tepat di saat dia berada di sana?
" Ayo kita temui Ayahmu, aku akan memohon agar dia memberikan kita kesempatan untuk bersama. " Ucap Jordan setelah mengurai pelukannya, menangkup wajah Ana dengan tatapan penuh harap. Sejujurnya Ana sendiri tidak tahu apa dan bagaimana dia akan bereaksi karena dia tidak menyangka kalau Jordan masih akan memiliki niat untuk bersama dengannya. Kenapa? Padahal hidup bersama Soraya adalah keinginannya selama ini kan? Bukankah dia juga masih melihat tatapan cinta saat Jordan menatap Soraya? Mengapa? Mengapa Jordan malah memilihnya? Apakah karena Jordan tidak sanggup menghadapi kemarahan orang tuanya jika dia memilih Soraya? Ataukah dia tidak akan sanggup menghadapi penghakiman dari masyarakat?
" Ana, kenapa kau diam saja? Kau setuju dengan apa yang aku katakan kan? " Jordan menatap kedua bola mata Ana mencari maksud diamnya Ana. Sungguh itu membuat Jordan tak bisa berkata-kata karena yang dia lihat adalah ketidakpastian yang mungkin akan berakhir dengan kata tidak.
Ana menyingkirkan pelan kedua tangan Jordan dari wajahnya. Dia juga masih menatap Jordan dengan pemikirannya sendiri.
" Jordan, tanyakan dulu pada hatimu apa yang kau inginkan. Aku paham kau takut dengan murkanya orang tuamu, aku tahu kau tidak siap dengan cara orang lain menatap mu setelah apa yang terjadi, kau tidak boleh menggenggam ku hanya untuk melindungi dirimu sendiri, Jordan. "
" Ana, aku- "
Jordan terdiam.
" Sekarang sudah tidak ada penghalang di antara kalian, dan aku yakin sekali saat dulu kalian menyusun rencana kehidupan kalian berdua, kalian tidak memikirkan orang lain kan? Orang tuamu, orang tuanya Ibu Soraya, kau tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka kan? Perubahan hatimu bukan karena kau ingin bersamaku dengan tulus, kau hanya sedikit memiliki perasaan dan empati terhadap orang yang mungkin akan terluka. "
Jordan terdiam tanpa bisa berkata. Benarkah apa yang dikatakan Ana? Iya dia memang tidak sanggup melihat orang tuanya kecewa, dia merasa sedih juga melihat kedua orang tua Soraya kalau sampai dia dan Soraya bersama. Tapi, dia memiliki perasaan yang tidak bisa dia mengerti. Dia tidak ingin berpisah dengan Ana, apakah perasaan itu benar karena dia takut perasaan orang tuanya terluka? Mungkinkah seperti itu?
__ADS_1
" Pikirkanlah baik-baik, Jordan. Jangan kau ikuti keinginan mu dan bersikeras bersamaku kalau pada akhirnya nanti kau tetap tidak akan bisa menghapus nama Soraya dari hatimu. Aku ini hanya wanita sembilan belas tahun yang kurang mengerti bagiamana menyenangkan laki-laki, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa kau akan tetap mencari Soraya suatu hari nanti. "
Ana menjauhkan tubuhnya dari Jordan. Entah mengapa setelah mengatakan itu dadanya terasa begitu sakit dan sesak hingga dia tidak sanggup melihat Jordan lebih lama lagi.
" Aku harus pergi, Jordan. Semoga kau cepat sembuh, dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Sampaikan salam ku kepada Ayah dan Ibumu. "
Jordan masih terdiam tak bisa berkata-kata, dia terus menatap Ana yang menjauh. Rasanya dia ingin menggerakkan tangannya, meraih tangan Ana, menggenggamnya, dan memeluk erat-erat untuk kembali memohon agar mereka bisa tetap bersama. Tapi, dia takut jika apa yang dikatakan Ana benar adanya. Dia takut kalau suatu saat nanti dia akan menemui Soraya dan mengulang kisah lama ketika dia bersama dengan Ana.
" Bagaimana aku bisa memahami diriku sendiri? " Tanya Jordan kepada dirinya sendiri, tatapan matanya masih tetap mengikuti kemana Ana melangkah pergi hingga tanpa sadar air matanya jatuh.
Ana, dia sama sekali tidak mengerti mengapa rasanya sakit sekali melihat tatapan Jordan tadi. Dia serasa ingin memeluk Jordan padahal dia sendiri tidak tahu apa yang di rasakan Jordan. Jujur saja, mengatakan semua kalimat itu juga membuat jantungnya berdegup kencang, di dalam hati berharap jika itu hanyalah dugaannya saja. Mungkinkah dia tanpa sadar sudah jatuh cinta kepada Jordan? Ataukah perasaan itu hanya sebatas perasaan tidak rela karena takut pada akhirnya Soraya lah yang akan menang?
Deg!
Ana mengentikan langkahnya, mengingat bahwa Soraya lah yang akan bahagia sendiri pada akhirnya membuat Ana tidak rela. Ana mengepalkan kedua tangannya, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk membuat dirinya sedikit lebih tenang.
" Bagaimana aku bisa membiarkan wanita yang sudah membuat Ayahku hancur bahagia begitu saja? " Ucap Ana ketika mengingat dengan jelas bagaimana Ayahnya menangis diam-diam sembari memukuli dadanya yang mungkin saja terasa begitu kesakitan.
__ADS_1
Bersambung.